Curug Malela - Bandung ; 17 April 2010 ( Catatan Perjalanan )

Jarang sekali orang mendengar nama Curug Malela, bahkan orang Bandung sekalipun, padahal secara geografis, curug ini masih terletak di wilayah Kabupaten Bandung - Jawa Barat.

Tanggal 17 April 2010 saya bersama teman2 Usbek & 2K mencoba sebuah petualangan baru dengan mengunjungi Curug Malela yang selama ini dijuluki beberapa traveller sebagai "The Little Niagara". Kali ini kami menggunakan mobil pribadi untuk menuju curug

Sabtu, 17 April 2010
08.00 WIB kami sepakat memilih Simpang Dago (Bandung) menjadi meeting point kami menuju ke curug malela. Total peserta yg siap mengikuti trip ini terhitung 22 orang dengan menggunakan armada sebanyak 3 mobil.

08.00-10.00 WIB
mobil pun melaju meninggalkan kota bandung menuju bandung selatan melewati Cimahi menuju Batujajar & Cililin. Untuk mencapai batujajar & cililin bisa diakses melalui Pintu Tol Cimahi & Pintu Tol Padalarang yang nantinya akan menuju pada jalan raya Cimareme dan terus menuju Batujajar. kondisi jalan menuju Batujajar & Cililin boleh dibilang cukup bagus & lancar. sesekali memang ada beberapa bagian jalan yg rusak karena memang jalur tersebut juga dilalui oleh truk2 besar. Namun hambatan-hambatan tersebut dapat di hindari.

10.00-12.30 WIB
setelah 2 jam perjalanan, kami beristirahat sejenak di salah satu minimarket di Sindangkerta untuk membeli makanan & minuman ringan. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju Gununghalu, dengan kondisi jalan yang mulai parah dengan lubang2 yg cukup besar yg cukup membuat kami khawatir akan kondisi mobil yg kami pakai. Saya yang kebetulan diberikan tanggung jawab untuk mengemudi harus sangat hati-hati dalam mengemudi.

12.30-13.30 WIB
Kami tiba di kecamatan Rongga desa Cicadas dengan susah payah. kondisi jalan yg berbatu dan rusak parah memaksa sebagian dari kami untuk turun dr mobil dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki menuju desa cicadas. Sampai pada akhirnya kami sepakat menyewa ojek untuk melanjutkan perjalanan. Kam juluki ojek-ojek tersebut dengan nama "Ojek Maut", karena memang para tukang ojek tersebut membawa kami melewati trek2 curam dengan jurang2 menganga di hampir sepanjang 3 KM perjalanan dengan kecepatan tinggi. Dengan membayar 30.000 rupiah kami diantar menuju titik terakhir menuju curug malela.

13.30.14.00 WIB
Ternyata perjalanan belum usai, untuk menuju Curug Malela, tidak bisa dilalui oleh kendaraan apapun, jadi perjalanan kami lanjutkan dengan berjalan kaki. Sebetulnya pemandangan curug malela sudah terlihat dari tempat kami berhenti naek ojek, namun kami pun tetap harus trekking dengan jalan kaki sepanjang 1 KM dengan kondisi turun-naik selama hampir 1/2 jam. sepanjang perjalanan kami disuguhkan hamparan2 sawah dan gugusan perbukitan yang cukup indah dan membuat kami tidak merasakan kelelahan berlebihan sepanjang trekking...

14.00-15.30 WIB
Akhirnya, berkat ijin Tuhan, kami pun tiba di Curug Malela. Hempasan air dari atas curug dengan ketinggian 30 meter telah membuat kami takjub dan akhirnya tak kuasa untuk terjun merasakan dinginnya aliran air disana. Namun, ada beberapa bagian pinggiran sungai yg memancarkan bau menyengat yg tak sedap. mungkin ini ulah warga sekitar atau pengunjung yg buang sampah sembarangan , hal ini jadi satu poin minus dr curug malela.

Ada kejadian unik saat kami berada di curug malela, ada seorang pengunjung yg jatuh dan hanyut di sungai, praktis semua orang berupaya menolong orang tersebut. Boleh dibilang curug malela masih sangat perawan, akses jalan dan jauhnya lokasi membuat tempat ini tetap alami dan belum banyak diketahui orang bahkan orang bandung sekalipun. tapi, menurut kabar sekitar bulan Mei-Juni akses jalan mulai dari Gununghalu sampai desa cicadas akan segera diperbaiki oleh Pemda setempat. mudah2an hal tersebut membuat Curug Malela semakin dikenal dan menjadi salah satu favorit oleh para traveller .

15.30-16.30 WIB
kembali trekking pulang dengan jalan kaki sepanjang 1 KM menuju tempat "Ojek Maut" berhenti. namun, trekking pulang kali ini sangat terasa lelahnya. medan yg cukup terjal dengan kemiringan hampir 80 derajat, membuat nafas dan kaki kami pegal . Setelah sampai tempat "Ojek Maut" menunggu, tanpa buang2 waktu kami kembali ke desa cicadas dimana mobil kami diparkir. lagi-lagi kami harus menahan nafas ketika naik "Ojek Maut" dengan lintasan offroad dengan kecepatan tinggi. tapi, kami harus acungi 2 jempol karena mereka seperti sudah fasih melewati trek2 tersebut. bahkan klo boleh diadu, mungkin Valentino Rossi jg kewalahan menghadapi mereka .

16.30-20.00 WIB
Setelah bersitirahat sejenak dan menikmati Indomie rebus dan secangkir teh manis, kami lanjutkan perjalanan pulang menuju bandung dengan rute yg sama. Jika anda hendak mengunjungi Curug Malela, tidak disarankan untuk pulang pada malam hari. kondisi jalan yg gelap tanpa adanya lampu dipinggir jalan cukup mengkhawatirkan . jadi saran saya, kembalilah dari Curug Malela pada sore hari untuk menghindari hal2 yg tidak diinginkan

Satu lagi gan....kami bener2 tersentuh oleh satu billboard Kopassus saat memasuki daerah Bunijaya!!! Kira-kira begini bunyinya....

"JIKA ANDA RAGU-RAGU, LEBIH BAIK ANDA KEMBALI"

Ujung Kulon ; 23 - 25 Juli 2010 ( Catatan Perjalanan )

Kegembiraan dan harapan selalu tersirat dalam setiap pesan yang tertulis, baik melalui surat elektronik, maupun pesan pada fasilitas jejaring sosial, setiap hari, setiap kesempatan, selalu ada usaha untuk menyempatkan diri membaca pesan-pesan tersebut, khawatir ada informasi penting yang terlewat.

Bertambah dan berkurangnya peserta secara mendadak, kerap membuat sang ketua regu kewalahan, namun keikhlasan dalam membantu setiap peserta, menjadikan hal tersebut hanya riak kecil dalam fase persiapan ini.

Jumat, 23 Juli 2010

Sesuai waktu dan tempat yang telah disepakati bersama, berkumpullah kami di depan Kampus Untirta, Serang – Banten tepat pukul 22.30 WIB. Malam itu, terhitung peserta yang akan melakukan perjalanan ini berjumlah 28 orang yang terbagi menjadi 2 grup, grup kami sendiri berjumlah 13 orang.

Kurang lebih setengah jam kemudian, 2 buah mobil elf yang akan mengantar kami menuju Taman Jaya tiba di Kampus Untirta. Setelah berkemas, maka berangkatlah kami menuju Taman Jaya yang diperkirakan akan memakan waktu selama 6 jam.

Sabtu, 24 Juli 2010

Setelah melalui perjalanan yang sangat melelahkan, pukul 04.30 WIB akhirnya kami tiba di Taman Jaya, jalanan yang kami lalui ( Serang – Taman Jaya ) sebetulnya relatif baik, hanya jalur dari Sumur ke Taman Jaya kondisi jalan rusak parah, maka jalan yang hanya berjarak 20 KM ini, harus ditempuh selama 1 – 1,5 jam. Taman Jaya sendiri dapat dikatakan merupakan gerbang menuju Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, disinilah setiap perjalanan menggunakan kendaraan berakhir, selanjutnya perjalanan dapat ditempuh dengan berjalan kaki atau menggunakan kapal.

Dari Taman Jaya ini, rombongan kami terpisah, tempat pertama yang kami tuju adalah pulau Handeuleum untuk selanjutnya menyusuri sungai Cigenter dengan menggunakan Kano.

Pukul 06.00 WIB kami tiba di Handeuleum, jarak Taman Jaya – Handeuleum kurang lebih 1 jam perjalanan dengan menggunakan kapal. Keelokan Ujung Kulon sudah terlihat di Handeuleum, suasana hutan yang bersahabat juga terasa disini, jiwa dan raga seolah termanjakan oleh berbagai elemen alam yang tersaji disini. Hembusan angin, pancaran matahari pagi, perpaduan aneka warna alam hingga kicau burung bersatu padu menyambut kedatangan kami.

Di Handeuleum juga kita akan menjumpai rusa liar yang lalu lalang tanpa menghiraukan kehadiran kita, jelas hal ini menjadi daya tarik tersendiri, di Handeuleum kita harus melakukan registrasi untuk memasuki Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, sekaligus melakukan registrasi untuk penyewaan kano yang akan digunakan untuk menyusuri sungai Cigenter. Di Handeuleum juga terdapat toilet dengan kondisi yang cukup bersih, jelas ini sangat bermanfaat sekali bagi para pengunjung.

Setelah registrasi, sambil menunggu kano yang kami sewa, kami pun sarapan pagi di dermaga pulau Handeuleum.

Pukul 07.30 WIB kami memulai petualangan menyusuri sungai Cigenter dengan menggunakan 3 buah kano, suasana tegang dan mencekam menyelimuti pikiran kami masing-masing, berbagai cerita dan mitos seputar Ujung Kulon menghantui perasaan kami saat itu, entah apa yang akan kami temukan didalam sana.

Diawal perjalanan, seorang teman melihat adanya biawak di pinggiran sungai, burung-burung hutan dengan ukuran tubuh yang besar dan warna yang indah, terbang menjauh setelah menyadari kedatangan kami, disini pun akan kita jumpai monyet-monyet yang dengan bebas bergelantungan, dan beberapa ekor musang yang dengan lincah melompat dari satu batang pohon ke batang pohon lainnya.

Jelas sekali, dari sekian banyak binatang yang ada di Ujung Kulon, Badak Jawa lah yang menjadi buruan kami hari itu, sayang Tuhan belum mengijinkan kami untuk bertemu dengan binatang tersebut, memang butuh keberuntungan untuk dapat melihat binatang besar yang menjadi ikon Taman Nasional Ujung Kulon ini.

Hampir 1 jam kami berkano di sungai Cigenter, setelah dirasa cukup jauh, pemandu pun memutuskan untuk putar arah dan kembali menuju muara, karena rasa jenuh dan lelah yang melanda kami, menyebabkan kami sudah tidak peduli lagi dengan suasana sekitar sungai, kami pun mengusir rasa jenuh itu dengan adu balap kano, alhasil, hanya sekitar 30 menit kami telah tiba di tujuan.

Sebelum menuju perahu, kami sempat mampir di sebuah padang yang menurut sang pemandu adalah tempat berkumpulnya Banteng dan beberapa hewan lainnya, sayang seribu sayang, tak satu pun binatang yang kami jumpai di sana.

Setelah semua peserta naik ke kapal, perjalanan kami lanjutkan menuju Pulau Peucang, jarak tempuh pulau Peucang sekitar 2 jam perjalanan.

Tiba di pulau Peucang, kami langsung menuju penginapan untuk menaruh segala barang bawaan kami, dan makan siang pun telah menanti kami di sana, selesai makan siang, kami menuju kapal kembali untuk melanjutkan kegiatan siang itu.

Kegiatan pertama yang kami lakukan pada siang itu adalah snorkling, sayang, kapal yang kami tumpangi tidak dilengkapi dengan pelampung ( life jacket ) sehingga tidak semua dari kami menyebur ke laut. Kapal yang berhenti terlalu jauh dari darat pun menyebabkan kami tidak maksimal dalam mengeksplore keindahan alam bawah laut Ujung Kulon, jadi kegiatan snorkling tersebut hanya kami isi dengan berenang-renang di seputaran kapal.

Setelah dirasa puas, kami pun melajutkan perjalanan ke Cidaon, disini terdapat sebuah padang rumput yang disebut Padang Penggembalaan, disini kami jumpai sekumpulan Banteng dan Burung Merak yang sedang mencari makan, disini juga terdapat sebuah menara pengawas yang memudahkan pengunjung untuk melihat padang tersebut dengan daya pandang yang lebih luas.

Tujuan selanjutnya adalah Tanjung Layar, disini terdapat mercusuar dan beberapa bongkahan karang besar, kami pun menikmati suasana matahari terbenam dari atas kapal di Tanjung Layar.

Tiba di Pulau Peucang kembali, kami santap malam dengan penuh rasa lelah dan suka cita, disekitar penginapan kami berkeliaran monyet, rusa dan babi hutan yang seolah telah akrab dengan kehidupan manusia, tak ada rasa takut pada binatang-binatang tersebut, mereka malah mendekat berharap mendapat sisa makanan dari para pengunjung. Hati-hati dengan monyet di Pulau Peucang, jika lengah, maka mereka akan dengan cepat mencuri segala barang bawaan kita

Kegiatan malam itu belum berakhir, setelah dirasa cukup larut, beberapa dari rombongan kami memutuskan untuk menghabiskan malam di pinggir pantai, bulan cerah malam itu, namun angin berhembus cukup kencang dan dingin, kami pun membuat api unggun dan beberapa gelas kopi, kami habiskan malam tersebut dengan bersenda gurau, namun akibat rasa lelah yang sangat dan kondisi fisik yang menurun, beberapa diantara kami malah tertidur pulas diatas hamparan pasir putih dengan beralaskan matras.

Pada tengah malam, bulan hilang dari pandangan, awan hitam pekat menyelimuti langit malam itu, hembusan angin makin kencang dan basah, maka kami pun memutuskan untuk kembali ke penginapan.

Minggu, 25 Juli 2010

Kami lalui pagi ini dengan perjalanan menuju Karang Copong, kurang lebih jarak yang akan kami tempuh memakan waktu selama 1 jam, dalam perjalanan, kembali kami temui aneka satwa yang sebetulnya telah sering kami temui di sekitar penginapan, yaitu rusa, babi hutan dan monyet. Beberapa dari kami beruntung dapat melihat Burung Merak yang dengan eloknya bertengger di atas sebuah dahan pohon.

Aneka pohon yang terdapat disini berbatang besar dan berdaun lebat, bentuknya pun menjulang tinggi ke atas, beberapa pohon bahkan memiliki akar diatas tanah yang sangat banyak dan kuat.

Tiba di Karang Copong, hembusan angin laut pagi menyambut kami, tak ada yang istimewa di Karang Copong, namun suasana pantai disini kembali menambah keteduhan hati kami.

Setelah kembali ke penginapan, kami pun sarapan dan langsung berkemas untuk perjalanan pulang.

Putih pasir, biru laut dan aneka gradasi warna yang timbul akibat pantulan sinar matahari di Pantai Pulau Peucang, memberi kesan yang mendalam pada kami. Luar biasa ciptaan Tuhan, maha besar Ia dengan segala karya seninya.

Kami pun menyaksikan awak kapal mengangkat jangkar sebagai pertanda selesainya petualangan kami di Ujung Kulon, berbagai memori indah selama 2 hari disana berkelebat dalam benak kami masing-masing, semoga Tuhan mengijinkan kami kembali ke sana.

Pulau Peucang – Taman Jaya, kami tempuh selama kurang lebih 3 jam perjalanan, setelah tiba, kami lanjutkan perjalanan menuju Serang dengan menumpang mobil elf, Taman Jaya – Serang kami tempuh selama 6 jam, kami pun tiba di Serang sekitar pukul 21.30 WIB, rasa was-was tidak dapat kembali ke Jakarta menghantui kami, hal ini karena hingga pukul 22.00 WIB kami belum juga mendapati bis yang akan membawa kami ke Jakarta. Alhamdulillah, kami akhirnya dapat pulang ke Jakarta setelah bis jurusan Merak – Kp. Rambutan tiba, namun sayang, tidak semua dari kami kebagian kursi, alhasil, beberapa dari kami harus berdiri selama 1,5 jam perjalanan.

Maka selesai sudah perjalanan kami kali ini, berjuta ungkapan syukur mungkin tidak akan pernah cukup atas segala hal dan pengalaman baru yang kami dapatkan. Seperti semboyan kami, its not about destinition, its about the journey. Maka kebersamaan kami selama perjalanan adalah yang paling utama, karena kami percaya, perjalanan yang hebat dan menyenangkan, akan tercipta ketika kita satu hati dan satu pikiran dengan teman seperjalanan.

Terima kasih kepadamu Tuhan, telah kau ijinkan kami untuk sekali lagi menikmati keindahan alammu, telah kau tenangkan alammu, kau redakan hujanmu, kau hangatkan sinar mataharimu, kau cahayakan bulanmu.

Terima kasih kepadamu Tuhan, atas waktu yang telah kau berikan, atas perjumpaan dalam suka cita, atas pertemanan yang mulia, dan atas persaudaraan yang abadi.

Terima kasih Tuhan atas kesempatan ini, dan jadikanlah kami orang – orang yang pandai bersyukur serta tulus ikhlas dalam menjaga karya-karyamu. Ijinkan kami untuk suatu saat, kembali melakukan perjalanan menuju berbagai surga dunia yang telah engkau ciptakan.



Pengeluaran selama di Ujung Kulon :

1. Carter Elf ( pulang pergi ) Rp. 1.300.000,- / 13 orang = Rp. 100.000,-
2. Kano + Biaya Masuk + Pemandu Rp. 700.000,- / 13 orang = Rp. 54.000,-
3. Biaya masuk Cidaon + karang copong Rp. 260.000,- / 13 orang = Rp. 20.000,-
4. Penginapan Rp. 506.000,- / 13 orang = Rp.39.000,-
5. Sewa dapur Rp. 75.000,- / 13 orang = Rp. 6.000,-
6. Sewa kapal Rp. 2.898.000,- / 13 orang = Rp. 223.000,-

TOTAL = Rp. 442.000,-


Semoga bermanfaat.

Dieng Plateau Area ; 8 - 10 Oktober 2010 ( Catatan Perjalanan )

Dalam blog ini, aku ingin berbagi tentang berbagai perjalanan yang telah ku lalui, baik sendiri maupun bersama teman-temanku tersayang. Belum lama memang aku mengenal dunia Travelling, Maret 2010, merupakan awal dari serangkaian cerita yang layak untuk diceritakan. Rasanya belum pantas aku menasbihkan diri sebagai seorang backpacker, namun dari setiap perjalanan yang dilalui, aku berusaha untuk selalu menganut asas "lebih murah" dan "berbagi".

Aku ingin berbagi tentang perjalanan ke Dieng akhir Oktober 2010 kemarin, aku pilih Dieng sebagai awal cerita, karena perjalanan itu adalah perjalanan paling baru yang ku tempuh.

Dieng, dataran tinggi yang diapit oleh Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing ini memang menawarkan sejuta pesona kepada para pengunjung. Memiliki ketinggian lebih dari 2.000 meter diatas permukaan laut, Dieng merupakan tempat nyaman bagi mereka penyuka udara dingin dan kegiatan luar ruang.

Berkat ijin-Nya dan berbekal informasi dari berbagai catatan perjalanan di Kaskus/blog, maka kami sepakat untuk berangkat mengunjungi Dieng pada Jumat, 8 Oktober 2010.

Jumat, 8 Oktober 2010

Sesuai waktu dan tempat yang telah disepakati,berkumpullah kami di Terminal Bus Rawamangun pukul 18.30 WIB,untuk selanjutnya menuju Wonosobo – Jawa Tengah menggunakan Bus Malino Putera. Menurut catatan TS,peserta yang akan melakukan perjalanan kali ini berjumlah 8 orang yang berangkat melalui jalur dan menggunakan kendaraan yang berbeda-beda. 5 orang berangkat dari Rawamangun menggunakan bus, 2 orang berangkat dari Bandung menggunakan bus dan 1 orang juga berangkat dari Bandung dengan mengendarai sepeda motor.

Hujan deras yang mengguyur ibu kota sejak sore itu sempat membuat kami khawatir apakah semua peserta bisa datang tepat waktu di Rawamangun, maklum Jakarta gan...apalagi hari itu hari Jumat + hujan deras. Sekitar jam 17:30 ada kabar klo peserta dari Bekasi masih terjebak macet di Bekasi, Namun kekhawatiran kami pupus setelah melihat agan @bjouz tiba di terminal Rawamangun. Sebelumnya telah tiba pula 4 peserta lainnya, yaitu ane @budakkulon, agan @dadidadidadi, agan @kikihidayat24 dan agan @taftaro.

Pukul 19.15 WIB, Bus pun meninggalkan Terminal Rawamangun

(catatan : Setelah keluar Terminal Bus Rawamangun, bus Malino Putera tidak langsung berangkat menuju Wonosobo, mereka berhenti terlebih dahulu di Pool mereka di depan Pulogadung Trade Center ( PTC ), ini memakan waktu yang cukup lama. Dan dalam perjalanan, bus akan berhenti sekali untuk istirahat dan makan di daerah Cirebon)

Sabtu, 9 Oktober 2010

Pukul 06.00 WIB :Tiba di Wonosobo, kami turun di daerah Plaza Wonosobo,dan berjumpa dengan 2 orang peserta lain yang berasal dari Bandung. Agan @ducks2000 dan agan @Kallama telah tiba 1 jam lebih dulu dari kami, mereka berangkat dari Bandung dengan menggunakan Bus Budiman.

(catatan : Di daerah sekitar Plaza (tempat bus menurunkan penumpang) terdapat 2 toilet kecil yang cukup bersih dan nyaman, agan – aganwati bisa tanya langsung arahnya kepada para pedagang di sana. Cocok untuk meeting point)

Pukul 07.00 WIB : Dengan berjalan kaki, kami menuju depan RSU Setjonegoro. Jarak dari Plaza dan RS ini tidak terlalu jauh, sekitar 500 meter jadi enakan jalan kaki. Dari RSU kami menaiki Bus Mikro menuju Dieng.Tarif Wonosobo - Dieng sebesar Rp. 10.000,-

suasana dalam bis kecil jurusan Wonosobo - Dieng
Namun tujuan kami tidak langsung menuju Dieng, kami mampir di Kawasan Agrowisata Tambi. Jarak dari jalan raya menuju pabrik teh Tambi sebenarnya hanya 800 meter, namun 800 meter tersebut harus kita lalui dengan mayoritas jalan menanjak. Maka, kami putuskan untuk menggunakan jasa ojek dengan tarif Rp. 3.000,- sekali jalan.

Di jalan menuju Tambi ini kami bertemu dengan 1 peserta yang menggunakan motor yaitu agan @caniggia. Lengkap sudah semua pesertanya yaitu 8 orang.

Jalan menuju Tambi

Tambi

Perkebunan teh Tambi

Perkebunan teh Tambi

Pabrik teh Tambi terbuka untuk umum,untuk masuk dan melihat proses pembuatan teh, setiap pengunjung di kenakan biaya Rp. 25.000,- s.d Rp. 105.000,- per orang dengan minimum peserta 10 s.d 20 orang, dan dengan durasi selama 2 s.d 5 jam.

Karena lamanya durasi tersebut, maka kami putuskan untuk tidak masuk ke dalam pabrik, kami hanya berkeliling di perkebunan teh seputar pabrik dan menikmati suasana alam yang sungguh luar biasa pagi itu.

Pukul 10.00 WIB :Tiba di Dieng, sempurna, suasana dan iklim yang kami dapati, sesuai dengan angan sebagian besar dari kami. Iklim sejuk cenderung dingin, pegunungan yang mengelilingi kawasan Dieng, hamparan hijau perkebunan warga, keramahan warga sekitar dan tentu saja...penginapan Bu Jono.

Penginapan Bu Jono
Pukul 11.00 WIB : Setelah beristirahat dan sarapan, kami pun bersiap untuk menjelajahi keindahan kawasan Dieng. Kami menggunakan mobil pick up dengan sopir merangkap guide mas Purwanto untuk berkeliling, dingin luar biasa. Mendung mengancam saat itu, namun dengan optimis dan penuh harap kepada Yang Maha Kuasa, kami tetap jelajahi Dieng dengan riang.

Objek pertama yang kami kunjungi adalah Sumur Jalatunda,mitos seputar sumur ini adalah barangsiapa yang bisa melempar batu melewati sumur sebanyak 3 kali,maka keinginannya akan terkabul...wallahualam.

Batu untuk melempar sudah disediakan oleh warga yang mungkin memang berprofesi sebagai penyedia batu, stok batunya banyak gan...hihi. Ada salah satu dari kami yang mencoba untuk melempar batu ke seberang sumur,sayang tidak berhasil. Dan ketika kami tanya berapa kami harus bayar untuk batu-batu tersebut, warga tersebut hanya senyum simpul. Ya sudah,kami pun memberi uang seiklasnya.

Sumur Jalatunda
Suasana sekitar sumur Jalatunda

Perjalanan dilanjutkan menuju Kawah Candradimuka. Jalan menuju kawah Candradimuka menanjak dan berbatu,membuat rombongan terguncang-guncang di atas pick up, dan untuk keselamatan, kami akhirnya turun dari mobil dan melanjutkan dengan jalan kaki.

Dari kawah Candradimuka kami melanjutkan ke kawah Sileri.

Dari kawah Sileri kami istirahat untuk sholat dan selanjutnya menuju ke Telaga Merdada.

Jika hari Minggu,pengunjung Telaga Merdada dapat berkeliling telaga dengan menggunakan perahu yang di kelola oleh warga sekitar.

Setelah puas di Telaga Merdada,kami menuju Telaga Warna untuk sekalian beristirahat dan makan siang di sana. Di kawasan Telaga Warna,terdapat komplek goa yang memiliki sejarah masing-masing,komplek goa ini masih difungsikan oleh sebagian warga untuk ritual-ritual tertentu hingga saat ini.

Selesai makan siang sekitar pukul 15:30 perjalanan kami lanjutkan ke Kawah Sikidang.
 
Pukul 18.00 WIB :Tiba di Penginapan, makan malam dan istirahat.

Foto-foto perjalanan hari pertama :






Minggu, 10 Oktober 2010

Pukul 04.00 WIB : Kami telah siap untuk memburu sunrise di Bukit Cikunir, setelah solat subuh, mobil pun mengantar kami ke batas awal pendakian Bukit Cikunir. Sayang aku tidak bisa gabung dalam perjalanan hari ini dikarenakan sakit. Namun jangan khawatir kawan, cerita akan terus berlanjut.....Dua puluh menit berkendara di pagi buta menembus udara dingin menuju Cikunir sungguh menyenangkan. Tiga puluh menit jalan kaki mendaki membuat nafas ngos-ngosan, semuanya demi sunrise Cikunir.

Setelah puas menyaksikan sunrise dari Cikunir maka rombongan pun meneruskan perjalanan ke Komplek Candi Arjuna dan candi Gatotkaca. Luar biasa keindahan di lokasi ini, taman yang tertata rapih, sinergis dengan pemandangan pegunungan dan letak candi yang apik.

Selesai dari komplek candi Arjuna,maka perjalanan diteruskan ke DPT (Dieng Plateau Theater). Di DPT ini kami bisa menyaksikan pemutaran film dokumenter berdurasi 20 menit yang bercerita tentang Dieng.

Keluar dari gedung DPT kami mencicipi gorengan kentang dan keripik jamur...mantabs. Beruntung juga kami bertemu dengan seorang anak rambut gimbal/ gembel yang merupakan warga asli Dieng. Banyak cerita spiritual beredar di masyarakat tentang keunikan anak gimbal Dieng, masyarakat Dieng beranggapan rambut gimbal tidak dapat dipotong begitu saja karena seorang anak yang berambut gimbal merupakan keturunan leluhur atau pepunden Dieng, ada juga cerita yang mengatakan bahwa rambut gimbal dianggap sebagai "Balak" atau ”membawa musibah”.

Tradisi masyarakat Dieng mengharuskan seorang anak yang berambut gimbal dan telah berumur 7 tahun melakukan ruwatan cukur gimbal. Tujuannya agar "Balak" yang ditimbulkannya sirna. Ruwatan Cukur Rambut Gimbal akan dilangsungkan setelah si anak mengajukan permintaan kepada orang tuanya, biasanya permintaan ini sulit untuk dipenuhi. Menurut kepercayaan Masyarakat,permintaan tersebut harus dipenuhi karena bila tidak si anak akan sakit-sakitan bahkan bisa berujung pada musibah...wallahualam.

Ketika akan pulang dari DPT, kami mendapat informasi bahwa telaga warna dapat diintip dari atas bukit dekat di dekat DPT, maka kami pun naik ke atas bukit walau susah juga mencapainya.

Setelah puas mengabadikan semua keindahan tersebut kami balik ke penginapan.

Pukul 10.30 WIB : Rombongan kembali ke penginapan, makan siang dan berkemas untuk kembali ke Jakarta

Pukul 11.45 WIB : Bersama Mas Purwanto dan pick up putihnya kami pun pulang menuju Wonosobo. Kami pamit kepada segala kenangan Dieng yang terukir indah di hati kami masing-masing.

Dalam perjalanan pulang, kami berhenti di Gardu Pandang, salah satu sudut terbaik untuk melihat kawasan Dieng dari atas.

Pukul 14.30 WIB : Tiba di Kota Wonosobo, jelas yang kami buru pertama di kota ini adalah makanan khasnya yang sudah melegenda di kalangan traveller, ya...Mie Ongklok!!

Mamamia...lezat nian mie ini,dipadu dengan harum dan manisnya sate sapi.

Setelah puas dengan mie ongklok, kami menghabiskan waktu dengan mencicipi es dawet Banjarnegara di Alun-alun kota Wonosobo,sebelumnya kami sempatkan mampir di Masjid Jami Wonosobo untuk beribadah. Sayang agan @caniggia tidak dapat bergabung karena pulang duluan dengan sepeda motornya.

Pukul 16.00 WIB : Tiba di Terminal Wonosobo,tim pun berpisah sambil tak lupa membawa oleh-oleh berupa Carica yang katanya khas Dieng, 4 orang kembali ke Jakarta dengan Bus Malino Putera, 2 orang ke Bandung dan 1 orang ke Semarang.

Dieng penuh kenangan,semoga kelak Tuhan mengijinkan kami untuk kembali menghirup udara pagi yang segar dari puncak bukit Cikunir,amin.

Catatan pengeluaran ( diluar biaya makan pribadi )
1. Bus Malino Putera – Bisnis AC (Rawamangun – Wonosobo) Rp.76.000,-
2. Bus Mikro Wonosobo – Dieng Rp.  10.000,-
3. Ojek Perkebunan Teh Tambi (PP) @ Rp. 3.000,- Rp. 6.000,-
4. Penginapan Bu Jono Rp. 150.000 : 4 orang = @ Rp. 37.500,- Rp. 37.500,-
5. Carter mobil 2 hari Rp. 550.000 : 8 orang = @ Rp. 68.750,- Rp. 68.750,-
6. Tiket masuk terusan seluruh objek wisata Rp. 21.500,-
7. Bus Malino Putera – Eksekutif AC (Wonosobo – Pulogadung) Rp. 90.000,-
-----------------
TOTAL      Rp. 309.750,- 

Semoga bermanfaat, terima kasih.


Suatu awal

Bismillahirrahmanirrahim....

Senin, 8 November 2010 pukul 17.17 WIB blog ini hadir, sebenarnya blog ini tercipta lebih diperuntukkan untuk pribadiku, namun kebahagiaan luar biasa jika setiap kata di dalamnya mendatangkan manfaat untuk orang lain...

-die-