Letak Bahagia Memang Seharusnya di Akhir



Bahagia itu sederhana, kalimat singkat itu mungkin sudah sering kita dengar atau ucapkan, dan dalam perjalananku kali ini aku pun mengalaminya. Hari terakhir perjalanan, yang aku habiskan 'hanya' dengan bertemu beberapa teman dan pergi ke Intramuros bersama, ternyata justru menjadi hari yang paling membahagiakan selama aku berada di Filipina. Karena dihari yang sangat cerah itu aku bertemu kembali dengan dua orang temanku warga negara Filipina setelah sekian lama tidak bertemu. Selain mereka berdua, aku juga bertemu lagi dengan dua teman asal Indonesia yang beberapa hari sebelumnya kami bersama-sama berada di El Nido.



Topan Yolanda (yang di dunia internasional lebih dikenal dengan nama Haiyan) menerjang Filipina pada pertengahan minggu di awal November itu, selain memporak-porandakan beberapa tempat di Filipina, topan tersebut juga memporak-porandakan berbagai rencanaku selama di Filipina. Kepulauan Palawan yang menjadi tempat tujuanku selama di Manila merupakan salah satu daerah yang dilewati topan ini. Ditambah kesalahan perhitungan pengeluaran selama di sini, membuat aku kian meradang selama di Palawan.

Tujuanku utamaku di Palawan adalah ke El Nido, sebuah lokasi wisata pantai dengan tebing-tebing batu yang mengelilingi, melalui @DuaRansel lah aku mengetahui tentang El Nido, lewat foto-foto dan cerita mereka aku tertarik untuk datang kesana, maka ketika Cebu Pacific Air menjual tiket promo ke sana (via Manila) tanpa ragu aku membelinya. Untuk mencapai El Nido dari Jakarta kita harus menuju Manila terlebih dahulu, penerbangan Jakarta - Manila ditempuh kurang lebih selama 3 jam, dan dari Manila ke Palawan ditempuh selama 1 jam penerbangan. Di Palawan kita akan mendarat di kota Puerto Princesa, dan dari Puerto Princesa ini lah kita akan menempuh perjalanan darat dengan bus atau van ke El Nido selama 6 - 7 jam. Maka katakanlah dibutuhkan waktu satu hari perjalanan untuk menuju El Nido ini, jauh bukan hehehehe....



Hari ke - 2

Aku turun dari bus Cherry di terminal El Nido sekitar jam 3 pagi, satu persatu penumpang yang kebanyakan merupakan warga lokal pergi meninggalkan terminal dengan menggunakan Tricycle, tinggallah aku dan seorang pejalan dari Medan bernama @kokorocha yang baru saja ku kenal saat tiba di terminal El Nido. Saat langit mulai bercahaya kami beranjak dari terminal, tarif tricycle sebesar P40 (1 Peso = -/+ Rp. 280 kurs November 2013) kami tanggung bersama, tujuan pertama yaitu sebuah penginapan yang telah @kokorocha pesan sebelum dia tiba di El Nido, setelah ketemu, tinggal aku yang mencari-cari tempat untuk aku bermalam malam ini. Setelah keluar masuk berbagai penginapan dengan berbagai varian harga, akhirnya aku menemukan sebuah penginapan yang cocok dan lucunya adalah penginapan ini terletak persis di depan penginapannya @kokorocha =D



Bandara Puerto Princesa, terminalnya sangat kecil

Bus Cherry jurusan San Jose ( Puerto Princesa) - El Nido

Selain Bus Cherry, kita juga bisa menaiki Bus Roro dengan jurusan yang sama

Penginapanku bernama Plaza Inn, letaknya tidak persis di pinggir jalan, bahkan penampakannya terhalang oleh truk-truk besar yang parkir dilahan kosong didepan penginapan, kita harus bertanya untuk menemukan letak penginapan ini. Seorang bapak tua penjaga penginapan mengajakku untuk melihat kamar yang masih kosong, dia memberikan harga sebesar P500 per malam untuk kamar private dengan kipas angin dan shared bathroom, rasa lelah dan kamar yang cukup bersih membuatku tidak pikir panjang untuk mengambil kamar itu. Untuk daerah wisata dengan letak yang cukup strategis aku rasa harga penginapan ini cukup murah, dari cerita bapak penjaga penginapan itu aku tahu kalau memang belum terlalu banyak wisatawan yang menginap disana, rata-rata yang menginap disana adalah sopir dan kernet truk-truk besar lintas kota yang mengirimkan muatan aneka barang di daerah El Nido.

Tidak ingin membuang waktu, begitu selesai urusan penginapan aku langsung mencari agen yang menjual paket hoping island di El Nido, untuk menikmati pulau-pulau di El Nido kita harus mengikuti tur dengan mengambil paket hoping island, jangan takut diberi harga yang kemahalan disini, karena sejauh pemantauanku semua agen menjual paket dengan harga yang sama, mereka membagi tur menjadi empat paket, yaitu paket Tour A, Tour B, Tour C, dan Tour D dengan kisaran harga antar P600 sampai P800 sudah termasuk makan siang, tur dimulai pukul 9 pagi dan selesai jam 4 sore. Selain biaya tur tersebut, kita juga akan dikenakan biaya ijin masuk lokasi wisata sebesar P200 yang dibayarkan hanya sekali dan berlaku selama 10 hari.

Saat aku membeli paket tur disebuah konter yang merupakan front office sebuah penginapan, ibu penjual yang mengetahui aku orang Indonesia mengatakan bahwa saat itu dia juga ada tamu orang Indonesia dan sama-sama akan ikut tur paket A. Aku tersenyum lebar setelah mengetahui bahwa orang Indonesia yang dimaksud ibu itu adalah teman baikku dari Jakarta, aku memang mengetahui dia dan seorang temannya juga sedang berada di El Nido, dan aku berniat mencari dia setelah dapat paket tur, tak disangka aku bertemu dia lebih cepat, syukurlah.




View pantai El Nido

View Pantai El-Nido

View Pantai El-Nido

View Pantai El-Nido

View pantai El-Nido


View saat Hoping Island

View saat Hoping Island, Pulau Helikopter

View saat Hoping Island

View saat Hoping Island


View saat Hoping Island

View saat Hoping Island

View saat Hoping Island

View saat Hoping Island

View saat Hoping Island
Hari ke - 3

Aku terbangun sangat siang di hari kedua aku di El Nido, sudah sangat terlambat untuk mengambil paket tur hari itu, setelah mandi aku check out dari Plaza Inn dan mencari penginapan baru, bukan tidak betah dengan kamarku di Plaza Inn, tapi aku ingin sekedar mencari pengalaman di tempat lain. Dan aku mendapat penginapan berupa kamar dorm seharga P300 di sebuah penginapan bernama La Banane. Waktu senggang seharian yang aku miliki aku habiskan dengan tidur dan membaca habis sebuah buku yang memang aku bawa dari Indonesia, waktu luang yang kita gunakan untuk membaca buku sesungguhnya merupakan sebuah anugerah.



Suasana sekitar penginapan La Banane

Suasana sekitar penginapan La Banane

Suasana sekitar penginapan La Banane

Suasana sekitar penginapan La Banane

Suasana sekitar penginapan La Banane

Suasana sekitar penginapan La Banane

Suasana sekitar penginapan La Banane

Suasana sekitar penginapan La Banane

Warga lokal berpergian dengan jeepney, kendaraan khas Filipina

Siang telah menjelang, aku mendapat informasi tentang adanya angin topan yang sedang menuju Filipina, dan sialnya adalah wilayah Palawan termasuk salah satu wilayah yang akan dilewati angin topan tersebut. Rasa khawatir dan bingung menyergapku, kedua temanku telah pergi menuju Manila sejak pagi, mereka yang seharusnya pergi ke Coron hari itu membatalkan perjalanannya karena pelayaran menuju Coron dibatalkan akibat cuaca buruk. Sore harinya hujan dan angin kencang mulai menerpa El Nido, maka kupikir esok hari sesegera mungkin aku harus pergi dari El Nido, perjalanan El Nido menuju Puerto Princesa yang melewati beberapa tebing dan bukit membuatku khawatir akan adanya longsor, jadi jikapun nanti harus terjebak angin topan, minimal aku berada di kota yang memiliki akses bandara. 



Hari Ke - 4

Keesokan harinya setelah mandi dan sarapan aku langsung menuju terminal El Nido, aku mencoba berjalan kaki menuju terminal yang juga difungsikan sebagai pasar rakyat tersebut, sekitar 15 menit berjalan kaki dengan santai aku pun tiba di terminal, dan aku mendapatkan informasi jika hari itu tidak ada bis siang yang beroperasi karena cuaca buruk, satu-satunya transportasi menuju Puerto Princesa adalah mobil van dengan tarif sebesar P500. Tidak ada pilihan lain, aku pun menaiki mobil van tersebut untuk manuju Puerto Princesa.



Terminal bus El Nido yang juga berfungsi sebagai pasar

Hujan deras menyambut kami di Puerto Princesa, turun dari van aku langsung naik tricycle dan minta diantarkan ke Puerto Bay View Backpacker Hostel yang berada di jalan Manalo, setelah sepakat dengan harganya maka kami menembus hujan untuk menuju penginapan yang telah aku pesan lewat situs pencarian hotel tersebut. Sungguh malang nasibku, setelah kurang lebih lima kali kami bolak balik jalan manalo dari ujung satu ke ujung satunya lagi kami tidak menemukan penginapan tersebut. Sang sopir tricycle pun putus asa, maka aku memintanya agar aku dapat diantarkan saja ke penginapan yang murah. Akhirnya malam itu aku memang mendapatkan penginapan yang murah, namun sungguh  sangat tidak nyaman, aku pun berharap matahari pagi segera bersinar agar aku dapat segera keluar dari penginapan itu. 


Hari ke - 5

Sepagi mungkin aku pergi dari penginapan itu, tricycle mengantarkanku ke bandara dengan cepat, bandara Puerto Princesa ini sangatlah kecil, untuk masuk kedalam bandaranya kita harus mengantri dengan cukup panjang, hari itu mesin pemindai x-ray bandara sedang rusak, alhasil backpack ku yang sudah aku packing dengan rapih dibongkar lagi untuk pemeriksaan. Sejak awal aku sudah menduga bahwa penerbanganku menuju Manila akan di cancel hari itu karena cuaca buruk, sialnya dugaanku itu benar, pesawatku di cancel dan aku diberikan penerbangan pengganti esok harinya, namun jam penerbangannya sangatlah tidak cocok. Karena penerbangan pagi dan siang sudah penuh maka aku mendapatkan penerbangan sore hari pukul 18.00, jelas ini tidak bisa diterima karena penerbangan pulangku menuju Jakarta besok adalah pukul 20.00, terlalu beresiko. Satu-satunya solusi yang diberikan oleh pihak Cebu Pacific Air adalah besok aku harus datang pagi ke bandara dan berharap ada penumpang yang batal berangkat baik di penerbangan pagi maupun penerbangan siang, berjudi.

Kesal, lelah, marah, lapar, dan gatal merupakan kombinasi yang buruk. Aku harus tenang menghadapi kondisi ini, tapi sangat sulit untuk tenang mengingat uang tunai yang aku bawa hanya tinggal sebesar P1000. Sedangkan biaya pasti yang harus kubayarkan adalah P100 untuk pajak bandara Puerto Princesa dan P550 untuk pajak bandara Manila. Sisa uang sebesar P350 harus dapat aku gunakan untuk penginapan dan makan hari itu, dalam kebingunganku aku teringat kalau aku masih memiliki kartu kredit yang bisa aku gunakan, memang aku belum pernah menggunakan kartu kredit ini secara langsung sebelumnya, aku masih tidak yakin apakah ini dapat bekerja, namun tidak ada salahnya mencoba. 


Bandara Puerto Princesa yang tidak memiliki koneksi internet (wifi) membuatku harus mencari warnet untuk memesan hotel lewat situs pencari hotel, saat itulah aku mendatangi kantor dinas pariwisata Puerto Princesa yang terletak persis disebelah bandara untuk menanyakan letak warnet terdekat, kepada seorang petugas bernama Solomon aku menceritakan nasibku, dan alhamdulillah dia dengan berbaik hati membantuku mencarikan penginapan yang bisa dibayar dengan kartu kredit. Aku mendapatkan penginapan bernama D`lucky dengan tarif yang cukup mahal, yaitu seharga P790 permalam dengan segala fasilitasnya. Dan pada saat check-in, saat kartu kreditku diambil oleh petugas hotel, jantungku berdegup keras serta keringat dingin mulai terasa, dannnnnn......berhasil, alhamdulillah. Maka begitu masuk kamar aku langsung mandi lalu tidur hingga sore hari.

Mr. Solomon, petugas dinas pariwisata Puerto Princesa yang baik hati

Kamar seharga P790

Kamar seharga P790

Suara gaduh diluar kamar membangunkanku, angin kencang menderu disertai hujan yang sangat lebat sore itu, tampak beberapa petugas hotel sibuk menghalau air yang mulai masuk menggenangi restoran. Badai telah tiba di puerto princesa pikirku, aku merasa beruntung berada di penginapan yang sangat nyaman dalam menghadapi situasi cuaca buruk seperti ini, dan melalui berita di tv lokal aku melihat dampak parah dari cuaca buruk yang melanda Filipina, salah satunya adalah banjir di Kota Roxas yang kami lalui saat menuju Puerto Princesa dari El Nido kemarin, dibalik keprihatinan dan kesedihan, ada rasa syukur karena perjalanan kami tidak menemui hambatan berarti kemarin.

Setelah mempertimbangkan banyak hal, akhirnya aku putuskan untuk membeli tiket pesawat penerbangan pagi menuju Manila dari maskapai lain, melalui situs pencari tiket aku mendapatkan tiket penerbangan jam 10 pagi menuju Manila dengan pesawat Zest Air, mahal memang, tapi mungkin memang sudah seperti ini seharusnya, yang pasti adalah aku bisa aman tidak tertinggal pesawat menuju Jakarta dimalam harinya, dan yang terpenting adalah aku memiliki cukup waktu untuk sekedar bertemu dengan teman-temanku di Manila besok. Konfirmasi pembelian tiket sudah aku terima via email, kian malam hujan kian menjadi, kini aku hanya bisa berharap esok langit kan cerah, karena esok aku akan bertemu teman-temanku.


Hari ke - 6

Udara Puerto Princesa pagi itu masih sangat basah, setelah menghabiskan segelas sereal aku berangkat menuju bandara dengan diantarkan oleh mobil hotel, selama perjalanan kulihat beberapa orang sedang memperbaiki atap yang sempat rusak akibat hujan angin, beberapa pohon juga tampak tertidur tidak berdiri tegap setelah semalaman dihempas angin, namun matahari pagi itu sangat menghangatkan, seolah memberi kabar kalau badai telah berlalu.


Pesawat Zest Air yang aku naiki menuju Manila

Tengah hari pesawat yang aku tumpangi mendarat dengan selamat di Manila, Zest Air berhenti di terminal domestik (terminal 4) bandara NAIA, setelah keluar terminal aku langsung mengirimkan pesan kepada temanku yang memang akan menjemput, sempat menunggu beberapa saat, namun tidak lama kemudian tampaklah Jecel dan Rissa datang menjemput. Senang sekali akhirnya bisa bertemu mereka kembali dan menepati janji untuk mengunjungi mereka di Manila setelah mereka sempat berkunjung ke Jakarta beberapa waktu yang lalu. Dengan taksi kami pergi meninggalkan bandara untuk menuju daerah Makati di mana dua orang temanku Ferdinant dan Ibet tinggal selama mereka berada di Manila, dan setelah bertemu mereka, kami diperkenalkan kepada Lucas, seorang pejalan berkebangsaan Jerman yang akan ikut kami pergi ke Intramuros hari itu.

Singkat cerita kami berenam pergi ke Intramuros hari itu, Intramuros adalah sebuah komplek kota tua dengan berbagai bangunan klasiknya yang menjadi salah satu ikon kebanggaan pariwisata kota Manila. Aneka rasa sedih yang terserap selama beberapa hari kemarin, lebur sudah dalam canda tawa dan rasa bahagia pada hari itu, siang itu aku bahagia, bukan karena berada di sebuah tempat tapi karena aku bersama dengan teman-temanku. Aku yang kemarin asing dan sendiri dalam badai, hari itu ramai dan terasa hangat. Sungguh tepat kalimat yang membuka tulisan ini, bahwa bahagia itu sederhana, karena bersama teman-teman itu adalah bahagia, dan bahagia memang seharusnya berada di akhir.


Senyum di akhir perjalanan sangat menyenangkan

Bersama mereka aku bahagia

Duka cita mendalam bagi para korban Topan Yolanda (Haiyan), semoga derita yang mendera segera berakhir, berganti dengan hangat matahari yang memberikan harapan, amin.

- Filipina, 10 November 2013 -
 

Komentar

  1. view tebing-tebing hijau y keren banget..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hallo mas Indra, terima kasih sudah mampir :D

      Setuju banget mas, view tebing-tebingnya emang keren,

      Hapus
  2. aku blm pernah ke filipina. hihihi.

    soal bahagia seharusnya ada di akhir, kok aku lebih suka bahagia ada di awal, tengah, dan akhir perjalanan ya? :))

    BalasHapus
  3. Terima kasih sudah mampir mbok Venus, banyak yang menarik ternyata dari Filipina mbok, dan makin asik karena ada maskapai yang sering nyasih promo keren buat terbang ke Manila dari Jakarta hehehe...

    Memang idealnya kita harus bahagia di awal, tengah dan akhir.....sayang kadang perjalanan yang saya lakukan tidak seideal itu. Dan kebahagiaan yang ada diakhir adalah kebahagiaan paripurna, bukan hanya tentang kebahagiaan perjalanan kita menuju suatu tempat, tapi perjalanan dalam kehidupan kita *kibas poni*

    BalasHapus
  4. Sukaaa banget sama foto pantainya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mba Ika, Pantai di sana memang relatif masih bagus mba :)

      Hapus
  5. keren bangeeeet! huhuhuhu. pengen banget ke sana jadinya.
    rencana traveling berikutnya kemana lagi nih? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah singgah, Nuri. El Nido memang keren hehehe....Belum ada rencana nih, ajakin aku dong hehehehe

      Hapus
  6. aaaaaa, aku mau ke pantai ituuuuu >.<
    Semoga bisa ke sana setelah khatam pantai2 kece Indonesia :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo kakak, kita travelling rame-rame hehehehe

      Hapus
  7. wih keren tebing2nya, sekilas mirip raja ampat..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hallo bang Andre, terima kasih sudah mampir dan membaca artikel ini. Mmmhhh....saya belum pernah ke raja ampat sih, tapi kalo lihat foto-foto raja ampat yang ada di internet, kemungkinan besar memang seperti itu. Mudah-mudahan suatu hari saya bisa ke raja ampat ya :)

      Hapus

Posting Komentar