Sumatera Utara : Datang dan Pergi dengan Damai

"Dari trip ini, istilah 'Pergilah dengan Damai' lahir....."

Trip di awal tahun 2013 ini sudah terencana sejak lama, namun kendala menghadang di hari-hari terakhir. Musibah banjir Jakarta hampir saja membatalkan semuanya, bukan karena kena banjir, tapi kantor yang mendadak membuka posko untuk penyaluran bantuan banjir Jakarta membuat aku ikutan sibuk mengurusi segala kebutuhan posko. Tapi Alhamdulillah, berkat kebijakan pimpinan (ceileh…) dan pengertian dari anggota tim yang laen, berhasil juga dapet ijin untuk jalan hehehhe….



Singkat cerita pagi itu aku sudah berada di terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Rabu 23 Januari 2013 terminal 3 sudah sangat ramai, padahal masih sekitar pukul 5 pagi, entah pada mau kemana orang-orang ini, apa pada dapet tiket promo juga ya seperti aku?? Hehehehehe

Teman-teman dari Trip Mania (sebuah komunitas pejalan) sudah hampir tiba semua, trip kali ini aku ikut rombongannya Trip Mania pimpinan Om Babul huehuehue…. Menurut rencana kita akan ber-20 jelajah medan nanti, sewa bus kecil untuk menjangkau pelosok-pelosok sumatera utara *lebay….Okey, setelah dirasa kumplit, masuklah kita ke dalam bandara, proses biasalah dan tetep masih bayar pajak bandara kok huhhh… Dan upssss….sedikit di omelin sama petugas konternya karena kami check in di detik-detik terakhir plus segambreng orangnya huhahahhaha…..

Beres semua, berlarilah kami menuju pesawat, yak, udah gak keburu ngapa-ngapain lagi, udah langsung menuju pesawat karena mamang-mamangnya sudah teriak-teriak. Maka masuklah kami ke pesawat, keringat dingin muncul ketika kami tahu bahwa 4 orang teman belum naik pesawat, waduh…padahal pintu pesawat sudah mau di tutup. Gak berapa lama 1 dari 4 teman tadi naik pesawat, tinggal 3 orang. Yang membingungkan adalah kami tidak tau mereka dimana, padahal kami yakin mereka sudah bersama kami tadi, di telepon tidak menjawab, di sms tidak berbalas, maka terjadilah apa yang kami takutkan. Pintu di tutup, tertinggalah 3 teman kami di bandara Soekarno-Hatta. Ya Allah, apa yang akan terjadi selanjutnya?? Entahlah. Kami Cuma bisa berdoa semoga trip kali ini berjalan lancar jaya, amin.

Mandala Airlines mendarat mulus di Bandara Polonia, Medan. Kami tidak langsung keluar bandara, kami menunggu beberapa teman yang terbang dengan maskapai lain dan juga beberapa teman yang berangkat dari kota lain, tidak berapa lama, semua anggota rombongan sudah lengkap, dan dengar kabar kalau 1 dari 3 teman yang tertinggal di Jakarta akan menyusul dengan penerbangan sore. Perjalanan pun kami mulai, tujuan pertama adalah sarapan di Lontong Medan Kak Lin, yummy….enak lontongnya, dan disini ada sate kerang juga, enak tapi mahallll….hahahahhaha



Lontong Kak Lin, Medan
Lontong Kak Lin, Medan


Setelah kenyang kami melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Dua Warna Sibolangit, oiya, karena trip kali ini aku ikut rombongan dan sewa kendaraan, jadi jangan tanya cara dan biaya yang habis untuk nyampe ke masing-masing objek. Sumpah...aku gak tau =)

Air Terjun Dua Warna Sibolangit ini terletak di dalam Bumi Perkemahan Sibolangit. Jika kita naik kendaraan yang cukup besar (seperti bis kami saat itu), maka kendaraan akan parkir di pintu masuk bumi perkemahan, kita akan sedikit jalan kaki menuju pos ranger yang sekaligus sebagai loket retribusi masuk. Siapkan fisik kalian untuk bisa menikmati Air Terjun Dua Warna Sibongit ini, karena letaknya yang di dalam hutan dan akses yang masih susah menyebabkan kalian harus trekking sekitar 2 jam, 2 jam itu one way loh hahahahhaha…..Tapi, karya Tuhan inilah yang akan kalian dapati :

Gerbang Bumi Perkemahan Sibolangit
Pos Ranger sekaligus pos retribusi

Air Terjun Dua Warna Sibolangit (foto : Iwan Setiawan)

Aliran air dari Air Terjun Dua Warna Sibolangit (foto : Iwan Setiawan)

Sedikit rintangan dari jalur yang harus kita lewati (foto : Iwan Setiawan)

Meniti tali menuju keindahan Air Terjun Dua Warna Sibolangit (foto : Iwan Setiawan)

Sore telah lalu, kami melanjutkan perjalanan menuju Desa Tongging, sebuah desa yang terletak di sisi danau toba, dan Alhamdulillah teman kami yang menyusul pun telah bergabung  bersama kami. Sayang, waktu yang terlalu larut ketika tiba di desa tongging membuat kami hanya sejenak menikmati suasana disini.

Kamis 24 Januari 2013
Pagi menyapa, kami pun meneruskan perjalanan, mampir sebentar di rumah makan ‘Ojo Lali’ buat sarapan, Yup, anda tidak salah baca, nama rumah makannya beneran Ojo Lali, dan kami beneran ada di Danau Toba hahahaha….

Pemandangan dari rumah makan Ojo Lali

Ikan bakar yang kami makan, diambil dari tambak itu

Rencananya hari ini kami akan menikmati toba dan objek lain disekitarnya, yaitu Air Terjun Sipiso-piso. Perjalanan dari Tongging ke sipiso-piso tidak terlalu jauh, sekitar satu jam kami tiba di lokasi, dan selama perjalanan, jangan pernah merem deh, karena alam akan menyuguhkan salah satu keelokan terbaiknya, suer gak bo`ong.

Desa Tongging tampak atas

Danau toba

Air Terjun Sipiso-piso dari kejauhan

Air Terjun Sipiso-piso


Puas di sipiso-piso kami pindah ke Taman Simalem, tempat ini adalah sebuah resort yang dikelola swasta, untuk masuk ke sana kita harus membayar cukup mahal, tapi rasanya terpuaskan dengan pemandangan danau toba yang bisa dinikmati dari taman simalem ini.

View Danau Toba dari Taman Simalem

View Danau Toba dari Taman Simalem

Perjalanan kami lanjutkan, tujuannya adalah pulau samosir, tapi katanya tidak nyebrang pake feri, melainkan menyusuri lewat belakang, balakang mana?? Sumpah aku gak tau. Dalam perjalanan kami mampir ke Taman Iman Sidikalang di Kabupaten Dairi.

Dan malamnya, masih dalam perjalanan ke samosir, kami mampir lagi di pemandian air panas Pangururan (entah mengapa nama tempatnya kali ini mirip bahasa sunda). Pas udah mateng (telor rebus kalee), bis kami kembali melaju, dan sekitar tengah malam kami tiba di Lekjon Cottage – Samosir. Tidur zzzzzzz.....

Jumat, 25 Januari 2013
Selamat pagi Toba, ahh……Sudah lama aku merindukan tempat ini, selama ini hanya mendengar dari cerita berbagai teman dan sanak family yang pernah mengunjungi Toba, dan benar apa yang mereka katakan, Toba Cantik, Toba menarik. Tidak perlu banyak hal untuk dapat menikmati Toba, cukup kamu berdiri disisinya, pejamkan mata dan tarik nafas secara perlahan, biarkan udara segar pagi hari miliknya merasuk ke setiap relung paru-parumu. Buka mata perlahan dan bersyukurlah =)

Suasana pagi yang begitu bersahabat kami habiskan dengan berenang ria di danau ini, hati-hati jika ingin berenang agak ke tengah, sulur-sulur yang banyak terdapat di dasar danau akan seolah menarik kita masuk ke dalam danau, jangan panik jika kaki menyentuh sulur-sulur itu, kepanikan hanya membuat kita tenggelam, pagi itu juga banyak wisatawan yang bermain jet ski, para operator jet ski akan menghampiri kita ketika kita bersantai di pinggir Toba.

Selamat Pagi Toba

Lekjon Cottages

Penyewaan sepeda di sekitar penginapan

Transportasi lokal

Pagi hari di Toba

Pagi hari di Toba

Pagi hari di Toba

Pagi hari di Toba

Gak tau deh ini namanya apa??

Pagi hari di toba


Rencana hari ini adalah mengunjungi situs Batu Kursi Raja Siallagan, berikut ini artikel terkait tentang situs ini yang di ambil dari situs www.indonesia.travel :


"Kampung Siallagan terletak di Desa Ambarita, Kecamatan Simanindo, Pulau Samosir. Perkampungan yang mirip benteng ini lokasinya berdekatan dengan Danau Toba dan cukup banyak dikunjungi wisatawan baik dari Nusantara maupun mancanegara.
Luas Huta Siallagan sekira 2.400 m² dikelilingi tembok batu tersusun rapi setinggi 1,5 hingga 2 meter. Anda akan terkagum-kagum mengamati bagaimana perkampungan ini dikelilingi batu-batu besar disusun bertingkat secara rapi. Dulunya tembok tersebut dilengkapi bambu dan benteng ini berfungsi untuk menjaga perkampungan dari gangguan binatang buas maupun serangan suku lain.
Perkampungan ini dibangun pada masa raja huta pertama yaitu Raja Laga Siallagan. Kemudian diwariskan kepada Raja Hendrik Siallagan dan seterusnya hingga keturunan Raja Ompu Batu Ginjang Siallagan. Huta Siallagan sejak dahulu dihuni marga Siallagan, yaitu turunan Raja Naiambaton garis keturunan dari Raja Isumbaon anak kedua Raja Batak. Keturunan Raja Siallagan sekarang masih berdiam di seputaran Desa Ambarita dan beberapa makam keturunannya pun bisa ditemukan di tempat ini.
Saat Anda memasuki Huta Siallagan maka nampak tidak banyak berbeda dengan umumnya kampung lain di Tanah Batak, yaitu terdiri atas deretan ruma bolon dan sopo. Yang istimewa di sini adalah adanya deretan batu-batu berbentuk kursi tersusun melingkari meja batu. Rangkaian batu tersebut dinamakan Batu Parsidangan dan letaknya persis di tengah perkampungan di  bawah pohon hariara yang akarnya melilit ke mana-mana. Pohon suci masyarakat Batak tersebut memang biasanya ditanam di perkampungan suku Batak.

Batu Persidangan tersebut ada di 2 lokasi dimana yang pertama berfungsi sebagai tempat rapat dan yang kedua untuk eksekusi. Batu sidang pertama tertata rapi melingkar di bawah pohon dan berfungsi sebagai tempat rapat. Rangkaian batu kursinya meliputi kursi untuk raja dan permaisuri, kursi para tetua adat, kursi raja untuk huta tetangga dan undangan, serta kursi untuk datu (pemilik ilmu kebathinan). Rangkaian batu kedua tidak jauh berbeda dengan yang pertama hanya saja dilengkapi sebuah batu besar memanjang untuk membaringkan musuh atau terdakwa lalu kepalanya akan dipenggal di batu cekung tersebut.


Dinamakan Batu Parsidangan karena memang fungsinya untuk mengadili penjahat atau pelanggar hukum adat (kasus pembunuhan, pencurian, pemerkosaan, dan lainnya) atau juga untuk musuh politik dari sang raja. Raja Siallagan akan menggunakan kalender Batak untuk mencari hari baik menggelar sidang bersama para tetua adat. Para tetua adat akan memberikan usul jenis hukuman yang akan diberikan sesuai derajat kesalahannya. Raja Siallagan kemudian akan menetapkannya apakah berupa hukuman denda, hukuman pasung, atau hukuman pancung. Sebelum diadili terdakwa akan dipasung terlebih dahulu.


Apabila bersalah maka terdakwa akan akan dibawa ke belakang kampung untuk dieksekusi di rangkaian batu sidang kedua. Tubuhnya akan dibedah kemudian dipancung. Menurut penuturan masyarakat setempat, dahulu tubuh terdakwa akan disayat hingga darah keluar bila perlu ditetesi tetesan jeruk nipis sebelum dipenggal apabila si terdakwa memiliki ilmu kebal. Ada cerita bahwa potongan tubuh terdakwa itu akan dibagikan untuk dimakan beramai-ramai dan Raja Siallagan bila sangat membenci terdakwa tersebut maka akan memakan jantungnya. Bagian kepala terdakwa akan dibungkus dan dikubur di tempat yang jauh dari Huta Siallagan. Darahnya akan ditampung dengan cawan untuk dijadikan minuman pencuci mulut serta potongan tubuh dan tulangnya dibuang ke Danau Toba. Sang Raja biasanya akan memerintahkan agar masyarakat tidak menyentuh air danau selama satu hingga dua minggu karena air danau dianggap masih berisi roh jahat.


Dimungkinkan dari kisah inilah yang kemudian sempat menjadi sebuah stereotipe bahwa masyarakat Batak melakukan praktek kanibalisme. Ritual ini perlahan hilang setelah agama Kristen tersebar di Wilayah Samosir oleh seorang pendeta asal jerman bernama Dr. Ingwer Ludwig Nommensen pada pertengahan abad ke-19. Raja Siallagan yang sebelumnya masih menganut agama asli Batak (Parmalim) kemudian memeluk Kristen dan tidak melanjutkan ritual kanibalisme itu lagi. Sekarang Huta Siallagan hanya berfungsi sebagai desa wisata saja untuk mengenang sejarah dan budaya salah satu suku di Tanah Batak. Pemandu wisata ke tempat ini pastinya akan menceritakan hal ini lebih terinci dan dimaksudkan sebagai pelajaran dari bentuk tradisi di zaman dahulu dan tidak ada maksud lainnya."

Gerbang Situs Batu Kursi Raja Siallagan

Ukiran-ukiran yang menghiasi rumah adat Batak

Suasana perkampungan

Rumah Raja, yang di bawah itu tempat pemasungan

Batu Persidangan

Tempat eksekusi hukuman pancung

Dari situs Batu Kursi Raja Siallagan kami melanjutkan perjalanan ke pelabuhan Tomok, pelabuhan Tomok ini adalah pelabuhan penyeberangan kapal ferry dari pulau samosir ke pelabuhan Ajibata di Parapat. Kami akan menyeberang pada sore hari, dan sambil menunggu waktu tersebut, kami melancong ke situs Makam Raja Sidabutar, di sekitar daerah tersebut ada pertunjukan Si Gale-gale, boneka kayu yang di gerakkan untuk menari mengikuti irama musik batak. Sedikit tips buat yang kebetulan nonton tari ini, dalam pertunjukannya, akan banyak anak-anak yang ikut menari, dan biasanya mereka akan menarik kita dan mengajak untuk menari, tapi tidak berapa lama, mereka akan minta saweran pada anda hahahhaha….dan sepertinya ini memang bagian dari pertunjukan, terbukti apabila yang ditarik adalah orang batak juga, orang itu pasti sudah menyiapkan uang sawerannya =D

Makam Raja Sidabutar

Boneka Sigale-gale

Anak-anak menari bersama boneka Sigale-gale

(katanya) Makam Raja Sidabutar

Berjalan lah terus melewati pasar, akan ketemu tempat ini

"Pergilah kau dan kawan-kawanmu dengan damai"

Ada kejadian menarik ketika kami berada di pasar Makam Raja Sidabutar ini, seorang kawan yang kebetulan memiliki kemampuan menawar dengan "sadis" berusaha untuk mendapatkan beberapa souvenir dengan harga yang sangat murah, tawar menawar berlangsung lama dan alot, tampak sekali ke khas-an dari penjual dan kawanku itu yang juga berdarah Batak.

Hingga tiba di satu titik saat sang penjual (mungkin) kesal dengan kawanku ini, maka terucaplah "Pergilah kau dan kawan-kawanmu dengan damai!!!" Huahahhahahahha....


Hujan deras mengiringi saat kami melintasi Danau Toba malam itu, setelah tiba di Parapat kami langsung menuju Pematang Siantar dan akan bermalam di sana. Jalan-jalan ke Sumatera tanpa mencicipi durian rasanya kok kurang pas, maka dalam perjalanan, kami sempatkan untuk mampir sejenak di pedagang durian yang cukup banyak di sepanjang jalanan kota Pematang Siantar ini.

Sabtu, 26 Januari 2013
Selesai sarapan kami melanjutkan perjalanan kembali, tujuan kali ini adalah Dolok Tinggi Raja di Kabupaten Simalungun, tempat apaan sih itu?? Gak tau juga, karena kami tidak pernah sampai ke tempat itu.

Tengah hari, yang entah kapan tibanya, sang sopir menghentikan mobil mendadak, rasa lapar dia sudah tidak bisa di tolak rupanya. Dan kami pun menepi untuk bersantap siang, di kala santap siang itulah kami mendapat info tentang kondisi jalan yang harus kami lalui untuk sampai di Dolok Tinggi Raja, dari warga yang turut makan siang itu, kami mendengar bahwa untuk sampai di lokasi tujuan masih sangat jauh sekali, dan jalannya pun masih rusak parah, dulu memang lokasi tersebut banyak yang mengunjungi, tapi sekarang karena tidak terawat dengan baik, sudah jarang ada orang yang kesana.

Informasi ini menggoyahkan keinginan kami, dan kami pun sepakat untuk mengurungkan niat pergi ke sana, akhirnya setelah selesai makan siang, kami langsung menuju Bukit Lawang. Sampai di sana sudah larut, namun rasa lelah kami setelah seharian berkendara terbayar oleh canda tawa penuh keakraban dengan diiringi lagu-lagu asyik. Malam itu pun kami lewati dengan penuh keriangan.

Minggu, 27 Januari 2013
Hari terakhir dalam trip kali ini, rencananya hari ini kami akan berjalan menyusuri hutan untuk melihat penangkaran Orang Utan, memang Bukit Lawang tempat kami menginap ini merupakan lokasi yang masuk dalam area Taman Nasional Gunung Leuser. Sayang, alam belum mengijinkan, arus sungai sangat deras sejak semalam hingga pagi itu, mungkin sedang hujan di atas gunung sana, sehingga kami tidak bisa menyeberanginya. Jadi kami lewati pagi itu dengan bersenda gurau, melamun, foto-foto, ngejar capung, menyulam, mengupil, kayang, cerita-cerita dan lain sebagainya. Tidak berapa lama kami pun pulang menuju Bandara Polonia, tak lupa mampir di toko oleh-oleh khas Medan.

Peringatan yang ada di kamar penginapan

Sungai di depan penginapan
 
Suasana sekitar penginapan


Dan dalam perjalanan pulang itu kami sempat mampir ke sebuah gereja komunitas India di Medan, namanya Gereja Maria Annai Velangkanni. Wow...bangunannya keren, letaknya tidak persis di pinggir jalan, jadi dari jalan raya gereja ini tidak tampak, tapi begitu masuk sedikit di dalam sebuah jalan kecil, akan terlihat gerejanya. Awalnya aku mengira itu adalah vihara, ya mirip vihara-vihara komunitas india di Malaysia gitu, tapi ternyata itu bukan, itu adalah sebuah gereja Katolik.

Salah satu tulisan tentang gereja ini, bisa dibaca disini : travel.kompas.com
Gereja Maria Annai Velangkanni.

Gereja Maria Annai Velangkanni.

Gereja Maria Annai Velangkanni.

Gereja Maria Annai Velangkanni.
Lima hari sudah kami bersama, entah sudah berapa ribu kilometer dari Sumatera Utara yang kami jelajahi, berapa ribu kata terucap, berapa ribu kali pula kami tergelak, banyak cerita yang terangkai, dan tulisan kecil ini hanya sebagian kecil dari cerita itu. Terima kasih Tuhan atas perlindunganmu kepada kami dalam perjalanan kali ini, terima kasih Tuhan telah mempertemukan kami dalam sebuah perjalanan, terima kasih atas teman-teman baik yang kami jumpai dalam perjalanan ini. Alhamdulillah

Indonesia itu surga, kawan. Takkan pernah cukup usia untuk kita menjelajahinya !!!
        
Saya bisa di hubungi via email di adinugraha84@gmail.com atau twitter @adisn84 ^_^

Komentar

  1. gw orang SUMUT aja bahkan belum pernah datang ke beberapa tempat yg lu sebutin di.. great post. SUMUT memang unik. lo gak akan temui provinsi dengan keberagaman ras yg seperti di SUMUT. gak ada mayoritas disana. kalau jalan kearah pantai timur, maka adat melayulah yg dominan. kalau pantai barat. jejak akulturasi minang+ batak yg mana kebanyakan ekonom2 indonesia berasal. sayang kalian gak s empat nyebrang ke penangkaran orang utan

    BalasHapus
  2. Iya dok, suatu hari nanti gw pengen banget balik lagi ke sana, khususnya ke Bukit Lawang hehehehe....makasih udah mampir ya :)

    BalasHapus

Posting Komentar