Pulau Sangiang, Pulau Penawar Rindu

Akhirnya aku melaut kembali :)


Aku tidak tahu apa arti rindu, namun aku tahu rasanya sungguh pilu.

Banyak hal yang dapat membuat kita merindu, seperti syahdunya senja di Karimunjawa atau senyum ramah seorang nenek penjual nasi Lengko di Kota Tegal. Kerinduan juga bisa timbul pada jeritan kereta malam yang memecah kesunyian, atau bahkan pada rintik hujan saat kita berboncengan dengan sang mantan untuk mengantarnya pulang sekolah. Bagiku kerinduan itu ibarat penyakit, oleh karenanya kerinduan harus diobati.


Seperti yang aku lakukan pada suatu hari minggu di pertengahan bulan Maret yang lalu. Aku berusaha untuk mengobati rasa rinduku pada keindahan alam bawah laut. Kerinduan pada gelombang ombak yang mengayun kapal, kerinduan pada hembusan angin laut yang kencang, kerinduan melihat tingkah jenaka ikan yang berenang di sela-sela terumbu karang, kerinduan mengapung diatas air, kerinduan pada hangatnya pasir pantai, dan kerinduan pada sebuah perjalanan bersama orang-orang yang baru aku kenal.

Adalah sebuah komunitas traveling bernama Backpacker Jakarta, mereka merencanakan untuk melakukan suatu perjalanan satu hari ke sebuah pulau yang terletak tidak jauh dari kota Jakarta. Saat mengetahui rencana tersebut, aku langsung mendaftar untuk ikut serta.

Tertanggal 20 Maret 2016, tengah malam baru saja terlewati beberapa saat yang lalu. Sekitar 30 orang sudah berkumpul di kota Cilegon, Banten. Dengan menggunakan angkutan umum sewaan, kami berangkat menuju Pelabuhan Paku di Anyer. Hari masih sangat gelap saat kami tiba di Pelabuhan Paku, masih cukup waktu untuk kembali tidur sebelum kami menyeberang dengan menggunakan kapal nelayan di pagi hari nanti. Teras kantor pelabuhan menjadi tempat yang cukup nyaman bagi kami beristirahat dengan alas seadanya, di kantor tersebut juga terdapat toilet yang dapat kita gunakan. Walau pun pelabuhan kecil, fasilitas di kawasan Pelabuhan Paku ini tergolong lengkap. Selain toilet, terdapat pula masjid dan beberapa warung makan yang sayangnya tidak buka 24 jam. 

Pagi pun tiba, kami memulai hari dengan berkenalan antar sesama peserta trip. Mula dan Kincaka yang memimpin trip kali ini kemudian membagi peserta kedalam dua kapal. Mereka juga membagikan alat snorkeling sewaan kepadaku dan beberapa peserta lainnya. Perlahan namun pasti kapal mulai bergerak menjauh dari dermaga Pelabuhan Paku. Saat itulah asaku menggelora, dalam waktu kurang dari satu jam lagi kerinduanku pada keindahan alam bawah laut akan segera terobati.

Suasana pagi di Pelabuhan Paku, Anyer

Foto bersama anggota trip sebelum melaut | foto: Airin Kanita

Lagoon Waru menjadi lokasi snorkeling pertama kami. Dari atas kapal aku melihat air laut yang berwarna hijau dan bayang-bayang terumbu karang yang terhampar luas. Satu persatu dari kami meloncat ke dalam air, menikmati kesempatan untuk mengintip keindahan dunia bawah laut Pulau Sangiang. Sayang, kenikmatan snorkeling di Lagoon Waru sedikit terganggu oleh arus laut yang cukup kencang. Itu sebabnya kami tidak terlalu lama di Lagoon Waru. Kami pun berpindah ke titik snorkeling selanjutnya yaitu Lagoon Bajo. Di Lagoon Bajo inilah aku baru benar-benar dapat meluapkan rasa rinduku, air laut yang jernih, arus laut yang tenang, ikan yang banyak dengan berbagai rupa dan jenis, serta hamparan terumbu karang yang jaraknya sangat dekat dengan permukaan air laut telah mampu membuatku berlama-lama berada didalam air.

Trip Sangiang bersama Backpacker Jakarta

Snorkeling, salah satu kegiatan menyenangkan di laut

Panorama bawah laut Pulau Sangiang

Panorama bawah laut Pulau Sangiang

Panorama bawah laut Pulau Sangiang

Panorama bawah laut Pulau Sangiang

Panorama bawah laut Pulau Sangiang

Panorama bawah laut Pulau Sangiang

Panorama bawah laut Pulau Sangiang

Snorkeling dapat menghilangkan penat :)

Hamparan terumbu karang di Pulau Sangiang

Pindah lokasi snorkeling

Panorama bawah laut Pulau Sangiang

Panorama bawah laut Pulau Sangiang

Panorama bawah laut Pulau Sangiang

see....

Saat rasa rindu melanda, berjumpa menjadi salah satu penawarnya. Mengikuti perjalanan ke Pulau Sangiang ini menjadi salah satu cara bagiku untuk mengobari rasa rindu. Berjumpa kembali dengan suasana yang aku rindukan sangatlah menyenangkan, sirna sudah semua kekacauan pikiran yang tidak keruan.

Perjalanan satu hari ke Pulau Sangiang ini tidak hanya diisi dengan kegiatan snorkeling. Sesudah makan siang kami pun trekking ke beberapa tempat menarik di Pulau Sangiang, seperti Gua Kelalawar, Bukit Harapan dan Pantai Pasir Panjang. Trekking menuju Goa Kelalawar adalah trekking yang cukup menguji kesabaran, bukan hanya karena jalurnya yang naik turun bukit tetapi karena sepanjang perjalanan kita akan ditemani nyamuk hutan yang sangat galak! Jadi jika kamu pergi kesini dan pemandu menyarankan untuk menggunakan lotion anti nyamuk, maka turutilah atau bersiap untuk tersiksa sepanjang perjalanan.

Goa Kelalawar, harus sabar untuk bisa kesini

Kata warga lokal, jika beruntung kita bisa melihat hiu putih di gua ini

Sisi lain keindahan Pulau Sangiang akan kita jumpai saat berada di Bukit Harapan. Dari ketinggian Bukit Harapan kita akan bisa melihat dinding-dinding karang yang mengelilingi pulau ini. Bukit Harapan semakin cantik dengan adanya taman bunga yang dibuat secara swadaya oleh masyarakat setempat. Menurut Kincaka, Bukit Harapan adalah tempat terbaik untuk melihat sunset di Pulau Sangiang. Sayang sekali waktu yang kami miliki tidak memungkinkan untuk membuktikan hal tersebut.

Perjalanan menuju Bukit Harapan

Keindahan dinding-dinding tebing di Bukit Harapan

Kincaka bilang Bukit Harapan adalah tempat terbaik melihat sunset

Kami di Bukit Harapan

Bukit Harapan cukup instagramable :) | Foto: Airin Kanita

Mas Tommy di Bukit Harapan :D
Foto bersama sebelum melanjutkan perjalanan | foto: istimewa

Menuruni Bukit Harapan kita akan tiba di Pantai Pasir Panjang. Tempat terakhir dari kegiatan trekking yang kami lakukan sekaligus tempat yang paling menyenangkan. Menyenangkan karena selain keindahannya, di pantai ini juga terdapat sebuah warung yang menjual kelapa muda dan mie instan!

Pulau Sangiang, pulau penawar rindu

Saat aku mengira bahwa rindu telah terobati, aku tahu itu palsu. Karena kelak rindu akan kembali, dan rasanya tetap pilu. 

-Sangiang, Banten, 20 Maret 2016-

Komentar

  1. Waaah keren loh ya :)

    Banten asli punya potensi alam yang luar biasa, seperti pulau-pulau macam gini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju mas, tinggal bagaimana pemda dan masyarakat mau atau tidak mengelolanya hehehehehe

      Hapus
  2. wow, lautnya sangat biru ya, semoga lautnya gak tercermar : )

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harapan yang sama mba Sindy, aamiin...

      Hapus
  3. Iiiiih cakep yaa... lumayan banget buat jadi pelarian kalo lagi kangen laut. Aku selalu merasa gagal jadi orang jakarta, sampe saat ini gak pernah sama sekali ke kepulauan seribu kecuali Untung Jawa. huhuuu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Serius mbak Putri?? Hooooo....ayok lah kapan-kapan ngetrip ke Pulau Seribu

      Hapus
  4. Keren bangettt.. cakep sumpah
    btw salam kenal ya bang

    BalasHapus
  5. Tulisan mas adi menarik banget, mengalir dari awal sampai akhir :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagai air yang mengalir hingga hilir

      Hehehehhehe

      Hapus
  6. wih bagus ya pulau sangiang, kalau rindu bisa nostalgia kesana lagi ya mas :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini juga pengen balik lagi, kak. hehehehhe

      Hapus
  7. Tsaaah!! Kalimat pembukanya sungguh maut eung. Mengharu biru.

    Aku belum pernah sih ke Sanghyang. Padahal pulaunya keliatan tuh dari pabrik. Pengen juga ke sini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha....kalimat pembukanya dari hati banget. Ayo ke Sangiang! Pulaunya sangat menarik, lohhh.

      Hapus
  8. Keren! Jadi pengen ke sini deh!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jaraknya gak terlalu jauh dari Jakarta, cocok buat main-main air di akhir pekan kak :)

      Hapus
  9. Cakep banget, Mz Adi lautnya. Sayangnya waktu itu enggak ikut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kapan-kapan kemari yuk, Oky :D

      Hapus

Posting Komentar