Menjejak Jejak Kerajaan Gowa di Somba Opu


Tak...tok...tak...tok suara palu dari tukang bangunan yang sedang bekerja di luar kamar membangunkanku, kuambil HP dan angka 10.14 tertera jelas di layar, sudah cukup siang rupanya, sudah saatnya merangkai cerita di hari kedua di kota Makassar ini. Rasa lelah masih menyatu dengan ragaku, namun rasa itu berimbang dengan cerita penuh senyum setelah hari kemarin seharian bersukaria di Pulau Samalona (baca di sini --> Samalona Berkesan, Samalona berpesan).



Aku tidak punya rencana kemana-mana hari ini, jadi aku lewati siang dengan santai sekali, sambil menunggu baju dan celana yang aku cuci semalam mengering. Hehehe....jarang-jarang aku nyuci baju pas ngetrip, tapi kali ini aku paksakan cuci, karena jadwal pulangku masih lama dan biar gak bau serta berat dibawa kemana-mana, lagi pula aku punya waktu untuk melakukannya :)

Sekitar jam 1 siang aku check out dari penginapan, setelah sempat googling tujuan wisata apalagi yang dekat dengan kota Makassar, maka aku putuskan untuk pergi ke Benteng Somba Opu, Benteng Somba Opu adalah sebuah situs reruntuhan benteng yang terletak di Kabupaten Gowa, jaraknya tidak terlalu jauh dari kota Makassar, mungkin sekitar 30-40 menit kita sudah sampai di lokasi, untuk menuju lokasi aku menggunakan pete-pete jurusan Cenderawasih dari depan MTC/ karebosi, tanya saja ke sopirnya, apakah pete-pete tersebut melewati kawasan Benteng Somba Opu. Hati-hati salah arah, karena nama Somba Opu ada dua lokasi di Makassar, selain benteng Somba Opu, ada sebuah nama jalan pusat belanja oleh-oleh dan toko emas di dekat pantai losari yang bernama jalan Somba Opu. Oleh sopir pete-pete kita akan diturunkan di sebuah pertigaan, sayang saya lupa menanyakan nama lokasi pertigaan tersebut, yang pasti dari pertigaan tersebut kita akan berjalan melintasi sebuah jembatan besi yang sungai dibawahnya tertutup eceng gondok. Dari jembatan tersebut menuju lokasi benteng berjarak kurang lebih 400-500 meter. Jika tidak mau jalan kaki, kita bisa menggunakan bentor yang banyak mangkal di pertigaan, ongkosnya sebesar Rp. 10.000.


Lapangan rumput?? Bukan!! Itu sungai yang tertutup eceng gondok

Tampak dari arah jembatan
Ini sisi lainnya


Dalam perjalanan menuju lokasi kompleks benteng tersebut, kita akan berjumpa dengan wahana permainan air semacam waterbom yang bernama Gowa Discovery Park, selain kolam air/renang, di wahana tersebut juga terdapat taman burung dan tree top area (gak tau deh itu area apaan). 


Pintu masuk Gowa Discovery Park

Tarif masuk wahana-wahana di Gowa Discovery Park


Memasuki komplek Benteng Somba Opu, kita juga akan melewati rumah-rumah adat suku yang ada di Sulawesi Selatan, sepertinya konsep pengembangan kawasan ini menyerupai Taman Mini Indonesia indah di Jakarta. Aku memulai tur dari kawasan paling belakang benteng, entahlah, tak ada keterangan atau informasi yang bisa aku temukan di area sekitar, di hadapanku kini teronggok sebuah reruntuhan bangunan yang dulu mungkin berfungsi sebagai pagar atau tembok.

Ada sebuah plang yang terpasang di sana, dalam plang tersebut di jelaskan bahwa Benteng Somba opu didirikan dari tanah liat pada abad ke - 16 oleh Raja Gowa ke-9 Karaeng Tumapakrisi Kallona yang kemudian oleh Karaeng Tunipallangga Ulaweng (raja Gowa ke-10) diperkuat dengan mendirikan bastion dari batu bata. Dan pada masa pemerintahan Tunijallo (Raja Gowa XII) benteng mulai dipersenjatai dengan meriam-meriam berkaliber berat pada setiap sudut benteng (bastion).Secara arkeologis, hingga saat ini bentuk asli benteng memang belum di ketahui, namun dari sebuah catatan hasil stilasi Francois Valentijn yang kemudian disempurnakan kembali oleh Bleau dalam sebuah peta berangka tahun 1638, diketahui bahwa Benteng Somba Opu berbentuk segi empat panjang. Di dalam benteng dahulu terdapat istana raja, rumah para bangsawan, pembesar dan pegawai-pegawai kerajaan. pembangunan Benteng Somba Opu terus berlanjut hingga masa pemerintahan raja Gowa-XIV Sultan Alauddin, bahkan setelah Sultan Hasanuddin memerintah Kerajaan Gowa, perkembangan di benteng/kota Somba Opu semakin pesat dan menjadi pusat pemerintahan sekaligus salah satu kota niaga yang sibuk di asia tenggara. Tahun 1669, penjajajah Belanda membumihanguskan Benteng Somba Opu dalam sebuah perang sengit antara Sultan Hasanuddin dengan Belanda. Peristiwa tersebut juga menjadi awal keruntuhan benteng Somba Opu dan Kerajaan Gowa.



Peta Komplek Benteng Somba Opu

Benteng Somba Opu

Benteng Somba Opu

Benteng Somba opu

Kata orang-orang disitu sih, ini kuburan, tapi gak tau kuburan siapa

Benteng Somba Opu

Rumah Adat Kabupaten Gowa
Balla Labbirina Ujung Panjang

Rumah Adat Kabupaten Majene

Rumah Adat Kabupaten Kajang

Puing-puing Benteng Somba Opu
Museum Karaeng Pattingalloang

Museum Karaeng Pattingalloang

Ruang Dalam Museum Karaeng Pattingalloang

Koleksi Museum Karaeng Pattingalloang

Rumah Adat Kabupaten Bulukumba

Rumah Adat Kabupaten Soppeng

Koleksi Lukisan Museum Karaeng Pattingalloang

Koleksi Museum Karaeng Pattingalloang

Rumah Adat Kabupaten Luwu

Rumah Adat Toraja


Puing Benteng Somba Opu

Tidak terlalu lama aku berada di lokasi komplek Benteng Somba Opu, setelah tiba kembali di kota Makassar, aku langsung mencari penginapan, dari seorang teman aku diberi informasi bahwa ada penginapan murah di jalan Jampea, letak jalan jampea ini mudah di temukan, ciri khasnya adalah gapura masuk menuju jalan tersebut yang berbentuk ornamen cina, mungkin karena jalan jampea sudah masuk kawasan china townnya kota Makassar (CMIIW). Aku membayar Rp. 130.000 untuk kamar yang aku tumpangi, dengan harga segitu aku mendapatkan kamar AC yang cukup bersih, kamar mandi dalam yang bersih, TV kabel dan sarapan, lumayan laaah :) Penginapan ini juga memiliki kamar kelas dorm dengan 4 tempat tidur, kalo gak salah harganya Rp. 80.000

Sesudah istirahat sejenak dan mandi sore, aku keluar penginapan dan menikmati kota di kala senja, aku telusuri jalan penghiburan hingga mencapai pantai losari, aku kembali dengan arah jalan yang berlawanan, kali ini aku lewati jalan Somba Opu dan melihat-lihat aneka jajanan serta oleh-oleh khas makassar yang dijual disana. Setelah cukup puas, aku pulang ke penginapan dengan membawa bungkusan berisi kacang mete untuk mamah, dan kopi toraja untuk papah :)


Indonesia itu surga, kawan. Takkan pernah cukup usia untuk kita menjelajahinya !!!  

-Makassar, Sulawesi Selatan 31 Maret 2013-

Komentar