Tokyo Cubo, Penginapan Kapsul dengan Konsep Ala Japang di Bandung


Bagiku Bandung selalu menjadi tempat pelarian yang tepat di akhir pekan. Kota ini mudah dijangkau dari Jakarta dan udara paginya jauh lebih segar dari pada udara pagi yang biasa aku resapi. Bandung adalah kota dengan banyak bangunan tua yang memanjakan mata. Aku suka itu. Kecintaanku pada Bandung bertambah karena di kota ini masih banyak orang-orang yang bikin aku bahagia saat bertemu dengan mereka.

Bandung menjadi kota favoritku untuk berakhir pekan, terutama saat tidak ada kegiatan berat dan hanya rebahan di penginapan alias staycation. Di kota ini ada beragam jenis penginapan dengan keunikan dan fasilitas mereka masing-masing. Salah satunya adalah Tokyo Cubo, sebuah penginapan kapsul dengan konsep ala Japang.

Lokasi

Tokyo Cubo terletak di Jalan Pendawa No. 2, Arjuna, Pasir Kaliki, Kota Bandung. Lokasinya sangat dekat dengan Stasiun Bandung, bahkan dari stasiun kita bisa mencapai Tokyo Cubo dengan berjalan kaki. Tokyo Cubo tidak berada di jalan utama Pasir Kaliki. Saat tulisan ini dibuat, kita bisa menjadikan bangunan Indomaret dan Restoran Rijstafel sebagai patokan lokasi karena Tokyo Cubo berada di belakang kedua bangunan tersebut.

Tokyo Cubo tampak depan
 

Salah satu yang saya suka dari lingkungan Tokyo Cubo adalah banyaknya penjual makanan. Ini jelas memudahkan kita dalam memilih makanan untuk sarapan, makan siang, maupun makan malam. Tepat di samping Tokyo Cubo, terdapat kedai kopi kekinian yang buka sejak sore hingga malam hari. Di sisi lainnya ada penjual martabak yang sepertinya cukup laris, terlihat dari banyaknya pengemudi ojek daring yang mengantre untuk mengambil pesanan konsumen dari penjual martabak tersebut.

Proses Check-in

Proses check-in di Tokyo Cubo tidaklah sulit, terutama jika kita sudah melakukan pemesanan kamar terlebih dahulu. Untuk kunjungan pertama petugas resepsionis akan meminta kartu identitas kita guna dilakukan pencatatan. Lalu petugas juga akan meminta uang deposit sebesar Rp50.000 yang akan dikembalikan pada saat kita check-out. Tentu dengan catatan tidak ada barang hotel yang kita rusak atau hilangkan. Di masa pandemi, proses check-in dilengkapi dengan pengecekan suhu tubuh tamu dengan menggunakan thermo gun.

Resepsionis Tokyo Cubo

Saat kita diantar menuju kamar, petugas akan memberikan tur singkat tentang fasilitas yang ada di Tokyo Cubo. Mulai dari letak ruang bersama atau common room, mushala, letak lemari atau locker, letak kamar mandi, hingga password wi-fi dan cara penggunaan key card.


Area Common Room Tokyo Cubo

Area Common Room Tokyo Cubo

Ruang tidur

Tempat tidur di penginapan ini disebut Cubo, merupakan plesetan dari bahasa inggris Cube. Ada tiga jenis kamar di Tokyo Cubo, yaitu Ginza yang diperuntukkan khusus untuk perempuan, Shinjuku khusus untuk laki-laki, dan Harajuku untuk kamar campuran.

Kamar dan locker di Tokyo Cubo

Cubo atau tempat tidur di Tokyo Cubo

Seperti layaknya penginapan dengan konsep kapsul, dalam satu kamar di Tokyo Cubo juga berisi beberapa tempat tidur kapsul. Kapsul di Tokyo Cubo sangat menyenangkan, karena penerangannya yang bagus, tirainya yang sangat gelap, tersedia selimut, dan ukuran kapsul yang cukup besar sehingga sangat leluasa bergerak.

Kamar Mandi

Ada banyak kamar mandi di Tokyo Cubo, dan terpisah antara kamar untuk mandi (shower) dan kamar untuk kebutuhan buang air besar. Kebersihannya cukup baik, minimal lantainya tidak licin saat aku mandi di sana. Sirkulasi air panas dan dingin yang keluar dari shower pun bagus.

Area Kamar Mandi di Tokyo Cubo

Area Wastafel Tokyo Cubo, Nyaman untuk Menyikat Gigi

 

Di luar kamar mandi terdapat wastafel terpisah yang bisa dimanfaatkan untuk sekadar cuci muka atau menyikat gigi. Penginapan juga menyediakan pengering rambut yang dapat kita pergunakan. Selain itu, tamu juga akan dipinjamkan handuk bersih untuk mandi. Senang rasanya jika ada penginapan dengan biaya terjangkau yang memasukkan handuk ke fasilitas mereka. Karena buat aku membawa handuk dari rumah itu cukup memakan tempat di dalam tas dan rasanya tidak nyaman membawa handuk basah di sisa waktu jalan-jalan kita setelah check-out dari penginapan.

Tarif Menginap

Ini yang cukup istimewa, tarif menginap di Tokyo Cubo sangat terjangkau. Di bawah Rp100.000 per malam!

Saat aku menginap akhir pekan lalu, aku melakukan pemesanan kamar melalui online travel agent (OTA) dan mendapatkan harga Rp89.100 saja. Itu harga akhir pekan loh, untuk hari kerja atau weekday besar kemungkinan tarif menginapnya jauh lebih murah lagi.

Tokyo Cubo, Bandung

 

Menurut informasi dari petugas resepsionis, biasanya mereka punya promo spesial. Khusunya untuk tamu yang menginap lebih dari dua malam. Kamu bisa tanyakan langsung ke petugas saat menginap nanti ya.

Tokyo Cubo akan menjadi pilihan utamaku saat kembali berkunjung ke Bandung suatu hari nanti. Apa yang aku butuhkan dari sebuah penginapan dengan tarif terjangkau, rasanya sudah terpenuhi semua oleh Tokyo Cubo. Semoga pandemi segera berakhir, dan kita semua bisa jalan-jalan lagi.

Terima kasih sudah membaca. Semoga bermanfaat.

Jakarta, 24 September 2021

 

Touring Pertamaku

Saat itu hari hampir berganti. Udara basah, entah karena sehabis hujan atau memang selalu dingin suhu malam di Citayam.

“Masih ada yang ditunggu tidak? Berangkat yuk, nanti keburu siang,” ucap salah satu dari kami.

Tidak berapa lama, mesin-mesin mulai dihidupkan. Lampu-lampu menyala. Aku berdoa dalam hati, memohon keselamatan bagi diriku dan setiap orang yang ada dalam rombongan. Perlahan kami bergerak, 15 motor dengan 17 orang penjelajah yang siap memecah malam.

Kepada hati aku berseru, ini touring pertamaku! Aku tidak menemukan arti pasti dari kata touring. Tidak ada pula pengertiannya di Kamus Besar Bahasa Indonesia daring. Namun aku rasa kita semua sudah sepakat dengan istilah ini, bahwa touring adalah perjalanan mengendarai kendaraan dalam jarak yang cukup jauh dan secara berkelompok. Jika tidak setuju dengan pengertian itu maka katakanlah.

Sebetulnya aku sering berkendara dengan si Son-son, motor kesayanganku. Bahkan akhir-akhir ini hampir tiap minggu aku menempuh perjalanan Jakarta – Labuan untuk pulang ke rumah orang tua. Namun berkendara secara berkelompok seingatku ini yang pertama kalinya. Terlebih touring yang berangkatnya tengah malam dan tidak menginap. Ya, ini yang pertama kali.

Son-son

 

Rasanya memang lebih menyenangkan dan tentu saja lebih aman. Tidak terlalu khawatir ada yang membegal di jalan, tidak pula khawatir harus mendorong motor sendirian saat mogok atau pecah ban. Setiap pemotor saling menjaga dalam kelompok.

Sejujurnya aku tidak paham betul persiapan apa saja yang harus dilakukan sebelum melakukan touring. Namun dari hasil tanya sana dan tanya sini, aku berkesimpulan bahwa hal utama dalam touring adalah sehat. Baik itu sehat badan kita, maupun sehat motor tunggangan kita.

Ada hal lain yang aku pelajari setelah melakukan touring kemarin, yaitu adaptasi dan tertib. Adaptasi yang aku maksud adalah kemampuan kita untuk menyesuaikan diri dengan rombongan. Setiap pemotor pasti memiliki cara berkendara yang berbeda-beda, cara berkendara inilah yang harus disesuaikan dengan rombongan. Misalnya dari segi kecepatan berkendara, bagi yang terbiasa berkendara dengan kecepatan tinggi tentu harus menahan diri agar anggota rombongan yang lain tidak tertinggal.

Sedangkan tertib yang aku maksud, adalah keadaan kita untuk selalu mawas diri. Bahwa jalanan yang kita lalui bukanlah milik kita sendiri. Tentu banyak pengguna jalan lain yang turut melintas sehingga kehadiran kita sebagai rombongan jangan sampai mengganggu apalagi mengambil hak para pengguna jalan tersebut.

Pantai Sawarna di Lebak, Banten, menjadi tujuan kami saat itu. Berangkat dari daerah Citayam, Depok, Jawa Barat, kami berkendara menuju selatan melewati Cibinong, Bogor, Tajur, hingga akhirnya memasuki Jalan Raya Sukabumi.

Aku betul-betul menikmati kondisi jalan dan udara dari mulai kami berangkat hingga memasuki daerah Cigombong, Sukabumi. Jalanannya berkelok dan lenggang, udara cukup dingin namun terasa nyaman. Berbeda setelah melalui Cigombong, jalanannya tidak mulus, berdebu, dan ada beberapa titik yang sedang dalam proyek pengerjaan.

Pantai Lagon Pari, Lebak, Banten

 

Setelah Cigombong pula situasi jalan menjadi sangat ramai. Kami kerap berjumpa dengan beberapa rombongan pemotor, dan yang kadang menjengkelkan adalah saat laju terhalang oleh truk berbadan besar.

Pom bensin yang terletak beberapa meter menjelang pertigaan Cikidang menjadi titik peristirahatan kami yang pertama. Ramai kondisi pom bensin saat itu. Banyak rombongan pemotor yang juga beristirahat. Dikabarkan oleh seseorang dalam rombongan kami bahwa tidak jauh lagi kami akan memasuki area Cikidang, jalur yang konon `cukup menantang`.

Jalur Cikidang yang kami lalui adalah jalur alternatif yang berujung di Pelabuhan Ratu. Benar yang dikata orang, jalur ini cukup menantang. Selama perjalanan kami banyak menemukan tikungan, tanjakan, dan turunan. Rumah penduduk dapat dihitung jari. Pepohonan yang menutup sisi kanan dan kiri jalur menambah sensasi pekatnya malam itu. Jika kamu bukan warga setempat, pikir-pikirlah saat akan melalui jalur ini seorang diri. Takutnya tiba-tiba ada yang membonceng dan tertawa cekikikan.

Kota Pelabuhan Ratu telah dilalui, kantuk dan lelah mulai menyerang. Akhirnya kami putuskan untuk kembali beristirahat di sebuah warung di pinggir jalan. Warung ini sepertinya memang terbiasa untuk menerima tamu dalam jumlah banyak. Selain buka 24 jam, mereka menyediakan bale-bale untuk istirahat tamu. Harga-harga barang dagangan yang dikenakan kepada kami pun masih dalam katagori wajar.

Setelah cukup istirahat, perjalanan dilanjutkan. Kami berhenti sekali lagi untuk melaksanakan solat subuh. Gapura dengan tulisan “Selamat Datang di Kabupaten Lebak” telah kami lalui. Subuh itu kami sudah berada di wilayah Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Desa Sawarna sudah banyak berubah. Tidak seperti saat terakhir saya berkunjung ke sini pada tahun 2011. Penginapan sudah banyak tersedia, begitu juga dengan warung warga yang berjualan aneka makanan dan minuman khas tempat hiburan. Dulu perlu berjalan kaki cukup jauh untuk bisa melihat batu karang yang menjadi ikon pantai Tanjung Layar, namun kini pengunjung bisa memarkirkan motornya sangat dekat dengan batu karang tersebut.

Pedagang Cilok di Tanjung Layar

 
Son-son di Tanjung Layar
 

Lokasi lain yang kami kunjungi hari itu adalah pantai Lagoon Pari. Pantai ini jauh lebih tenang dibandingkan pantai Tanjung Layar. Kami memilih tempat istirahat berupa bale-bale warung warga yang terletak paling pojok dari pantai ini. Sebagian besar waktu siang itu kami gunakan untuk tidur, mengisi daya dan tenaga untuk pejalanan pulang menuju rumah kami masing-masing di sore harinya.


Aku menikmati setiap momen pada touring pertamaku ini. Rasanya istimewa bisa menyusuri jalur yang belum pernah dilalui dengan berkendara roda dua. Apalagi perjalanan tersebut dilakukan berombongan, bersama teman-teman yang sehari-hari dijumpai di tempat kerja. Semoga akan banyak lagi kilometer dan jalur yang kami lalui bersama.

Terima kasih telah membaca.

Tiket yang Hangus dan Manfaat dari Rapid Test


Penumpang menaiki pesawat

Setiap tahun, saya biasanya membeli tiket pesawat terbang promo untuk digunakan pada tahun berikutnya. Tidak terkecuali untuk tahun 2020, sejak bulan Mei 2019 sudah banyak maskapai yang menjual tiket promo untuk terbang di tahun 2020.

12 Jam di Pekalongan; Sebuah Pelarian


Museum Batik, salah satu ikon Kota Pekalongan

Ada saja alasan orang untuk melakukan sebuah perjalanan tanpa terencana. Salah satunya mungkin seperti yang saya lakukan, memutuskan untuk pergi ke suatu kota karena kesal pada suatu hal.

Selasa, 31 Desember 2019. Saya baru saja selesai makan siang saat menerima pesan dari seseorang. Pesan tersebut membuat saya kesal. Seketika mood saya berubah menjadi jelek.

Museum Sang Nila Utama, Satu-satunya Museum di Pekanbaru

Museum Sang Nila Utama di Pekanbaru, Riau


Museum sangat sepi saat saya tiba di sana. Rupanya saya satu-satunya pengunjung kala itu. Gedung museum sangat besar dan megah, bergaya arsitektur rumah tradisional Melayu Riau. Saya perlu menaiki tangga terlebih dahulu untuk bisa tiba di pintu masuk museum.

Ngelelet, Seni Menghias Batang Rokok ala Lasem


Ada satu pengalaman atau pengetahuan unik yang saya dapat dari perjalanan saya ke Lasem, Jawa Tengah pada awal Desember 2018 yang lalu. Pemandu saya kala itu, mas Franky Andyantho, mempertontonkan cara merias rokok yang umum ditemukan di kalangan masyarakat Rembang dan sekitarnya. Kegiatan tersebut di kenal dengan istilah Ngelelet.

Mengulik Benteng Bernama Van Der Wijck



Saya berdiri termenung cukup lama, melihat nanar pada benteng kokoh berwarna merah yang ada di hadapan saya. Kesal. Karena bukan pemandangan seperti ini yang saya harapkan.

Tadi pagi saat berangkat dari Jogjakarta menuju Gombong, saya masih membayangkan bisa merasakan aura keagungan sang benteng di masa lalu. Namun bukan itu yang saya dapatkan, melainkan keriuhan orang bernyanyi dan bersorak riang bagai di taman wisata.

Wisata Alam yang Menakjubkan di Sulawesi Utara



Telah banyak cerita tentang keindahan pulau Sulawesi yang saya dengar. Telah banyak pula foto-foto yang menggambarkan kecantikan alam dan keelokan budaya dari pulau yang dulu dikenal dengan nama Celebes ini.

Kisah Souw Beng Kong dan Makamnya

Bong pay (nisan) Souw Beng Kong

Saya tertinggal rombongan!

Karena suatu keperluan, saya harus mampir ke anjungan tunai mandiri (ATM). Saya memisahkan diri dari rombongan teman-teman NgopiJakarta atau Ngojak yang masih berjalan sekitar 50 meter dibelakang saya. Saat selesai, saya tidak menemukan satu pun dari mereka. Gawat! saya tertinggal rombongan.

10 Jam Jelajah Pekanbaru




Keinginan untuk bisa menjelajahi setiap provinsi yang ada di Indonesia masih terpelihara hingga kini. Keinginan yang timbul dari rasa ingin tahu tentang daerah, budaya, dan adat istiadat saudara sebangsa setanah air ini sudah berlangsung sejak lama, yaitu sejak jumlah provinsi di Indonesia masih sebanyak 27 dan sejak saya mengenal buku berisi peta-peta yang bernama Atlas.

Rumah Teman di Semarang

Semarang semakin berkembang. Geliat ibu kota Jawa Tengah ini untuk mentasbihkan diri menjadi salah satu kota tujuan wisata di Indonesia semakin terasa. Setidaknya itu yang saya rasakan saat kembali mengunjungi Semarang di awal bulan Desember tahun 2018.

Karena Ngojak Saya Jadi Tahu, Lalu Saya Jatuh Cinta

Semua foto pada tulisan ini adalah milik Ngopi Jakarta 

Ngojak di Tugu Proklamasi
Minggu, 5 Maret 2017, menjadi awal perkenalan saya dengan sebuah komunitas bernama Ngojak atau Ngopi Jakarta. Adalah mas Achmad Sofiyan, seorang kawan pengajar dan pecinta sejarah yang mengenalkan saya kepada Ngojak.


Berdiri Tinggi Sendiri, Menara Air Manggarai

Menara Air Manggarai, Bukit Duri, Jakarta Pusat


“Kita mau lewat mana mas?” Tanya pengemudi ojek daring yang menjemput saya.


Dia bertanya bukan karena tidak hafal jalan, tapi hanya meminta pendapat.


Seperti biasa, saya akan jawab “terserah” jika mendapatkan pertanyaan seperti itu dari pengemudi ojek. “Jalan yang bapak hafal saja” ujar saya selanjutnya.


Maka berkendaralah kami dari kawasan Tebet menuju Pasaraya Manggarai.


Pengemudi ojek memilih untuk melewati jalan-jalan kecil yang sangat asing bagi saya.


Dalam perjalanan tersebut, saya melihat suatu bangunan yang sangat menarik perhatian. Dari kejauhan bangunan tersebut tampat nyata karena menjulang tinggi tanpa ada bangunan tinggi lain di sekitarnya. Bergaya klasik dan kokoh bagai menara benteng peninggalan penjajah.


“Itu menara masjid, pak?” tanya saya kepada pengemudi ojek.


“Bukan mas, itu Menara Air Manggarai,” jawabnya kemudian.
---------------------------------------------------------------------------