Solo Trip ke Ujung Pandang (Makassar)

Rencana untuk mengunjungi Taman Nasional Baluran gagal seketika gara-gara rayuan maut dari Merpati Nusantara dengan tiket promo Surabaya – Makassar nya di pertengahan tahun yang lalu. Aku mendadak galau, tapi yaa galau-nya gak lama kok, aku langsung putuskan untuk menghubungi seorang teman guna membantuku untuk booking tiket promo tersebut, Alhamdulillah dapat =) Tiket Surabaya-Makassar seharga Rp. 340.000 PP pun sudah di tangan. Terbayang sudah asyiknya menjelajahi kota para Daeng…seorang diri =)


Ya, seorang diri, ini akan menjadi perjalanan ketiga aku seorang diri, entah mengapa aku menikmati setiap perjalanan seorang diri. Rasanya serba bebas aja sih, dan jiwa petualangnya lebih keluar, suka-suka aku mau kemana kaki ini melangkah, mau kemana mata ini memandang, dan dimana badan ini akan di rebahkan hehehhe....kurang lebih itu sukanya, dukanya?? Banyak !! hehehe….Tapi yang pasti akan lebih menyenangkan jika kita gak pergi sendiri, terutama jika kita pergi bersama dia yang kita sayangi #ehm #kode

Kamis, 27 September  2012
Malam sudah tua, ayam jago mulai terjaga, jarum jam di kamarku sudah menunjukkan pukul 2.30 pagi, aku langsung bersiap dan sudah keluar dari kos-an sekitar 30 menit kemudian, rencananya aku akan naik Damri dari Gambir menuju bandara, mudah-mudahan keburu mengingat nanti aku akan naik pesawat Citilink yang jam 6.10 dari Soekarno-Hatta. Entah mengapa aku selalu menyukai suasana bandara, ada aneka rasa yang terluap di sini, sedih dan senang dari para pengunjung bandara menghiasi pagi itu, berbagai bentuk pelukan dan kecupan terekam mata yang memang tengah memperhatikan mereka yang akan pergi dan mereka yang ditinggalkan

Semua proses berjalan dengan baik dan lancar, terutama saat bayar pajak bandara sebesar Rp. 40.000, huh…lancar buanget =( Para penumpang pun masuk pesawat ketika panggilan telah diperdengarkan, dan aku baru sadar kalau aku duduk di bangku nomor 1B =) wah pengalaman baru nih naik pesawat duduk paling depan diantara penumpang lain hehehe… Citilink QG 811 ini rupanya memang khusus kelas ekonomi, mereka tidak memiliki kelas bisnis, jadinya memungkinkan bagi penumpang ekonomi untuk duduk sangat depan, dekat dengan kokpit. Dan yang pasti, dengan posisi ini, aku bisa sangat jelas dan leluasa melihat aktivitas mbak-mbak pramugarinya bekerja hehehehe

Dibalik kaca itulah, mbak-mbak pramugarinya duduk menghadap penumpang hehehehe

Berat juga rupanya pekerjaan mbak pramugari ini, yang paling berat menurutku adalah ketika mereka harus menutup pintu pesawat dan menarik tuas handle kunci pintu, wanita-wanita yang perkasa, keren =))

Sekitar pukul 7.30 Alhamdulillah kami mendarat dengan selamat di Bandara Djuanda, Surabaya.  Tujuan utama ku ketika keluar dari bandara adalah pool bis damri, aku naik damri trayek Bandara Djuanda – Bungurasih, tarif damri trayek ini adalah Rp. 15.000. Sekitar satu jam perjalanan, tibalah di terminal. Ketika semua orang turun, aku agak bingung, mengingat yang tertulis di pintu masuk terminal itu adalah Terminal Purbaya, makanya aku tetap di bis, tidak turun, karena tujuanku adalah terminal Bungurasih, melihat aku yang tetap di dalam bis, sopir bis damri itu pun menghampiri, “Kok gak turun, dek??” | “Iya pak, saya mau ke terminal Bungurasih” jawabku mantap | “Lah ini terminal bungurasih!!!” | Okeyyyy….ternyata terminal Bungurasih dan terminal Purbaya itu adalah sama, nama terminal sebenarnya adalah Purbaya, sedangkan Bungurasih itu adalah nama jalan dimana terminal itu terletak hehehehhe

Rehat sejenak sambil sarapan di salah satu warung di terminal Purbaya, gak lupa kopi pagi turut menghiasi pagi hariku di terminal itu. Okey, udah di Surabaya, waktuku gak banyak disini, kemana kita??? Ahaa…kita ke suramadu saja, banyak yang ngomongin tentang jembatan ini, jaadi penasaran, iya gak??

Tanya kanan kiri, depan belakang, dan cari-cari info via internet di handphone….dapatlah informasi bahwa ada 2 jenis bis yang ke Madura, ekonomi dan bisnis/VIP. Bedanya adalah ekonomi tuh gak pake AC dan gak lewat suramadu, tapi nyebrang pake kapal penyeberangan via pelabuhan tanjung perak ke pelabuhan Kamal di Madura, sedangkan yang bisnis/VIP ber-AC dan dia melintas di Suramadu.

Aku pun naik yang bisnis/VIP, tanya-tanya penumpang lain, tarifnya sekitar Rp. 20.000 – Rp. 30.000. Gak lama menunggu di dalam bis, aku ketiduran, trus bangun, ketiduran lagi dan akhirnya dibangunkan karena semua penumpang di oper ke bis yang dibelakang….dan….ternyata bis masih belum jalan, alias masih di terminal bis purbaya…pppfuuuhhh….Dengan jengkel aku segera pergi dari lokasi itu, okey, aku akhirnya naik bis kota jurusan terminal purbaya – Pelabuhan Tanjung Perak, tarifnya Rp. 4000,- saja. Begitu tiba di terminal pelabuhan, aku lihat ada bis damri yang ke bandara di situ, hadeeehhhh…tau gitu langsung aja ya tadi. Nyampe di loket penyeberangan tanya-tanya petugasnya, tarif kapal penyeberangan ke Madura Rp. 3.700 lama penyeberangan kurang lebih 20 menit, hitung-hitungan sih keburu banget bulak balik Surabaya – Madura, take one =)

Setelah di atas kapal baru sadar ada yang salah disini, ya, aku salah menghitung waktunya, mungkin penyeberangan memang 20 menit, tapi sandar dan bongkar muat penumpang juga butuh waktu bukan…nah itu yang gak aku perhitungkan =( Yasudah, mudah-mudahan gak lama.


Kurang lebih 20 menit kemudian kapal akhirnya berangkat, cihuyyy….baru keluar dermaga, aku bisa lihat di sebelah kanan adalah monumen Jalesveva Jayamahe dan beberapa Kapal Perang RI yang sedang sandar di Markas TNI-AL Armada Timur (Armatim) Indonesia. Dibelakangnya adalah jembatan Suramadu, woooooo…..keren cuyyy….kalau bawa kamera yang canggih mungkin nyampe buar motret suramadu dari view ini….hal keren lainnya adalah ketika kita lihat ke sisi kiri kapal, kapal-kapal besar semisal kapal peti kemas dan batu bara berbaris seolah hendak melintas, tapi terhenti karena kita yang akan melintas….ya kurang lebih kayak kereta api gitu lah….kapal yang aku tumpangi sangat kecil dibanding kapal-kapal itu….keren

Markas TNI-AL Armatim RI dengan latar belakang Jembatan Suramadu
Deretan kapal-kapal besar di sisi kanan


Gak lama, kapal pun bersandar di pelabuhan Kamal – Bangkalan, Madura.  Ude di Madure tak iyee….tujuan selanjutnya adalah terminal tempat bis Bisnis/VIP yang ke arah Surabaya, tanya bapak dishub di sana, terminal terdekat ya terminal bangkalan. Kita bisa naik bis ekonomi yang Surabaya – Madura yang baru saja nyebrang, Rp. 5.000 tiket untuk ke Bangkalan. Ahh…Madura, dampak musim kemarau terasa sekali disini, kanan kiri jalan tampak menguning, bukan bersiap untuk panen tetapi terbakar oleh terik matahari.

Sekilas Madura, sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Madura
Madura adalah nama pulau yang terletak di sebelah timur laut Jawa Timur. Pulau Madura besarnya kurang lebih 5.168 km2 (lebih kecil daripada pulau Bali), dengan penduduk hampir 4 juta jiwa.
Pulau Madura didiami oleh suku Madura yang merupakan salah satu etnis suku dengan populasi besar di Indonesia, jumlahnya sekitar 20 juta jiwa yang tersebar di berbagai pelosok nusantara. Suku Madura terkenal karena gaya bicaranya yang blak-blakan serta sifatnya yang temperamental, tetapi mereka juga dikenal hemat, disiplin, dan rajin bekerja. Orang Madura dikenal mempunyai tradisi Islam yang kuat, sekalipun kadang melakukan ritual Petik Laut atau Rokat Tase' (sama dengan larung sesaji). Harga diri, juga paling penting dalam kehidupan orang Madura, mereka memiliki sebuah peribahasa angok pote tollang, atembang pote mata. Artinya, lebih baik mati (putih tulang) daripada malu (putih mata). Sifat yang seperti inilah yang melahirkan tradisi carok pada sebagian masyarakat Madura.

Pulau Madura terbagi menjadi 4 kabupaten, yaitu Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Sumenep, Kabupaten Pamekasan dan Kabupaten Sampang. Pulau Madura memiliki sejumlah tempat wisata yang menarik. Salah satu icon wisata Madura adalah Karapan Sapi. Selain karapan sapi ada juga kontes Sapi Sono' yang diperagakan oleh sapi-sapi betina. Selain itu untuk beberapa di kepulauan Sumenep ada juga Kerapan Kerbau.

Selain itu Madura mempunyai tempat wisata peninggalan sejarah yang sebagian besar tersebar di Kabupaten Sumenep. Objek Wisata Sejarah yang ada di wilayah ini antara lain : Keraton Sumenep, Masjid Jamik, Asta Tinggi, Wisata Kota Tua Kalianget, dan sebagainya.

Dan Madura mempunyai pantai yang indah, antara lain, Pantai Lombang, Pantai Slopeng, Pantai Badur, Pantai Talang Siring, Pantai Camplong, Pantai Rongkang, dan Pantai Siring Kemuning.

Ahh….lain waktu aku akan kembali ke Madura dan mengunjungi satu persatu tempat diatas.

Terminal Bangkalan sudah lama lewat, aku sudah kasih tau kondektur bahwa aku akan turun di terminal Bangkalan, jadi kalau tidak ada kode dari dia, ya aku belum akan turun….setelah jauh melewati terminal Bangkalan, kondektur bis malah menanyakan aku akan turun di mana di bangkalannya, WHAT???
“Bapak turun dimana??” tanya kondektur bus | “Terminal bangkalan, pak” jawabku | “Wah…terminal sudah lewat dari tadi” | “Loh?? Kan saya tadi bilang saya turun di terminal bangkalan” | “Iya tapi sudah lewat” | “Trus gimana pak??” | “Yasudah, turun disini saja ya!!” | “MAKSUDNYA??” | Dan aku pun turun, entah dimana =(

Aku turun di sebuah pertigaan lampu merah, ada pos polisi di sana, beberapa warung makan dan masjid, ahh…aku akan baik-baik saja. Aku pun singgah di mesjid untuk melepas lelah dan ibadah dzuhur, selepas itu aku makan nasi bebek di salah satu warung makan samping kantor polisi, nasi bebek asli Madura yesss…..
Setelah ngobrol dengan ibu warung, aku baru tau kalo daerah itu namanya adalah Junok, dan aku tinggal naik angkutan kecil untuk menuju terminal bangkalan, tarifnya Rp. 3.000 sajah…angkot ini berputar ke alun-alun Bangkalan sebelum menuju terminal, lumayan bisa liat-liat Bangkalan hehehe…

Sampai di terminal aku langsung tanya kalau bis AC ke Surabaya berhenti di mana, dan ternyata….bis AC tujuan Surabaya gak lewat terminal Bangkalan…OKAY!!! Yang lewat terminal Bangkalan hanya bus ekonomi non-AC dan mereka menyeberang naik kapal via pelabuhan Kamal, ngak ah…aku kan pengen melintasi Suramadu, tanya lagi ke mereka dan aku di tunjukkan cara menuju Suramadu. Jadi dari seberang terminal Bangkalan, kita naik mobil Elf yang orang sana menyebutnya Minibus, bilang kalau kita berhenti di Suramadu, Karena minibus itu tidak lewat suramadu. Begitu sampai kita harus menyeberang jalan, kita akan jumpai pos polisi, jalan sedikit ke belakang pos, akan ketemu beberapa warung makan, nah, disitu kita tunggu bis yang mau ke Surabaya.

Gak lama lewat bis tujuan Surabaya, sayang aku lupa namanya, tapi yang pasti bis itu tujuan Denpasar – Surabaya, entah mengapa sampai ada di Madura, jadi itu bukan bis resmi, maka tidak ada tarif, tarifnya ya suka-suka mereka, untung gak kebablasan, mereka minta Rp. 25.000, kayaknya agak lebih mahal Rp. 5000 dari yang seharusnya, tapi tak apalah =)

Suramadu pun aku lintasi….ajiiibbbb gannnnn

Madure
500 meter lagi Suramadu

 Hari pun sudah senja ketika aku tiba di terminal Purbaya, ngeteh sore dulu ahhh, sambil istirahat, bus damri terakhir dari terminal purbaya ke bandara adalah pukul 20.00, jadi insya allah masih keburu.
Aku tiba di bandara sekitar pukul 20.00, tarif Damri dari Surabaya ke Bandara masih sama Rp. 15.000, sebelum check-in aku lihat ada Restaurant Bangkalan, iyah, aku belum makan, dan nanti tiba di Makassar jam 1 malam, jadi aku makan dulu di sana, menu ku makan itu Soto Daging plus es teh manis, ajibb…sumpah, enak banget tuh soto, gak tau deh, apa karena lapar atau emang enak, yang pasti enak banget.  Yang gak enak sih pas bayarnya doang, Rp. 39.000 =(

Salah satu yang menyenangkan dari Bandara Djuanda ini adalah adanya tempat nge-charge handphone gratis, bentuk nya seperti loker gitu, udah ada chargernya lagi, tinggal colok, kunci, pergi deh…ini salah satu fasilitas yang harus dimiliki setiap tempat publik di tanah air, khususnya bandara.

Free Charging Locker di Bandara Djuanda

Jam 24-an aku sudah di pesawat Merpati Nusantara Airlines, tujuan selanjutnya adalah Makassar, kotanya pak Jusuf Kalla =) Rupanya Makassar bukanlah tujuan akhir penerbangan itu, dia hanya transit di Makassar untuk selanjutnya terbang menuju Papua, aduh…kok jadi gak pengen turun yaa hahahha (next time, amin)….ada kejadian unik nih hehehehe….Jadi kebetulan aku dapat kursi di sisi lorong, dan ketika aku sampai di sana sudah ada ibu dengan anak balitanya duduk disana, “Ibu maaf, saya duduk disini” tegurku | “Owh tidak, tidak bisa, saya bawa anak kecil jadi saya harus duduk di sini. Kalau saya di tengah nanti repot kalau anak saya rewel” tolak ibu itu | dan aku pun cuma bisa nyengir kuda sambil duduk di kursi tengah….Entah akan seperti apa penerbangan nanti  =|

Nyaman terbang bersama Merpati Nusantara, take off dan landing cukup mulus, di atas pun tidak terlalu banyak guncangan yang terasa, dan yang penting dapet roti plus air mineral gelas hehehehhe….
Satu jam kemudian aku tiba di Bandara Sultan Hasanuddin – Makassar. Wohooooo…..bandaranya keren cuyyy…masih baru sih memang, mirip-mirip terminal 3 Soekarno-Hatta lah….okey, saat nya cari bangku kosong……buat tiduurrrr

Salah satu yang tidak menyenangkan ketika berpergian seorang diri adalah kita tidak bisa tidur nyenyak di bandara, selalu ada rasa was-was akan barang bawaan kita, kewaspadaan sangat di perlukan, jika terlalu lelap, bukan gak mungkin barang kita telah raib ketika bangun hehehehhe

Rincian pengeluaran Hari – 1
Taksi ke Gambir  12.000
Damri Gambir – Bandara  20.000
Pajak Bandara   40.000
Tiket Pesawat Jakarta – Surabaya  79.000
Damri Bandara Djuanda – Purbaya  15.000
Bis kota Purbaya – Tanjung Perak   4.000
Feri Tanjung perak – Kamal Madura  3.700
Bis Kamal Madura – Bangkalan  5.000
Minibus Bangkalan – Suramadu  5.000
Bis Suramadu – Purbaya      25.000
Damri Purbaya – Djuanda  15.000
Pajak Bandara  35.000
Tiket Pesawat Surabaya – Makassar  170.000
TOTAL  428.700

(Biaya tersebut diatas, belum termasuk pengeluaran pribadi seperti biaya makan)

Jumat, 28 September 2012
Selamat pagi Makassar…..Jam 4 pagi bandara sudah mulai ramai, aku pun bergegas untuk packing ulang dan basuh-basuh sedikit plus mengeluarkan yang perlu dikeluarkan di toilet bandara. Jam 6 aku pun sudah siap untuk eksplore kota Makassar. Dengan langkah perwira aku keluar dari bandara dan menuju pool bis Damri…jreng Jrengggg….ternyata bis damri menuju pusat kota Makassar baru ada jam 8.30 pagi huk huk huk

Yasudah, gentayangan lah aku di bandara hasanuddin ini. Jadi ada dua jenis trayek damri di Bandara ini, yang pertama adalah damri trayek Bandara – Pusat kota, tarifnya Rp. 15.000, dan yg satu lagi adalah Damri yang berfungsi sebagai shuttle bus dari bandara ke luar bandara. Yang ini gratis jooo…


Salah satu hall di Bandara Sultan Hasanuddin
Sisi kanan Bandara Sultan Hasanuddin

Sisi kiri Bandara Sultan Hasanuddin
Ijin nampang dikit yaa
Shuttle bus gratis Damri

Bus pertama ke pusat kota telah aku naiki, sambutlah aku Makassar hehehhe….duilehh…Makassar juga macet bo….atas petunjuk dari seorang teman, aku turun di RRI Makassar, dari sana jalan kaki ke Benteng Fort Rotterdam, gak jauh kok kurang lebih 100 meter lah. Tidak ada biaya masuk resmi ke dalam benteng ini, tapi kita tetap harus melakukan reservasi dan membayar biaya masuk secara sukarela, aku pun membayar Rp. 10.000 untuk ini. Dan selanjutnya mari kita jelajahi benteng ini.

Untuk tau lebih lanjut seputar benteng Fort Rotterdam, silahkan kunjungi http://wisata.makassarkota.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=35&Itemid=39

Di dalam benteng yang sebagian sudah beralih fungsi menjadi kantor pemerintahan ini, terdapat museum La Galigo, tarif masuknya sebesar Rp. 5.000

Ada hal yang mengejutkan aku ketika berada di dalam kompleks benteng ini, yaitu ada satu bangunan yang tertuliskan “Ruang Tahanan Pangeran Diponegoro”. Wah…ada sepenggal sejarah yang menarik untuk di gali hihihihi….Ya, ada sejarah yang agak terlupa oleh ku bahwa Makassar merupakan tempat dimana Pangeran Diponegoro di asingkan. Pangeran Diponegoro yang dijebak saat mengikuti perundingan damai, ditangkap dan dibuang ke Manado untuk selanjutnya dipindahkan ke Fort Rotterdam hingga akhir hayatnya.

Pintu Masuk Benteng
Lorong-lorong di sekeliling benteng

Lorong-lorong di sekeliling benteng
Sudut-sudut komplek benteng

Sudut-sudut komplek benteng

Museum La Galigo

Tarif Masuk Museum La Galigo

Komplek benteng La Galigo
Sudut ruang tahanan Pangeran Diponegoro

Tertarik akan hal ini, aku pun menanyakan letak makam pangeran Diponegoro, makam diponegoro terletak di Jalan Diponegoro, aku naik becak menuju sana, biaya Rp. 10.000, tiba disana pintunya memang ditutup, tapi ternyata itu dilakukan karena sering ada anak-anak yang memasuki komplek makam dan bermain disana. Saya bertemu dengan kuncen di sana (maaf, nama bapak itu saya lupa). Dari beliau saya tau kalau di komplek itu dimakamkan Pangeran Diponegoro beserta istri dan anak cucu serta menantunya. Aku berziarah sejenak, merenung sembari mengadu dalam batin, kepada mereka yang tulus membela negeri, kuadukan semua kegaduhan negeri padanya, semoga karisma dan wibawa beliau tetap hidup dalam jiwa setiap insan anak negeri.

Makam Pangeran Diponegoro beserta Istri

Pendopo Peristirahatan Terakhir Pangeran Diponegoro

Gerbang Koplek Makam Pangeran Diponegoro
 Tidak ada biaya masuk di makam ini, namun aku memberi secara sukarela kepada bapak penjaga makamnya.

Perjalanan pun ku lanjutkan, kali ini aku berjalan kaki membelah pasar sentral Makassar, rupanya belum lama ini terjadi kebakaran hebat di pasar sentral ini, dan saat ini para pedagang masih menempati kios-kios sementara di jalanan pasar. Belok kiri, belok kanan, dan seterusnya, tembuslah aku di lapangan pusat kota Makassar…Ya, Lapangan Karebosi…Berhenti sejenak, tunaikan ibadah solat jumat di lapangan ini =)

Selesai solat jumat, aku makan siang di sebuah pusat perbelanjaan yang ada di seberang lapangan karebosi….Makassar panas sekali siang itu cuyy, nah di sini aku mulai merasakan badan tak sehat, dan yang paling menyiksa adalah aku SAKIT GIGI…ahhh tidak, sakit gigi ini muncul disaat yang tidak tepat.

Lapangan Karebosi, di bawah lapangan ini ada mall loh...
Tapi perjalanan harus tetap dilanjutkan, dengan berjalan kaki aku meneruskan perjalanan menjelajahi kota Makassar, dalam perjalanan, aku menemukan beberapa objek menarik, seperti beberapa foto di bawah ini

Museum Kota Makassar
Museum Kota Makassar
 
Koleksi Museum Kota Makassar

Museum Kota Makassar

Koleksi Museum Kota Makassar

Lobby Museum Kota Makassar

Chinatown di salah satu sudut kota Makassar

Hehehhehehhe....
Dan ketika senja menjelang, aku langsung menuju ikon kota Makassar lainnya, yaitu Pantai Losari. Aku naik becak untuk menuju pantai Losari Rp. 10.000,-. Namun sayang, begitu sampai sana, anjungan pantai losari sedang ada pembangunan tenda untuk acara di malam selanjutnya, ahh…ini mengurangi kenikmatan berfoto di sini.

Anjungan Pantai Losari

Pantai Losari
Menjelang sunset di Pantai Losari

Sunset di Pantai Losari

Sunset di Pantai Losari
Sedikit tips ketika anda berkunjung ke sini untuk menikmati senja, sediakan uang receh yang cukup banyak, karena banyak sekali pengamen hehehhehe

Puas dengan senja di Pantai Losari, aku naik angkot (orang Makassar menamakannya pete-pete) menuju pusat kota Rp. 3.000,- dari pusat kota ganti angkot yang kearah Terminal Daya Rp. 3.000,-. Nah, di terminal daya ini aku beli tiket bus  menuju Tana Toraja, aku naik bus Litha & Co, tarifnya Rp. 130.000 untuk yang master piece, ada juga yang tariff Rp. 100.000 untuk bisnis dan Rp. 80.000,- untuk ekonomi (tanpa AC), aku naik bis yang master piece jam  9.30 dari terminal daya, dan sepertinya jam ini adalah keberangkatan terakhir menuju Toraja.

Masya Allah bisnya, nyuamman tenan rek, bangkunya gede-gede, suspensinya empoy, tapi gak ada toiletnya sih hihihi…..pokoknya asyik dah, gw pikir sih layaklah tariff segitu heheheh….sebelum jalan, kita akan di tanya oleh kondekturnya, mau turun dimana, jadi jangan takut kelewat, pasti dibangunkan kok. Tujuanku adalah ke kota Rantepao, kalo tidak salah ini adalah pusat kota dari kabupaten tana toraja.

Rincian pengeluaran Hari – 2
Damri Hasanuddin – pusat kota  15.000
Tiket masuk Fort Rotterdam  10.000
Tiket masuk museum La Galigo  5.000
Becak ke Makam Diponegoro   10.000
Becak ke Pantai Losari  10.000
Pete-pete Losari – sentral  3.000
Pete-pete sentral – Terminal Daya  3.000
Bis Makassar – Toraja  130.000
TOTAL   186.000
(Biaya tersebut diatas, belum termasuk pengeluaran pribadi seperti biaya makan. Biaya tiket masuk Fort Rotterdam dan biaya becak bisa disharing jika berombongan )

Sabtu, 29 September 2012
Tepat pukul 6 bus tiba di Rantepao, hujan brooow…neduh bentar ahh…tapi kok sakit perut ya, ada yang meronta-ronta minta di keluarkan, wah, harus cari toilet segera. Tanya sana-sini, ternyata gak ada toilet di pasar itu hadehhhh….tapi ada yang ngasih tau kalau kita bisa menumpang toilet Bank B*I yang terletak tidak jauh dari situ, berjalan aku kesana dan ternyata benar, aku di persilahkan untuk menggunakan toilet di belakang gedung yang memang sering di gunakan oleh warga….ahhh….sukses selalu Bank B*I, selesai urusan toilet hari masih hujan, aku mampir ke pos penjagaan bank itu dan di suruh berteduh di dalam oleh polisi yang saat itu bertugas, bukan itu saja, aku pun disuguhi segelas besar kopi toraja sebagai teman ngobrol, baik sekali pak polisi ini. (Semoga Tuhan selalu memberikan perlindungan dan kesejarhteraan kepada Pak Fandi dan keluarga, amin)

Setelah hujan reda, aku meneruskan berjalan kaki menuju lapangan Bakti, tanya sana sini, ketemulah lapangan bakti yang letaknya agak ke dalam (tidak di pinggir jalan). Tujuanku kesana adalah menyewa sepeda motor untuk berkeliling tana toraja. Aku pun menyewa sebuah motor matic seharga Rp. 80.000 dengan bensin kosong dan waktu penyewaan yang negotiable, tas ransel pun aku titipkan, jadi gak berat kesana-sininya. Berangkatlah aku sekitar jam 9 pagi, sebelum berangkat ibu pemilik penyewaan motor berpesan “Nanti jangan lupa kunci leher ya, helm kau masukkan ke bagasi” ujarnya…kunci leher?? Kupikir adalah sejenis rantai yang dipakai buat mengunci ban depan, “Dimana kunci lehernya, bu” tanyaku | “Itu, tinggal kau miringkan lehernya, lalu kau kunci” | aku pun terbahak, rupanya orang toraja menyebut stang dengan leher, jadi yang dimaksud kunci leher adalah kunci stang  =|

Tujuan pertamaku adalah PASAR BOLU, tapi sebelumnya isi bensin dulu Rp. 15.000. Kebetulan hari itu adalah hari pasar, jadi pusat kegiatan niaga masyarakat sekitar ya di pasar Bolu ini, masya allah, banyak sekali orang disini, banyak pula turis asing yang berkeliling, tiga kali aku berkeliling pasar dengan motor, tujuannya mencari tempat parkir, tapi gak ketemu-ketemu, akhirnya aku bertanya pada seorang bapak disitu “Kau parkir saja motormu disitu, jangan lupa kunci leher, tak akan ada yang melarang” jawab bapak itu, oowhhhh….rupanya tidak ada parkir resmi seperti yang aku bayangkan, yang bawa motor bisa parkir dimana saja sesuka hati, asal tidak menghalangi jalan orang lain hahahahah…..Pasar ini sangat besar, dan terbagi-bagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan jenis dagangannya, yang paling menarik adalah pasar binatang, kerbau dan babi banyak diperjual belikan disini, ini jadi salah satu daya tarik disini.

Tujuan selanjutnya adalah KETE KESU, jaraknya tidak terlalu jauh dari rantepao, sekitar 4 km melewati jalan poros ke arah Makassar, langit masih mendung, namun semangatku tetap membara hehehe……Ketika tiba di Kete Kesu, aku nyaris kecewa. “Begini doang?” pikirku saat itu, tapi rupanya aku salah, yang ku lihat adalah halaman depan dari kuburan batu di kete kesu, untuk mencapai objek sesungguhnya dari kete kesu, kita harus berjalan kurang lebih 100 meter kearah dalam. Dan tak lama kemudian, terlihatlah tumpukan peti kayu yang didalamnya berisi kerangka manusia, itu artinya kita sudah di kete kesu =)


Deretan Rumah Tradisional Toraja di Kete Kesu
Kete Kesu

Salah Satu Kuburan di Kete Kesu

Deretan Peti Kayu berisi Kerangka Manusia

Kete Kesu

Kete Kesu

Puas di kete kesu aku melanjutkan perjalanan ke LONDA, yang akan kita lihat dan dapatkan di londa kurang lebih sama seperti di kete kesu, pemakaman yang berada di bebatuan. Namun bedanya, di Londa kita bisa memasuki goa-goa tempat jenazah-jenazah itu diletakkan. Dan di londa, tau-tau (patung yang dibentuk menyerupai jasad orang yang telah wafat) cukup banyak, mungkin karena memang lebih banyak yang dimakamkan disini. Untuk memasuki goa-goa di Londa, kita harus menyewa lampu petromak, sewanya Rp. 25.000 dan ini harga mati, menjadi harga mati karena londa dikelola oleh sebuah keluarga dan keturunannya, penyewaan lampu itu pun berada di bawah pengelolaan yayasan yang dinaungi oleh keluarga tersebut. “Gak bisa sembarang orang yang membawa lampu, pak. Harus keturunan keluarga” Demikian info yang didapat dari guide yang mengantar saya, oiya, tariff Rp. 25.000 tadi hanya untuk sewa lampu loh, tapi jangan khawatir, itu biaya per rombongan kok, nukan per orang, biaya jasa guidenya laen lagi hehehhe….”Bayar seiklasnya aja” kata mereka =)

Gerbang Masuk Londa
Suasana di Londa

Tau-tau di Londa

Bengkel pembuatan tau-tau

Bengkel pembuatan tau-tau


Dari Londa awalnya aku ingin meneruskan perjalanan ke LEMO, sayang  Tuhan belum mengijinkan, hujan deras sekali menghalangiku untuk terus menuju LEMO, akhirnya aku putuskan putar arah kembali ke Rantepao, di perjalanan aku singgah sebentar di RANTE KARASSIK. Nama Rante Karassik aku temukan tidak sengaja dari situs whc.unesco.org ketika sedang googling, berikut kurang lebih terjemahan bebas dari artikel di situs tersebut :

Situs Rante Karassik adalah tanah seremonial di bukit miring. Situs ini sebenarnya merupakan bagian dari pemukiman tradisional Pune Buntu. Sampai hari ini, Rante Karassik masih digunakan untuk upacara tertentu, khususnya yang berhubungan dengan kematian oleh warga pemukiman Pune Buntu. Karena Rante Karassik terletak cukup jauh dari kompleks Pune Buntu, dua situs ini terlihat terpisah. Saat ini sulit untuk menyatukan kedua situs tersebut, karena perkembangan jaman telah menghasilkan kepadatan penduduk di antara dua daerah.



Dari Rante Karassik, di antara gerimis yang membuat hati merindu ini, aku teruskan perjalanan menuju PANGLI. Di Pangli aku mencari Patane, yaitu kuburan dari kayu yang berbentuk rumah Toraja. Menurut cerita, patane ini dibangun pada tahun 1930, dibangun untuk seorang janda yang bernama Palindatu yang meninggal pada tahun 1920 dan diupacarakan secara adat Toraja tertinggi yang disebut Rapasan sapu randanan. Palindatu yang dinikahi oleh Tangkeallo memiliki beberapa orang anak. Salah satunya bernama Semba' alias Pong Massangka dengan gelar Ne' Babu' yang merupakan penentang Belanda pada masa itu, karena perlawanannya itulah, Pong kemudian dibuang ke Nusa Kambangan pada tahun 1917 dan kembali ke Tana Toraja tahun 1930. Pada tahun 1960, Pong Massangka wafat dalam usia 120 tahun. Mayat Pong Massangka disemayamkan dalam patane tersebut dan tau-taunya yang terbuat dari batu yang dipahat terletak di depan patane.

Patane

Tau-tau yang terbuat dari batu


Dan tibalah aku kembali ke tempat penyewaan pukul 18.00 sesuai perjanjian. Lelah sangat hari itu, gak cukup rasanya satu hari menjelajahi eksotisme tana toraja, apalagi perjalananku sedikit terhambat dengan turunnya hujan dan gigi yang sakit. Tapi Alhamdulillah, aku menikmatinya.

Jam 21.00 aku sudah bersiap di pool bis Litha & Co untuk kembali ke Makassar, tiketnya ternyata lebih murah 10rb, jadi tiket bis kelas master piece seharga Rp. 120.000,- Jam 21.00 aku sudah di bis dan langsung terlelap tidur, selanjutnya…..MAROS

Rincian pengeluaran Hari – 3
Sewa motor  80.000
Bensin motor  15.000
Sewa lampu di londa  25.000
Guide di londa  10.000
Bis Toraja – Makassar  120.000
TOTAL  255.000
(Biaya tersebut diatas, belum termasuk pengeluaran pribadi seperti biaya makan. Biaya sewa motor, bensin, sewa lampu dan guide di Londa bisa di sharing jika berombongan)

Minggu, 30 September 2012
“Pak, pak, bangun pak…sudah di Bantimurung pak”

Aku tersentak dibangunkan kondektur bus, sudah sampai rupanya, aku pun bergegas turun dan mengambil ransel di bagasi bus, masih setengah sadar aku kebingungan di sana, masih gelap, karena masih jam 4 pagi, dimana aku??? Hahahahha….

Ahhh….adzan subuh menyelamatkanku, ke mesjid dulu ahh, bersih-bersih, solat dan menunggu pagi, tidak jauh dari jalan raya tempat aku di turunkan ada masjid, masjid An-Nur namanya, selesai solat subuh aku berbincang dengan beberapa jemaah, Alhamdulillah, di beri banyak informasi untuk sampai ke bantimurung, bahkan di kasih tau di mana beli nasi kuning yang enak untuk sarapan.

Aku kembali ke tempat aku diturunkan dari bus tadi, disana aku menunggu pete-pete yang kearah Bantimurung, ongkosnya Rp. 4.000,- tapi sebelum naik, ada baiknya kita tanyakan dulu, apakah pete-pete itu masuk ke dalam bantimurung atau tidak, Karena kata bapak-bapak di mesjid tadi, tidak semua pete-pete yang ke bantimurung, itu masuk ke dalam bantimurung, kadang diturunkan di depannya, dan jarak dari depan ke dalam area bantimurung lumayan jauh.

Sampai di Taman wisata Bantimurung masih jam 7 pagi, loketnya pun belum buka, beberapa petugas tampak masih bersih-bersih, tapi banyak orang yang lalu lalang lewat pintu keluar Bantimurung, rupanya itu adalah para pedagang yang hilir mudik keluar masuk membereskan dagangannya. Dan juga ada beberapa warga sekitar yang berolahraga, ya aku ikuti saja mereka, otomatis aku masuk bantimurung tidak bayar, alias gratis hihihiih

Air Terjun Bantimurung
Goa Mimpi

Bantimurung nih merupakan taman wisata, jadi di hari libur akan ramai sekali oleh kunjungi wisatawan local maupun mancanegara. Ada tiga objek utama di dalam kawasan Bantimurung, yaitu air terjun bantimurung, Goa Cermin, dan Goa Mimpi. Disini juga ada kolam renang yang airnya mengalir memanfaatkan aliran air dari air terjun bantimurung. Untuk mengabadikan air terjun dalam lensa anda, sebaiknya datang sepagi mungkin atau datang di hari kerja (hari biasa). Karena kalau sudah siang sedikit, akan banyak orang dibawah air terjunnya, apalagi kalau lebaran yaa beuhhhhh…..


Jalan beberapa meter kearah depan pintu masuk Taman Wisata bantimurung, kita akan ketemu penangkaran kupu-kupu, di dalam kawasan bantimurung pun ada, bedanya adalah penangkaran yang ini lebih besar dan dikelola oleh Dinas kehutanan, sedangkan yang di dalam kawasan taman wisata bantimurung dikelola oleh Dinas Pertanian





Puas berkeliling di sekitar Bantimurung, aku melanjutkan perjalanan ke Taman Prasejarah Leang-leang, letaknya tidak seberapa jauh dari Bantimurung, dari Bantimurung aku naik pete-pete ke arah Maros dengan tarif Rp. 3.000,- dan bilang ke supirnya kita turun di Leang-leang. Setelah turun akan terlihat gerbang bertuliskan “SELAMAT DATANG TAMAN PRASEJARAH LEANG-LEANG KAB. MAROS”. Dari gerbang ini menuju letak tamannya cukup jauh, orang setempat bilang jaraknya 5 KM. Dan siang yang terik saat itu membuat aku memutuskan menggunakan jasa ojek dengan biaya sebesar Rp. 10.000. Begitu sampai di taman prasejarah Leang-leang, akan ada biaya tiket masuk sebesar Rp. 10.000.








Setelah selesai beristirahat dan menikmati keindahan taman prasejarah Leang-leang aku pun melanjutkan perjalanan, menunggu 5 – 10 menit tak ada satu pun ojek yang melintas, entah mengapa memang daerah itu sepi sekali. Namun tak lama kemudian dari jauh terdengar suara kendaraan, ada truk !!! Langsung ku pasang wajah memelas, dan jempol tangan kiri menyetop truk itu….truk tetep jalan…jalan…melewati aku….BERHENTI !!! Yeyyy…truknya berhenti, maka menumpanglah aku pada truk itu yang kemudian aku berkenalan dengan pak Kardun, pengemudi truk, Alhamdulillah. Aku makin merasa hari itu adalah hari baik ketika ku tau kalau ternyata truk itu akan ke Maros, jadi aku menumpang sekalian saja menuju pasar Maros, dan pak kardun menurunkan aku di tempat pete-pete menuju bandara mangkal….lumayan.

Turun dari truk pak Kardun, aku langsung naik pete-pete ke Bandara, entah kenapa sejak dari Maros sampai Bandara penumpang pete-pete itu hanya aku, jadi pas turun aku kasih sopirnya Rp. 10.000 dan gak tega minta kembaliannya hehehe. Aku turun di depan bandara, lalu naik lagi shuttle bus Damri menuju ke dalam Bandara, yang ini gratis =)

Okey….sampai di sini petualangan ku selama di Sulawesi selatan, namun ku berharap ini bukan akhir, namun justru ini perangsang agar aku bisa balik lagi ke sini dan menjelajahi lebih dalam keindahan alam dan budaya sulawasi selatan. Jujur, aku sangat terkesan dengan keramahan orang-orang toraja, dan aku juga terkesima dengan keanggunan wanita-wanita Makassar. Some day, some how, I`ll be back =)

Pukul 20.00 aku sudah mendarat di Djuanda – Surabaya….lelah sekali, tak ada lagi yang ingin ku lakukan, aku hanya mencari tempat yang cukup nyaman untuk berbaring malam ini, menunggu penerbangan esok hari menuju Jakarta. Selamat malam Surabaya.

Rincian pengeluaran hari – 4
Pete-pete ke Bantimurung  4.000
Pete-pete ke Leang-leang  3.000
Ojek ke leang-leang  10.000
Tiket masuk leang-leang   10.000
Pete-pete ke bandara  10.000
Pajak bandara  35.000
Tiket pesawat Makassar – Surabaya  170.000
TOTAL  242.000
(Biaya tersebut diatas, belum termasuk pengeluaran pribadi seperti biaya makan. Biaya ojek bisa di sharing jika berombongan)

Senin, 1 Oktober 2012
Selamat Hari Kesaktian Pancasila !!! Semoga Pancasila makin sakti dan mampu menjadi tameng yang melindungi setiap warga Negara.

Bandara Djuanda sudah mulai ramai sejak subuh tadi, tak banyak yang bisa ku lakukan selain menunggu hingga pukul 9.10 nanti, saat pesawat Citilink yang akan membawaku menuju Jakarta boleh dinaiki. Sedikit menggelitik ketika hampir semua orang pagi ini berbusana formal layaknya seorang pekerja, sedangkan aku hanya bercelana pendek dan sandal hotel plus kaos belel yang sedikit asem karena keringat hehehhe….

Rincian pengeluaran hari – 5
Pajak bandara  35.000
Tiket pesawat Surabaya – Jakarta   79.000
Damri bandara – Rawamangun   20.000
TOTAL   134.000(Biaya tersebut diatas, belum termasuk pengeluaran pribadi seperti biaya makan)


TOTAL PENGELUARAN :
428.700 +  186.000  +    255.000  +    242.000  +    134.000 = Rp. 1.245.700,--


Indonesia itu surga, kawan. Takkan pernah cukup usia untuk kita menjelajahinya !!!

Selama perjalan ini, aku banyak dibantu oleh berbagai pihak, terima kasih banyak atas segala bantuan, semoga Tuhan senantiasa melimpahi berkah dan kesejahteraan bagi semua. Terima kasih tak terhingga aku ucapkan pada :

1. Akun twitter @Jalan2seru_Mks
2. Mba Apriyanti Embonk ...... orang Makassar yang merantau di Jakarta nih hehehhe
3. Daeng Awi, yang aku kenal melalui Backpacker Indonesia
        
Catatan perjalanan ini telah di publish juga di http://old.kaskus.co.id/showthread.php?t=17016926

Saya bisa di hubungi via email di adinugraha84@gmail.com atau twitter @adisn84 ^_^

Komentar

  1. Mantab Bang Adi, andai gw bisa nemenin bertualang bersama...

    Terus bertualang sobat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks mas, hehehhe....hayolah kita kemana....30 November nanti ane mau ke Cisarua, ikut gak??

      Hapus
  2. waah, informatif & kocak sekali ini catpernya! haha,, ijin bookmark ya bang, kira2 ada tips2 tambahan nggak? insyaAllah bulan Mei 2013 saya bertolak ke Makassar dan tujuan utamanya teteppp, Tana Toraja! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. HAhahaha....makasih udah mampir, mmmhhhhh.....tips apa lagi ya?? murah senyum aja sih selama di Toraja, karena pada dasarnya menurut gw orang Toraja tuh baik-baik

      Hapus
    2. Nih Lifelicious Mau ke makassar juga... Bolehhh...asal mau nikmatin hidup ala mas adi... hahah...

      kami ada di @jalan2seru_mks jalan2serumakassar.com


      nyari aku bisa di @boom2s
      makassar welcome buat smua traveler. :D

      Hapus
  3. Benar-benar membantu nih bang.. makasih ya.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama....terima kasih sudah mampir, have a nice trip :)

      Hapus
    2. bang... bisa minta CP nya... kirim ke email ku adja..
      tinasiringoringo@gmail.com

      Hapus
  4. Terima kasih infonya. Super membantu sekali jadi saya ada gambaran ke Makassar, kebetulan mau kesana bulan Febuari 2013. Bookmark ah. :D

    BalasHapus
  5. bang adi, kira2 tau informasi dr maros ke kampung berua gak?? minta infonya doonk..

    BalasHapus
    Balasan
    1. dusun berua(taman batu),..perbtasan maros-pangkep..kluar dr bandara hasanuddin bisa naik pete2/angkot jrusan pangkep ,..nanti blang ma supir turuen di rammang2 ato ditonasa (prusahaan semen)..trus cr ojek ,minta diantarin ke pangklan perahu mnju berua.. n ushakan tiba dsana sore hri jam 5an,..biar dpt kunang2 nan indah menjelng magrib..smoga bermnfaat

      Hapus
    2. Dear Purwanti, maaf, saya tidak tahu informasinya :(

      Hapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  7. Welcome bro di makassar.
    jangan bosan menjelajah makassar.
    Makassar itu ramah dan paling penting Makassar tidak kasar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju banget, bro...aku dapet sambutan sangat hangat di Makassar :)

      Hapus
  8. bener-bener perjalanan singkat yaaa mas...

    BTW, itu dari maros menuju bandara kira2 berapa jam mas? mungkin saya kurang lebih akan "niru" itin mas hahaha, dan saya masi belum memutuskan jam kebarangkatan dari makassar - jakarta (ketika pulang). itu mas penerbangan jam berapa kok mais sempet main ke maros dulu??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir di blog dan membaca cerita saya mba, senang rasanya. Maros tidak jauh dari bandara, sekitar 1 - 1,5 jam perjalanan (lebih dekat ke maros dari pada ke makassar hahaha)....kebetulan kemarin saya gak pulang ke jakarta, mba, tapi ke Surabaya, dan sampai surabaya jam 8 malam :)

      Hapus
  9. ohh jadi ambil penerbangan sore yah mas.... ?? mksd saya tuh, apakah saya sempat mampir dulu ke maros, jika jadwal penerbangan saya dari Makassar menuju jakarta itu di sore hari (16.00 wita)... makanya saya tanya brapa jam dr Maros ke Airport, gituuu. Untuk di penangkaran Kupu-kupu apakah ada museum atau kita bisa liat berbagai macam kupu2nya juga ga mas?? trims

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mmmhhh....menurut saya sih keburu kok mba, biasanya kalo saya sih dateng ke bandara 2 jam sebelum terbang, jadi jika jadwal mba terbang jam 16.00 kita asumsikan tiba di bandara jam 14. Nah kalo jam 8 pagi sudah ada di daerah maros, untuk liat-liat ke air terjun bantimurung, trus penangkaran kupu-kupu dan leang-leang itu keburu banget mba (dengan durasi hanya 1 jam di setiap objek).

      Penangkaran kupu-kupu bentuknya seperti kandang yang besar, kemarin sih museumnya lagi renovasi jadi saya gak bisa masuk, dan untuk kupu-kupunya kemarin saya kurang beruntung, saya dateng pas kupu-kupunya sedikit sekali

      Hapus
  10. Terimakasih mas Adi, bisa jadi referensi sy yg mau ke Makassar ni

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mas Ulil, terima kasih sudah mampir ke blog saya :)

      Hapus

Posting Komentar