6 Tahun yang Lalu

1 comment

Hari ini, 6 tahun yang lalu...

Kapal Motor Penyeberangan Muria yang aku tumpangi mulai melaju berlayar arungi Laut Jawa, perlahan-lahan Pelabuhan Baru yang menjadi gerbang utama memasuki kawasan Karimunjawa terlihat mengecil menjauh. Rasanya baru kemarin aku tiba, menjejakkan kaki untuk pertama kali di kawasan yang memiliki keindahan bawah laut yang sangat luar biasa. Rasanya baru kemarin aku dan beberapa teman yang baru aku kenal dalam perjalanan ini mendaki sebuah bukit di belakang penginapan kami untuk melihat panorama Pelabuhan Baru dari ketinggian. Namun hari ini kami harus pulang, kembali naik ke atas kapal dan berlayar menuju Pelabuhan Kartini di Jepara selama enam jam lamanya. Saat tiba di Jepara nanti, perjalanan masih harus kami lanjutkan menuju Jakarta dengan menggunakan bus. Aku lelah, namun senang tak dapat ku bantah.

Perjalanan ke Karimunjawa ini adalah titik awal aku mengenal dunia jalan-jalan, aku merasa beruntung pengalaman pertama yang aku dapatkan sangatlah mengesankan. Lama perjalanan yang panjang, aneka ragam moda transportasi yang kami gunakan, keelokan alam yang luar biasa, biaya perjalan yang sangat murah dan teman-teman baru yang aku kenal. Semua adalah anugerah yang sangat indah.  

Pulau Karimunjawa sudah tidak tampak, kini kami sudah berada di Laut Jawa. Kemana pun mata memandang yang terlihat hanyalah lautan, yang kami harapkan selalu tenang hingga kami tiba di Jepara. Sesuai doa kami saat kapal angkat jangkar di Pelabuhan Baru, Karimunjawa. Terik matahari membuatku segera pergi dari buritan kapal menuju ruang penumpang. Tidak seperti saat berangkat, kali ini aku memilih menyerah pada sinar matahari yang panas. Sudah cukup rasanya aku berhadapan langsung dengan sang penguasa siang, legam kulit muka bukan masalah, namun pedih dan panasnya yang sungguh tak tertahan.

Bagiku, yang berbekas dari Karimunjawa tidak hanya tentang keindahan alamnya, tidak juga sekedar ingatan pada begitu menegangkannya berenang bersama hiu pemakan sayur, atau ingatan akan besarnya cumi-cumi yang dijual di warung ibu Ester, tidak juga sesederhana mengingat betapa bahagianya saat aku dan teman-teman menaiki odong-odong berkeliling pulau dimalam hari. Tidak, bagiku yang berbekas dari Karimunjawa tidak hanya itu.

Karimunjawa memberiku sesuatu yang lebih dari sekedar kenangan, Karimunjawa memberiku sesuatu yang sangat berharga, yang tak terbilang oleh angka dan tak terukur oleh satuan apapun. Karimunjawa mempertemukanku dengan orang-orang yang sangat spesial, bersama mereka aku bersahabat, bahkan bagiku mereka adalah keluarga. Tempat aku kembali seberapa pun jauh aku pergi dan mencari. Teman yang sampai hari ini, ada disekelilingku.

Hari ini, 6 tahun yang lalu...

Di atas KMP Muria yang sedang melaju tenang menuju Jepara, kami sepakat memanggil diri kami dengan nama USBEK. Nama yang merupakan singkatan dari KASKUS BACKPACKER, sebuah forum komunitas tempat kami bertemu hingga akhirnya perjalanan ke Karimunjawa ini dapat terjadi.

Nama USBEK memang lahir tanpa pemikiran yang panjang, tidak juga dilakukan penelitian dan survey pasar saat menentukan USBEK sebagai identitas kami, dan yang pasti bukan berdasarkan tafsir mimpi salah satu diantara kami. Oleh karenanya, wajar jika dikemudian hari nama USBEK tidak tumbuh berkembang sebesar komunitas jalan-jalan lainnya.

Dikemudian hari pula nama USBEK bukan lagi singkatan dari KASKUS BACKPACKER, karena terlalu berani rasanya kami menggunakan nama forum sebesar KASKUS dalam komunitas kami. Nama USBEK pun sudah jarang kami gunakan karena kesan yang ada di masyarakat terhadap kata USBEK masih belum cukup baik.  Dan satu hal lagi, kami berhenti menyebut USBEK sebagai singkatan dari KASKUS BACKPACKER adalah karena kami tidak selalu menggunakan backpack saat melakukan perjalanan bersama setelah Karimunjawa.  

Hari ini, setelah 6 tahun yang lalu...

Aku melihat kembali foto-foto kenangan perjalanan ke Karimujawa, 6 tahun berlalu dan mereka masih disini, disekelilingku. Walau tidak selalu bersama, rasanya tidak ada satu tahun pun yang sirna tanpa kegiatan kami yang bermakna. Gaya dan teman perjalananku mungkin berubah-rubah, namun setelahnya aku selalu kembali ke rumah, ke tempat keluargaku berada.

USBEK mungkin memang tidak tumbuh, tapi dia tidak mati. USBEK hidup dalam hati dan pikiran kami.

Karimunjawa bagiku adalah asal mula USBEK, namun USBEK tidak melulu tentang Karimunjawa. Dapat dikatakan USBEK dan Karimunjawa hanyalah simbol, simbol untuk memulai kisah. Setelahnya, banyak kisah-kisah yang membuat keluarga ini semakin semarak, banyak pula orang-orang baik yang aku kenal didalam keluarga ini setelah kisah Karimunjawa.

Mereka yang memiliki arti tersendiri bagi hidupku, mereka yang membuat hidupku lebih berwarna, jauh dari kata membosankan. Mereka yang ada dalam daftar nama orang baik yang kubuat, yang kelak akan kuadukan pada Tuhan dan memohon pada-Nya agar memasukkan mereka kedalam surga-Nya.



Selamat ulang tahun pertemanan, USBEK. Semoga kita langgeng abadi.

Jakarta, 13 Maret 2016
-----------------------------------------------------------------------------------------
Semua foto yang ada pada tulisan ini diambil tanpa izin dari berbagai sumber































Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

1 komentar

  1. Dear Adindut,

    We're interested to possibly collaborate on a project for our upcoming travel app that'll be launched in Jakarta. As I'm unable to find your e-mail on your page, appreciate if you would contact me at cheryl.wu@tapp.sg to discuss futher.

    Thank you and have a great week ahead!

    Regards,
    Cheryl
    Tapp Singapore

    BalasHapus