Melihat Permainan "Feeding Frenzy" Secara Nyata




Kokok ayam jago sayup terdengar, tidak lama kemudian adzan subuh berkumandang, pagi manis di senggigi kala itu. Tidak terasa ini adalah hari keempat aku di Lombok, sebuah anugrah indah dari Ia Sang Maha Pengasih. Sepagi mungkin aku dan Niko meninggalkan penginapan kami, namun ransel Niko yang besar tidak kami bawa, rencananya memang aku akan menginap satu malam lagi di penginapan itu, sedangkan Niko malam ini akan pulang. Agak repot memang jika kami membawa ransel itu, karena kami hari ini akan bermotor ria untuk menuju suatu daerah yang bernama Sekotong Barat, dan di Sekotong Barat itu kami akan snorkeling seharian =) Eh tunggu deh, sudah pada tau Niko kan?? hehehe.....Niko ini salah satu travel photographer favoritku, karya-karya dia sebagian besar bisa dilihat disini.

Seperti sudah aku ceritakan sebelumnya (baca : Lombok Yang Hampir Terlupakan) aktivitas pagi di Senggigi memang berjalan lambat, saat itu padahal sudah sekitar pukul 7 pagi, namun masih sedikit sekali toko-toko maupun rental motor yang buka. Ya, kesalahan kami untuk tidak meminjam motor pada malam harinya, kami tidak duga bahwa rata-rata rental motor di senggigi ini baru buka pukul 8 WITA. Setelah dua kali memutari jalanan senggigi akhirnya kami putuskan untuk menggunakan taksi saja ke Mataram, di mataram nanti kami akan bertemu dengan dua teman kami dari Lombok Backpacker, yaitu mba Setiawati dan Fifin. Kebetulan mereka berdua membawa motor, jadi pas sekali, kami pun berboncengan dengan dua motor menuju Sekotong.

Bermotor di Lombok ini cukup menyenangkan, selain jalanan yang masih mulus dipadu dengan pemandangan garis pantai yang luar biasa, jumlah kendaraan yang melintas pun tidak terlalu banyak, sehingga kita bisa memacu kendaraan dengan maksimal, namun tentu saja kewaspadaan sangat diperlukan, jalanan kosong dan halus bukanlah tanpa ancaman, kadang kala ada ternak atau penyeberang jalan yang melintas secara tiba-tiba. Ditengah perjalanan kami singgah di warung makan untuk sarapan dan membeli bekal untuk makan siang, berdasarkan informasi dari mba Wati, lokasi yang akan kami datangi untuk hoping island memang rata-rata adalah pulau (orang Lombok menyebutnya Gili) tidak berpenghuni, jadi jika tidak membawa bekal, alangkah repotnya dikala lapar siang nanti.  

Salah satu view yang kami lihat dalam perjalanan menuju sekotong

Cukup lama dan jauh perjalanan yang kami tempuh, matahari sudah cukup tinggi ketika kami tiba di sebuah dermaga kecil tempat penduduk sekitar menyeberang dengan perahu, aku tidak tahu dengan persis nama tempat itu, yang pasti kami berhenti setelah melewati sebuah gapura dengan tulisan SELAMAT DATANG DI DESA PELANGAN. Cukup lama kami menunggu perahu yang akan kami sewa hari itu, nantinya perahu itu akan mengantarkan kami ke spot-spot terbaik snorkeling. Akhirnya muncul juga sebuah perahu kecil berkapasitas 6-8 orang yang kami sewa. Dan setelah semua naik perahu, kami langsung menuju spot pertama bersnorkling. Kawan, aku minta maaf karena aku sungguh lupa nama spot-spot snorkeling yang kami datangi, aku hanya ingat sebagian besarnya saja, yaitu di sekitar Asahan, Layar, Rengit, dan Gili Gede. Aku merasa beruntung hari itu kami snorkeling bersama mba Wati yang luar biasa khatam lokasi terbaik untuk snorkeling disana, jadi jangan sungkan untuk berkawan dengannya dan mengajak dia keliling-keliling ketika kamu mengunjungi Lombok.


Tugu selamat datang

Aku sangat terkesan ketika snorkeling kali ini, seumur hidup baru saat itulah aku snorkeling dan disajikan pemandangan alami bawah laut yang luar biasa, entah karena kebetulan atau bukan yang pasti kami mendatangi lokasi snorkeling tersebut pada saat ikan-ikan naik kepermukaan untuk makan. Aku snorkeling di tengah-tengah koloni ikan yang jumlahnya ratusan, aku serasa berada dalam sebuah game komputer "Feeding Frenzy" yang dahulu sering aku mainkan. Di depan mataku seleksi alam itu terjadi, dimana ikan kecil dimakan oleh ikan besar dan begitu seterusnya. Dan dalam bergerombol itu, ikan-ikan tersebut berenang seraya menari-nari mengikuti arus, yang paling menakjubkan adalah saat gerombolan itu berenang kearahku, dan ketika akan menabrak mereka menghindar seirama. subhannallah.


















"Woy, sudah jam 3 !!!" Peringatan tersebut sungguh mengagetkan kami, ya memang, rencana awalnya adalah jam 3 kami sudah berada di dermaga kembali untuk pulang karena pesawat Niko menuju Jakarta adalah jam 7 malam. Namun kini kami masih jauh dari dermaga, akhirnya kami bergegas menuju perahu dan meminta kapten kapal untuk mempercepat perahunya. Ada yang unik dalam perjalanan pulang kala itu, saat masih diperahu menuju dermaga, kami dihadang oleh hujan yang membentuk tirai di depan kami, dan setelah masuk kedalam tirai air tersebut di kejauhan kami melihat pelangi. 



Tirai air

Ada pelangi

 
Pak Dul, kapten kapal kami :D


Begitu perahu merapat, bergegas kami mengambil motor, tak lupa kami membayar kapal dan berterima kasih atas jasanya. Aku memacu motor dengan kecepatan yang sangat tinggi, hujan deras sempat menghadang kami kala itu, dan di dalam perjalanan, mba Wati yang aku bonceng berkali-kali khawatir akan adanya Nyangkolan. Yaitu pawai dari rombongan orang yang baru menikah, lengkap dengan keluarganya dan iring-iringan musik, kegiatan itu biasanya menggunakan jalan raya sehingga seringkali menyebabkan kemacetan yang luar biasa. Sialnya kekhawatiran mba Wati terjadi, kami bertemu dengan rombongan itu di tengah jalan.

Sekitar pukul 18 WITA aku dan mba Wati tiba di Senggigi, kami langsung menuju penginapan untuk mengambil ransel Niko, dan ketika kami telepon, Niko masih berada di daerah Mataram, akhirnya dengan segala pertimbangan, Niko balik arah langsung menuju bandara, ransel akan aku bawa ke Jakarta keesokan harinya, dan Alhamdulillah, Nico berhasil sampai bandara sebelum pesawatnya berangkat.   

Saat pulang, ketemu view seperti ini


-Lombok, Nusa Tenggara Barat 11 Mei 2013-  


Keesokan harinya....
Ini hari terakhir aku di Lombok, tak pernah lelah aku mengucap syukur atas segala nikmatnya, Alhamdulillah. Setelah selesai mandi dan packing ulang, aku pun pergi meninggalkan penginapan itu, rasa lelah dan barang bawaanku yang menjadi banyak secara mendadak membuat aku memutuskan untuk menggunakan taksi saja ke Bandara, kurang dari 150rb uang yang harus aku keluarkan saat itu. Di Bandara aku bertemu dengan Malem Kristina Ginting, teman sesama pejalan dari Jakarta, dia dan beberapa kawannya baru saja turun dari Rinjani, dan ternyata kami menaiki pesawat yang sama ketika pergi ke Lombok, namun kami tidak bertemu saat itu. hehehhe....sungguh ruang dan waktu yang sempit bagi sesama pejalan.

Indonesia itu surga, kawan. Takkan pernah cukup usia untuk kita menjelajahinya !!!

-Lombok, Nusa Tenggara Barat 12 Mei 2013-  

Komentar