Ceroboh Berbuah Kejutan



Langit Jakarta yang berwarna jingga menjadi pemanis dalam perjalananku menuju bandara senja itu, hampir satu pekan lamanya aku akan meninggalkan sejenak hiruk pikuk kota Jakarta untuk kembali membuat cerita dalam sebuah perjalanan. Kali ini kota Bangkok yang menjadi tujuanku, kota yang akhir-akhir ini selalu berada dalam relung rindu diriku. Rencana pun telah tersusun, tiga malam di bangkok akan aku habiskan dengan mengunjungi Kota Ayuthayya dan museum lilin Madame Tussaud. Ah, senang bukan kepalang membayangkan terik matahari Ayuthayya membakar kulitku saat aku bersepeda mendatangi satu persatu situs bersejarah di kota kecil itu. Senang pula saat esok aku kan bisa berfoto dengan patung lilin tokoh-tokoh dunia di Madame Tussaud.


Namun perjalanan menuju Bangkok masih panjang bagiku, ini karena tiket yg kumiliki adalah tiket Jakarta-Kuala Lumpur, bukan tiket langsung menuju Bangkok. Rencananya malam pertama aku akan menginap di bandara LCCT Malaysia untuk esok paginya kembali terbang menuju Penang. Dari Penang aku akan melakukan perjalanan darat selama kurang lebih 5 jam menuju kota kecil di selatan Thailand, Had Yai. Baru dari Had Yai itulah aku akan terbang menuju Bangkok dengan maskapai lokal Thailand, Nok Air. Panjang? Iya. Ribet? Memang. Tapi cara itulah yang akan aku jalani agar bisa lebih murah untuk mencapai Bangkok dari Kuala Lumpur.

Hampir tengah malam saat pesawat yang aku tumpangi mendarat di bandara LCCT Malaysia, bandara yang sangat identik dengan maskapai penerbangan berbiaya rendah Malaysia, Air Asia. Bandara ini beroperasi 24 jam, jadi jangan pernah takut untuk kemalaman disini karena akan selalu ramai oleh pengunjung. Jika beruntung, beberapa bangku besi kosong bisa gunakan untuk tidur, tapi kalau tidak kebagian jangan malu untuk tidur dilantai, banyak orang melakukannya. Kabarnya, bandara LCCT ini akan berhenti beroperasi mulai tanggal 9 Mei 2014, semua aktivitas bandara akan di alihkan ke bandara KLIA 2 yang saat ini masih dalam tahap penyelesaian pembangunan.

Keesokan harinya, Pukul 07.00 pagi aku sudah tiba di Penang setelah menempuh kurang lebih 1 jam penerbangan dari Kuala Lumpur, Bandara Penang adalah sebuah bandara kecil yang bersih, sederhana, namun modern. Untuk menuju pusat kota Penang (Georgetown) kita bisa menggunakan Bus Rapid Penang yg haltenya berada tepat di sisi kiri depan bandara Penang. 2 Ringgit Malaysia (RM) tarif Rapid Penang dari bandara ke komtar, di komtar itulah nantinya aku akan membeli tiket van untuk menuju Had Yai melalui agen-agen perjalanan yang banyak terdapat di sana.

Siang harinya, tepat pukul 12 van yang akan membawa aku dan penumpang lainnya menuju Penang tiba, tak lama kemudian kami berangkat dan akan menempuh perjalanan selama kurang lebih 5 jam, dalam perjalanan van akan sekali berhenti untuk istirahat makan, lokasi peristirahatan itu sudah mendekati wilayah perbatasan Malaysia - Thailand dari sisi Malaysia. Di tempat peristirahatan ini kita akan jumpai beberapa penjual makanan, toko free duty, toilet, gerai penukaran uang dan penjual SIM card Malaysia maupun Thailand.

Begitu tiba di Had Yai aku langsung mencari transportasi menuju bandara, Pesawat Nok Air yang akan membawaku ke Bangkok nanti berangkat pukul 20.00. Setelah tanya sana-sini rupanya salah satu atau bahkan mungkin satu-satunya cara menuju bandara adalah dengan menggunakan Taksi, dan dari tanya sana-sini pula akhirnya aku membeli tiket dari salah satu agen travel yang ada seharga 300 Bath. Mahal. Aku diminta menunggu, dijanjikan taksi akan ada dalam waktu 5 menit, dan ternyata kurang dari 5 menit taksi telah datang. Senyum langsung tersungging dibibir begitu melihat taksi tersebut, sebuah sedan Toyota Altis dengan jok dan interior khas mobil mewah siap mengantarkanku menuju bandara. Pantas saja tarifnya mahal. Sebuah kejutan.

Perjalanan dari kota Had Yai menuju bandara ditempuh dalam waktu kurang dari 40 menit, bandara Had Yai sendiri merupakan sebuah bandara kecil yang mungkin jika dibandingkan akan kalah besar dari terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Semua berjalan dengan lancar, pesawat lepas landas 2 jam lagi, maka tidak ada alasan bagiku untuk terburu-buru. Hal itu pula yang membuatku sangat nyaman mengantri di counter check-in, empat orang berada dalam antrian didepanku dan salah satunya adalah seorang ibu muda yang membawa Anjing di dalam kurungan, Anjing itu terus menyalak, namun tampaknya tidak ada orang yang terganggu, apa kira-kira yang akan mereka lakukan terhadapnya ya?? membiusnya lalu memasukkan ke dalam bagasi kah??

Akhirnya tiba giliranku untuk check-in, berbalas senyum mengawali interaksiku dengan sang petugas yang manis. Dengan pasti aku serahkan passport yang didalamnya terdapat lembar konfirmasi pembelian tiket pesawat. Tidak berapa lama petugas itu pun berdiri dan memintaku untuk lebih mendekat, lalu dia menyampaikan sesuatu yang sangat mengejutkan sambil melingkari bulan yang tertera para lembar konfirmasi tiket. Jeger!!!! aku kaget bukan kepalang saat membaca bulan yang tertera pada lembar itu, dengan sangat jelas tertulis disana kalau tiket yang kumiliki adalah untuk bulan MAY, artinya aku membeli tiket untuk keberangkatan bulan depan !!! Beberapa saat aku terdiam tak tahu apa yang harus dilakukan, lalu aku meminta petugas itu untuk mengecek ulang apakah memang benar tiket yang ku beli itu salah. Dan....kenyataannya memang demikian hiks hiks hiks. Sebuah Kejutan.


Lembar Pemesanan Tiket,
seharusnya 17 April 2014 tapi karena ceroboh aku memesan untuk 17 Mei 2014

Duduk terdiam aku dalam kebingungan, menyesali keadaan dan berfikir apa yang selanjutnya harus aku lakukan. Apalagi tiket yang ku beli adalah tiket promo, jadi aku memiliki pilihan yang sangat terbatas untuk mengubahnya. Berbagai opsi telah aku pikirkan, termasuk membeli tiket baru yang saat itu harga tiket termurahnya adalah 1.900 Bath sekali jalan dengan pesawat Thai Lion Air. Semuanya menjadi kacau bagiku saat itu, malam semakin larut dan ragaku semakin lelah. Maka aku putuskan malam itu aku akan menginap satu malam di Had Yai. Perjalanan masih panjang, masih ada lima hari lagi yang akan aku lewati dengan segala keterbatasanku, dan malam itu dalam sebuah van bertarif 100 Bath yang mengantarkanku dari bandara menuju kota Had Yai aku pun tersenyum, tersenyum akan segala kecerobohanku, tersenyum untuk hari esok yang menjadi tidak pasti, tersenyum untuk setiap kejutan yang tercipta, dan selalu tersenyum sebagai rasa syukur atas perlindungan-Nya.  


- Had Yai, Thailand, 17 April 2014 -   

Komentar

Posting Komentar