Rindu yang tersesat di Bukittinggi

Kali ini aku akan berbagi tentang perjalananku ke Bukittinggi, sebuah kota yang menjadi salah satu tujuan wisata di Sumatera Barat, kota  yang memiliki Jam Gadang sebagai simbol kedigjayaan dan saksi bisu dari sejarah pendudukan penjajah pada masa lampau.


Seperti biasa, untuk bisa dapet tiket murah ya terbanglah di jam-jam aneh, seperti saat kemarin ke Sumatera Barat, aku beli tiket Jakarta-Padang untuk penerbangan pertama jam 05.55 WIB. Padahal badan masih capek berat karena baru pulang dari acara kantor selama 2 hari-an di puncak. Oiya, ngomongin acara kantor, aku akan sedikit bercerita tentang kegiatan tersebut, karena memang ada kaitannya sama trip-ku kali ini. Jadi seharusnya itu aku berangkat tanggal 21 Desember 2012 bareng temen-temen yang laen, tiket udah di beli sejak jauh bulan (bukan lagi jauh hari) dan Alhamdulillah dapat promo Garuda Jakarta – Padang PP seharga 700ribu-an, asik gak tuh =)

Laluuuuu….ada acara kantor yang memang gak bisa ditinggalkan karena tanggung jawabku dan lain hal sebagainya, kebetulan memang acaranya mundur-mundur terus dari jadwal semula dengan berbagai hambatan yang ada, akhirnya, jadilah acara itu tanggal 21-22 Desember 2012 di puncak. So, berantakanlah rencanaku hiks hiks hiks……

Seperti dejavu, kejadian ini serupa dengan tripku ke Palembang, pulau yang sama, maskapai yang sama, dengan alasan yang sama, Tuhan punya rencana, maka biarkanlah…..

Karena gak mau rugi dua kali, maka aku pun mencari tiket berangkat Jakarta – Padang yang hangus gak bisa di reschedule karena merupakan tiket promo, harap-harap cemas mengingat kemarin itu merupakan libur panjang natal dan aku nyari tiket udah dekat-dekat waktu keberangkatan. Di saat-saat bikin mules seperti itu, ada seorang kawan bak malaikat memberikan info promo kartu kredit/ debit kepadaku, kawanku yang baik hati dan tidak sombong ini biasa kami panggil om Babul, dari dia aku tau kalau saat itu sedang ada promo beli tiket garuda rute apapun dengan kartu kredit/debit-nya, maka akan cashback 500rb, wew….menggiurkan banget dah, langsung aku beli tiket garuda dengan cara-cara yang diajarkannya, asikkkk.

Maka pagi itu, terbanglah aku menuju padang dengan layanan Garuda Indonesia yang perkasa, penuh sekali penumpang pesawat pagi itu, aku merasa beruntung bisa ada didalamnya, terlebih dengan biaya yang tidak terlalu mahal hehehhhe (untuk ukuran Garuda loh ya). Tidak berapa lama setelah meninggalkan Soekarno – Hatta, pramugari mulai berkeliaran, mereka menawarkan makanan dan minuman kepada para penumpang dengan segala sopan santunnya, aku ingat penerbangan pertama ku bersama Garuda Indonesia ke Palembang dulu, aku tau kalau penumpang akan di tawari minum dan mendapatkan snack berupa roti dan segelas air mineral. Maka ketika ditanya mau minum apa dengan lugas aku menjawab “Fresh Milk” wuihhhh…keren ya hehehhe….Dan setelah secangkir (gelasnya kecil jadi aku nyebutnya cangkir) susu segar sudah ditangan, pramugari itu memberikanku satu nampan kecil yang berisi paket sarapan berupa nasi goreng, buah, sendok garpu, ada tusuk gigi juga, dan tisu basah. Sempet bingung ketika dikasih itu, dan dengan noraknya aku berbisik ke penumpang sebelah “Ini bayar mas??” Jeger!!!! Semoga Tuhan mengampuni ke-nora-anku ini, dan semoga Tuhan tetap mendekatkan jodohku walaupun banyak cewek yang bilang “ya ampun” atau “Ya Allah, norak banget sih si adi” setelah membaca tulisan ini =|

Jadi buat kamu-kamu yang belom tau nih (sombong mode on), di maskapai seperti Garuda itu penumpang dapet makanan kalau penerbangannya lebih dari satu jam (CMIIW), dan kalau gak sampai satu jam seperti saat aku ke Palembang dari Jakarta, dapetnya roti doang (ini sotoy-nya aku aja sih), begitu…..Okey, sesuai yang direncanakan, maka setelah satu jam dua puluh delapan menit mengudara, Garuda Indonesia yang perkasa menjejakkan kakinya di Bandara Internasional Minangkabau – Sumatera Barat.

Berbekal informasi yang kudapat sebelumnya, keluar bandara aku langsung mencari tukang ojek untuk mengantarkanku ke simpang, dari simpang nanti aku akan naik angkutan lagi yang menuju Bukittinggi, rencananya memang waktu dua hari ini akan kumanfaatkan untuk menjelajahi Bukittinggi dan Padang, jadi malam ini aku akan menginap di bukittinggi untuk selanjutnya menuju padang keesokan harinya. Karena tidak juga melihat tukang ojek, aku bertanya pada pak satpam yang kebetulan sedang bertugas di sana, dan gak lama pak satpam itu memanggilkan temannya yang memang seorang tukang ojek, aku berbisik ke pak satpam menanyakan ongkos biasanya ke simpang, dan pak satpam memberitahuku kalau ongkosnya 10rb, dan ketika ku tanya ke tukang ojek berapakah ongkosnya, dia memberiku harga 18rb hehehheh…..tawar menawar, akhirnya sepakat di 15rb, mark up 5rb rupiah ini aku anggap wajar, aku selalu membedakan tarif orang lokal yang memang sehari-hari menggunakan jasanya dengan orang luar yang hanya sesekali, tapi kalo mark up nya lebih dari 10rb, tabok aja!!!

Dari simpang aku menunggu mobil angkutan menuju kota Bukittinggi, kalau dari bandara, kota Bukittinggi dan Kota Padang tuh berlawanan arah, dan jarak tempuh ke Bukittinggi sekitar 1,5 – 2 Jam perjalanan, jangan salah, di sini juga kerap kita jumpai kemacetan loh. Gak lama, muncul mobil avanza yang mencari penumpang, orang lokal menyebutnya travel, kendaraan seperti ini banyak sekali beroperasi di jalur Padang – Bukittinggi, tapi tarifnya relatif sama, dari simpang bandara menuju Bukittinggi aku hanya dikenakan ongkos sebesar 20rb rupiah.

Cukup lama berjalan, dari kejauhan aku melihat air terjun yang sepertinya dekat dengan jalan raya, ahh…itulah air terjun Lembah Anai, gak pikir-pikir lagi, aku langsung meminta berhenti ke pak sopir dan aku pun turun untuk singgah menikmati keindahan air terjun anai walaupun banyak sekali orang di sekitar air terjun saat itu.

Simpang dekat bandara

Air Terjun Lembah Anai

Pintu Masuk Air Terjun/ Air Mancur Lembah Anai

Tiket Masuknya

Air Terjun Lembah Anai terlihat dari kejauhan


Puas di sana, aku melanjutkan perjalanan menuju Bukittinggi, kali ini aku naik angkutan beneran (karena plat kuning) yang berupa elf besar, turun di daerah Jambu Air, aku membayar 10rb untuk ongkosnya, dari Jambu Air ini, kita tinggal mencari angkot warna merah yang mengarah ke jam gadang. Kalo gak salah angkot nomor 14, atau tanya saja, karena hampir semua trayek melewati jam gadang. Rata-rata tarif angkot di bukittinggi 2000 – 3000 rupiah.

Setelah turun di depan sebuah hotel mewah, aku berjalan sedikit ke arah belakang hotel itu, tak lama tampaklah dia, jam gadang yang namanya sudah mendunia, menjadi ikon kota Bukittinggi bahkan ikon provinsi Sumatera Barat. Jam yang menjadi saksi bisu dari sejarah pendudukan belanda dan jepang di kota bukittinggi ini tegak menjulang gagah seolah menjadi pelindung bagi setiap insan yang mencari rizki di sekitarnya.

Sedih baca tulisan diatas

Ramai sekali Jam Gadang siang itu

Jam Gadang

Siang itu jam gadang ramai sangat, aku kurang bisa menikmati suasana dan cukup terganggu dengan kekotoran dan kekumuhan lingkungan di sekitarnya. Maka aku pun segera pergi dari sana dan mencari penginapan, gak jauh dari jam gadang, ada kantor informasi pariwisata, nah di belakang kantor itu ada tangga turun yang bernama Jenjang Gudang, setelah sampai bawah ada beberapa hotel yang tarifnya cukup terjangkau oleh kantongku, aku menginap di hotel Antokan (gak tau kenapa susah sekali mengingat nama hotel ini), sebuah hotel tua kecil yang cukup menyeramkan dari luar, untuk sebuah kamar dengan fasilitas tempat tidur + kursi plastik + meja kaca, aku membayar 100rb saja. Cukup mahal memang karena cuma buat nitip tas dan tidur beberapa jam, tapi tarif itu adalah yang termurah dari banyak hotel yang aku masuki di sana.


Hotel Antokan tampak depan

Kamar seharga Rp.100rb

Setelah menaruh tas, aku langsung melanjutkan perjalan menjelajahi kota Bukittinggi, tanpa bermaksud menyalahkan alam, tapi hujan banyak menghambatku selam trip kali ini, begitu keluar hotel, hujan sudah mulai turun, dan belum lama berjalan, hujan turun beneran. Aku pun berteduh di sebuah emperan toko, hujan akan lama sepertinya, sambil menunggu, aku memperhatikan sekeliling, termasuk ke belakang toko, ternyata di belakang toko itu ada sebuah bioskop tua yang sekitar 15 menit lagi akan memutar film untuk jam pertama, kalau gak salah judul filmnya “Love Is You”, yang main Cherybelle. Iseng, aku pun membeli tiket masuk, 10rb saja.

Well…..kamu gak bisa membandingkan bioskop ini dengan bioskop 21 atau blitz yang biasa kamu jadikan tempat nonton di Jakarta, bioskop ini menggunakan bangku kayu yang tengahnya ada rajutan rotan, di dalam boleh merokok karena memang tidak ada AC, bahkan entah mengapa ada beberapa orang yang nonton sambil menggunakan helm hehehe, dan pemutaran filmnya pun delay sekitar 20 menit dari waktu yang dijadwalkan, lalu kualitas gambar dan suara jauh dari kata bagus, mudah-mudahan kelak teman-teman di bukittinggi bisa segera menikmati hiburan film dengan kualitas yang lebih baik, amin.

Suasana didalam bioskop saat film belum diputar

Gedung bioskop ERI

Tidak sampai 10 menit sejak film diputar, aku keluar dari bioskop itu, hujan pun sudah mulai reda, maka aku lanjutkan perjalanan, dengan berjalan kaki aku menuju lokasi tujuan pertama, yaitu taman panorama. Di depan taman panorama ini ada sebuah museum, namanya museum Perjuangan, karena waktu yang sedikit dan hujan sudah mulai deras lagi saat itu aku gak jadi mampir ke museum perjuangan, aku malah lebih memilih mampir ke tukang sate yang ada di depan taman panorama hadehhhh hehehehehe….

Selesai menikmati sate, aku langsung masuk ke dalam taman panorama, tiket masuknya 4000 rupiah, disini kita bisa menikmati panorama ngarai sianok dari atas, juga bisa bercanda berbahaya dengan monyet-monyet yang ada disana, didalam taman panorama ini ada objek wisata lain yaitu lubang jepang, sebuah lubang (goa) peninggalan masa penjajahan jepang yang (mungkin) dulu digunakan sebagai akses keluar masuk menuju dasar dari lembah ngarai sianok. Karena katanya melalui salah satu pintu keluarnya kita bisa menembus langsung ke dasar ngarai sianok. Sayang memang, untuk bisa masuk ke dalam lubang jepang ini kita dikenakan biaya tambahan sebesar 6000 rupiah, mungkin ini dimaksudkan untuk memberi pilihan kepada pengunjung, apakah hanya ingin menikmati taman panorama dengan membayar sebesar 4000 rupiah, atau menambah biaya sebesar 6000 rupiah untuk masuk juga ke lubang jepang (berfikir postif saja, biar gak BT =)). Aku sempat ditawari pemandu di loket masuk, dan dengan penuh percaya diri aku menolaknya, setelah didalam aku baru merasa itu pilihan yang salah, karena cuma sendirian dan entah mengapa saat itu sepi sekali orang, agak menyeramkan dibawah sana sendirian hiiiii….tapi secara keseluruhan, lobang jepang ini salah satu tempat yang layak kunjung loh, kadar oksigen didalam cukup baik, padahal kedalaman lobang ini sangat dalam. Kalau boleh berpendapat, lobang jepang adalah salah satu potensi wisata yang bisa mendunia, layaknya wisata chu chi tunnel di Vietnam, tinggal bagaimana kita mau dan serius mengelolanya *ngomong apaan sih??*

Loket masuk taman panorama
Pemandangan Ngarai Sianok dari Teman Panorama
Bercanda berbahaya bersama monyet-monyet di Taman Panorama

Secara gak sadar, aku merasa tersesat di dalam lubang jepang, tapi akhirnya ketemu juga jalan keluar dari lubang ini, pas mau keluar, petugas yang ada di pintu saat itu baru saja mau menutup pintunya, aku ditanya apakah hendak keluar atau masuk lagi dan keluar dari tangga jalan masuk tadi? Dengan bingung aku pun memilih keluar, ini karena ngebayangin betapa tinggi tangga jalan masuk tadi, jadi kalo balik lagi dan keluar lewat sana, behhh….berkeringet kayaknya hehehhe. Begitu keluar dan petugas mengunci pintu lalu pergi aku malah makin bingung, mau kemana, cuma memang tadi di informasikan bahwa arah turun adalah menuju dasar ngarai sianok dan arah naik adalah menuju pintu masuk taman panorama, tapi jarak keduanya masih sangat jauh. Dikala bingung itu ada angkot yang mengarah keatas, aku cegat aja dan naik, entah kemana arah tujuan angkot itu hehehehe….Gak berapa lama, setelah sampai diatas, aku melihat sebuah jembatan yang sepertinya sudah familiar, ya…itulah jembatan limpapeh yang merupakan salah satu ikon wisata kota Bukittinggi. Aku langsung turun dari angkot dan berjalan kearah jembatan, dari bawah jembatan tanya-tanya aja arah jalan masuknya, kita bisa masuk lewat kebun binatang atau lewat benteng fort de kock, jebatan limpapeh itulah yang menghubungkan kedua tempat wisata tersebut.

Loket masuk Lubang Jepang

Gerbang masuk lobang Jepang



Tangga turun/naik lobang Jepang


Denah lobang Jepang


Suasana di dalam lobang Jepang

Salah satu kamar di lobang Jepang

Aku masuk lewat Kebun binatang, tiketnya seharga 8000 rupiah, kalau di pikir, ngapain jauh-jauh ke bukittinggi buat liat binatang, tapi jangan salah, didalam kebun binatang ini ada objek menarik lainnya, di dalamnya ada objek Rumah Adat Baanjuang, tapi kita akan kena biaya lagi sebesar 1000 rupiah untuk masuk ke dalam rumah adat tersebut. Lalu seperti yang diceritakan sebelumnya, dari atas jembatan limpapeh kita juga bisa melihat view kota bukittinggi, menyeberang jembatan limpapeh, maka kita sampai di benteng fort de kock.

Jembatan Limpapeh

Karcis masuk kebun binatang

Rumah adat Baanjuang
Rumah adat Baanjuang

Benteng Fort de Kock

Ini dia bentengnya hehehhe

Puas muter-muter disini, aku kembali ke jam gadang dan menghabiskan senja disana. Sore itu di sebuah cafe, di salah satu sudut jam gadang aku duduk berteman ransel hitamku yang setia, Pengennya sih kelak bangku sampingku ini yg ngisi kamu, bukan ranselku. Aku seorang pendengar yg baik, ranselku juga, mangkanya kadang kami gak nyambung, lebih banyak diamnya hehehe...sebuah buku catatan kecil dan pulpen bertinta hitam menjadi penyemarak suasana, saat kopi jahe pesananku datang, perasaanku sedikit lega, ada hangat yang akan menemaniku sore itu.

Ternyata aku salah, hangat itu hanya sesaat, aku yang mendadak gelisah kembali dalam kegelisahan, ahh...aku tau yang sedang terjadi pada diriku, mereka menyebutnya....Rindu.

Aku tersesat dalam rinduku sore itu di bukittinggi, ada kamu yang tiba-tiba datang memukul keras setiap sendi dalam tubuh, mengigil hebat tubuhku melawannya. Belakang ku jam gadang, depanku masih tampak bayangan gunung marapi, sayang banget ya kalo aku nikmati ini sendirian, aku ingin kita berbagi, cukup dalam angan kita saja

Kala malam menyelimuti bumi, dingin kian merasuk, aku pun kembali ke hotel, memejamkan mata mengistirahatkan raga, dan….mendekap rindu yang tersesat =)

Duh ramainya, kabayang kalo pas lebaran :(

Pasar di sekitar jam gadang

Cemilan buat oleh-oleh

Cemilan kue-kue kering
Banyak delman juga lo disana

Jam Gadang

Megah dikala malam

Senin, 24 Desember 2012


Hari kedua pun terbit, kala matahari belum muncul aku sudah keluar dari penginapan, rasa penasaran dan kagum pada kemegahan jam gadang mengundangku untuk mengunjunginya sekali lagi. Ahh…sayang, sampah merusak imajinasiku pagi itu, seperti tidur nyenyak yang dibangunkan oleh guyuran air dingin, kaget, shock, sedih melihat lingkungan seputar jam gadang ini =(

Sudahlah, yuks kita nikmati keindahan jam gadang di pagi hari ini, dan pemandangan luar biasa di sekitarnya.

Haduhhhh....

Gunung Marapi

Jam Gadang dengan latar belakan gunung Singgalang


Hari masih pagi, aku melangkah pergi meninggalkan jam gadang, tujuan ku selanjutnya adalah rumah kelahiran Bung Hatta yang terletak tidak jauh dari jam gadang. Kutelusuri pasar atas yang saat itu belum sepenuhnya buka, hingga tibalah aku di sebuah daerah bernama jenjang 40, tepat di depan Banto Trade Center, menyenangkan jalan-jalan pagi di daerah ini sambil membeli cemilan berupa kue-kue pasar atau pisang goreng. Dari depan Banto Trade Center ini (Jl. Soekarno-Hatta) kita tinggal jalan beberapa meter lagi maka kita akan menemukan rumah kelahiran Bung Hatta.

Rumah kayu bercat perpaduan putih dan abu-abu itu terlihat terawat sekali, bersih dan resik. Rumah ini terbuka untuk umum setiap hari mulai pukul 08.00 WIB. Tidak ada biaya untuk masuk kesini, namun pengunjung akan diminta untuk registrasi dan berpartisipasi menjaga kebersihan dalam bentuk sumbangan hehehhehe….

Rumah kelahiran Bung Hatta

Bagian dalam rumah kelahiran Bung Hatta

Bagian dalam lantai atas rumah kelahiran Bung Hatta


Setelah puas melihat-lihat di rumah kelahiran Bung Hatta, aku langsung menuju hotel untuk check out, aku pun melewati jalan yang sama dengan berangkat tadi, di tengah pasar aku menemukan lokasi kuliner yang sepertinya menarik, ya….disana banyak pedagang nasi kapau dan ketupat sayur, nama daerahnya adalah pasar atas. Ketika nanti kamu pergi ke sini juga, sempatkanlah mampir, makanlah nasi kapau salah satu kuliner khas minangkabau, nikmati rasa khas kuliner minangkabau ini langsung dari tempat asalnya. Aku makan nasi kapau uni lis dengan lauk ayam gulai, ketika membayar sebesar 20rb, yang di tanya oleh pedagangnya adalah berapa orang, bukan makan pakai apa, dari situ aku berkesimpulan kalau makan di warung nasi kapau seperti ini yang dihitung adalah orangnya, gak tau kamu mau makan pakai apa dan minumnya apa, harganya sama (lagi-lagi ini sotoy nya aku aja sih).

Nasi Kapau uni Lis

Wisata kuliner

Enak buat sarapan


Sekitar jam 11 aku check out dari hotel, dan aku bimbang, antara langsung ke padang atau melihat Danau Maninjau walau sekejap, jarak yang tidak terlalu jauh dari bukittinggi sungguh menggodaku untuk pergi ke Danau Maninjau, akhirnya ditengah kegalauan itu aku putuskan untuk jalan ke Danau Maninjau saja. Aku naik angkot untuk menuju terminal Aur Kuning, ongkosnya sebesar 3000 rupiah, di dalam terminal, aku mencari mobil/bis harmoni, nama mobil harmoni ini aku dapat dari hasil googling sebelumnya, mobil ini merupakan mobil elf yang rutenya melewati Kelok 44 dan Danau Maninjau, untuk ke Danau Maninjau ongkosnya sebesar 15rb.

Dalam perjalanan aku tertidur, dan itu sangat merugikan, karena dalam perjalanan pulang aku melihat banyak sekali tempat-tempat indah yang dilalui dan aku lewatkan begitu saja, aku terbangun ketika mobil sudah berada di kelok 30-an, dari sisa kelok ini saja aku sudah sangat kagum dengan apa yang kulihat, indah, subhannallah…..hanya itu, ya hanya itu yang bisa aku rasakan. Jangan tinggalkan Sumatera Barat sebelum engkau menyapa Danau Maninjau, datanglah saat padi menghijau sebelum menguning, saat awan berarak menghias langit, atau saat adzan maghrib berkumandang. Lewatilah kelok 44 yang melegenda, lihat, rasakan, dan tinggalkan dalam kenanganmu.

Tujuanku saat itu adalah sebuah objek wisata yang bernama muko-muko, aku gak tau itu tempat apaan, cuma ya katanya salah satu tempat favorit wisata di Danau Maninjau. Gak berapa lama setelah melewati sebuah mesjid yang cukup ramai dan besar di daerah pinggir Danau Maninjau, kami ketiban sial, ban mobil yang kami tumpangi pecah, suaranya sempat menimbulkan kepanikan pada penumpang, beruntung sopir dengan cekatan bisa mengendalikan situasi walaupun saat itu mobil lari dengan kecepatan tinggi. Aku lihat jam, aku lihat mendung mulai mengelayut menutup Danau Maninjau, rasanya tidak mungkin aku lanjutkan perjalanan ini, rasanya tidak akan keburu aku mencapai Padang di kala sore hari, maka aku putuskan putar balik saja, aku menyeberang dan menyetop beberapa kendaraan pribadi yang biasanya memang digunakan juga sebagai travel. Ya, ada yang berhenti, sebuah avanza dengan keluarga di dalamnya yang kebetulan juga menuju Bukittinggi. Hingga daerah Jambu Aer di Bukittinggi tak ada lagi penumpang yang naik mobil itu, aku sudah khawatir sekali akan di kenakan tarif yang tinggi, tapi alhamdulillah, sopir mobil itu hanya minta 20rb untuk tarif nya.

Salah satu view Danau Maninjau
Jalan bertumpuk dan berkelok seperti ini akan kita lalui sebanyak 44 kelok
Jangan bersedih, manfaatkan saat-saat seperti ini untuk lebih mengenal penduduk lokal

Di Jambu Aer ini akan banyak travel-travel serupa menuju padang, aku dikenai 30rb untuk tarifnya, travel ini akan mengetem lama menunggu penumpang cukup penuh, kata mereka sih cukup 4 orang sudah bisa jalan. Hujan deras sekali saat itu, aku pun gak tau mau kemana di Padang nanti, tapi yang pasti aku harus di Padang malam ini, karena besok penerbanganku menuju Jakarta itu jam 5 pagi.

Cukup menyeramkan jalur Bukittinggi-Padang di kala hujan lebat, pepohonan besar sepanjang jalan menjadi menakutkan kala mereka diselimuti kabut, air sungai di sisi jalan pun beriak keras, di beberapa titik bahkan menggenangi jalan hingga menyebabkan kemacetan, longsor pun menjadi ancaman serius, Kekaguman sekaligus rasa takut semakin menjadi takkala tiba di Lembah Anai, Tuhan…..air yang jatuh dan mengalir di sana sungguh menyeramkan, tanpa sadar debit air bisa meninggi drastis, atau bisa saja ada potongan pohon tumbang yang terbawa arus dan jatuh, serem hiiiii…..

Alhamdulillah kami tiba dengan selamat di kota Padang, hujan masih turun deras sore itu, aku pun turun di sebuah jembatan di daerah Besco, Besco ini adalah sebuah mall di kota padang, sebelahnya ada hotel mewah dengan nama yang sama. Aku istirahat sejenak di salah satu pos keamanan di mall itu, tidak lama aku asyik mengobrol dengan seorang bapak yang rupanya pengemudi taksi gelap (travel), aku mencari informasi tentang transportasi termurah dan termudah ke bandara minangkabau untuk keesokan paginya, dan tampaknya yang paling memungkinkan dan aman untuk jam segitu ya hanya taksi gelap ini, tarifnya sama dengan taksi resmi (resmi atau ngak ya?? Soalnya gak ada argo sih) yaitu 100rb untuk ke bandara. Dengan segala pertimbangan aku mengiyakan tawaran bapak tersebut untuk menggunakan jasanya. Mahal?? Iya lah…mahal banget =(

Beres urusan mobil ke bandara aku tinggal mencari penginapan, berbekal sisa tenaga yang ada dan hujan tidak tampak akan berhenti, aku terus berjalan mencari, sekitar jam 11 aku menyerah, aku tidak mendapat penginapan, lagi pula sudah hampir tengah malam, jadi hanya sekitar 4 jam aku akan menggunakan penginapan itu, ahh…rugilah, sudah bayar mobil mahal, tambah pula bayar penginapan untuk 4 jam, disaat seperti itu aku melihat sebuah warnet dan timbul ide, mengapa tidak menghabiskan waktu di warnet saja, warnetnya lesehan lagi dan yang pasti bisa lebih murah dibanding sewa penginapan, yes….

Ternyata warnet itu tutup jam 2-an, lumayan, dari jam 2 kesananya ya gimana nanti sajalah, yang penting gak terlalu dingin kehujanan. Begitu login, aku langsung membuka facebook, grup Padang Backpacker Community tujuanku, ingin sekali mengucapkan terima kasih kepada teman-teman maya dari komunitas itu yang telah banyak membantu memberikan aneka informasi dalam tripku kali ini, ya sedikit berkeluh kesah sih dengan keadaanku saat itu hehehhe (curcol istilahnya), Alhamdulillah, betapa banyak nikmat yang Tuhan kasih, tidak berapa lama ada dua orang yang memberi komentar pada stastusku, dan rupanya dua orang ini berkawan, selain di komunitas backpacker, ternyata mereka aktif juga di komunitas sepeda di kota padang, dialah bro Jeffri Kun Argon dan bro El Falah Nabila. Tak ada angin dan memang lagi hujan, Mereka berdua mengajakku jalan-jalan seputar kota padang dengan mobil malam itu, jelas ini tawaran yang sulit untuk ditolak, walau masih hujan dan gelap, tak apalah, minimal aku jadi juga keliling-keliling kota padang. Maka aku pun langsung meng-iyakan ajakan tersebut, dan gak berapa lama bro Jeffri sudah menjemput  di depan Besco. Selanjutnya menjemput bro El Falah dan berputar-putarlah kami di kota Padang malam itu.

Sekitar pukul 1 kami menyudahi tur singkat ini, setelah mengantar bro El Falah ke rumahnya, bro jeffri menitipkan ku di salah satu temannya yang berdagang nasi goreng yang memang buka hingga pagi, ahhh….malam yang luar biasa, dengan membeli segelas kopi dan kwetiau rebus seharga 15rb, aku menunggu jemputan jam 4 pagi nanti di tempat itu, bukan lumayan lagi, keren abis bro. Gak ada wifi sih hehhehe….tapi di warung itu ada televisi yang menjadi sarana hiburan. Kekurangan lain dari warung ini tidak dilengakapi sarana MCK yang baik, sehingga dikala perut mules ingin ke toilet, aku harus menahannya hingga di bandara nanti hahahhaha (udah pengen murah, pake protes lagi ya =D. Oiya, sedikit bercerita tentang nasi goreng Maskin ini, informasi yang aku dapat, dia bernama asli mas tukiman, nah bapaknya bernama Mas Kin, seorang perantauan dari jawa, saat ini usaha nasi goreng dengan nama Maskin sudah ada 3 cabang di kota padang...mantap kan heheheh..

Ini dia TKP nya...


Sesuai waktu yang disepakati aku dijemput di depan warung nasi goreng mas maskin, jalanan kosong menyebabkan jarak tempuh menjadi cepat, padahal menurut pak sopir mobil tersebut, setiap pagi dan sore kawasan itu macet, seperti layaknya Jakarta, para pekerja di kota Padang pun banyak yang berdomisili di kota-kota satelit sekitar padang.

Selesai urusan adminsitrasi, aku langsung menuju toilet untuk melaksanakan urusan yang tertunda, Bandara Internasional Minangkabau sudah cukup ramai pagi itu, jam 5.55 WIB sesuai yang tertera pada tiket, pesawat pun lepas landas, dan tiba satu jam dua puluh delapan menit kemudian dengan selamat di Soekarno-Hatta. Alhamdulillah.

Indonesia itu surga, kawan. Takkan pernah cukup usia untuk kita menjelajahinya !!!

Selama perjalan ini, aku banyak dibantu oleh berbagai pihak, terima kasih banyak atas segala bantuan, semoga Tuhan senantiasa melimpahi berkah dan kesejahteraan bagi semua. Terima kasih tak terhingga aku ucapkan pada :

1. Oeyoem, sayang lo gak jadi ikut ke Padang
2. Om Babul untuk informasi tiket promonya
3. Temen-teman di Padang Backpacker Community untuk segala informasinya
4. Spesial buat bro Jeffri Kun Argon dan bro El Falah Nabila....terima kasih buat bantuannya ya
5. Mas Maskin, terima kasih udah boleh numpang sampe subuh :)
        
Saya bisa di hubungi via email di adinugraha84@gmail.com atau twitter @adisn84 ^_^

Komentar

  1. Mnrt survey (saya), antokan mmg termurah...
    Kl g kuat body, jgn berani2 mandi pagi.....dingiiinnnn pollll
    Btw kyknya, itu kamar yg sama pas dulu sy inap
    Inap berdua....mesra di kamar.....saling tatap, tak berani bicara
    Saya dan sepeda....hahahhahaha

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah om, kemaren ngerasain dinginnya air pagi di antokan hehehhe

    BalasHapus
  3. Nice story mas,
    dapet petunjuk bt ke maninjau pakai angkot hehe
    salam kenal dari Batam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir, salam kenal juga, doakan saya suatu hari bisa singgah di Batam hehehehe

      Hapus
  4. He... Heeee..., waktu bro di dalam bioskop aku juga ada lho, heran aja lihat bos duduk di pojok kiri belakang motret motret gitu. Kira in wartawan. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hooooo....serius??? wah hahahahhaha....

      Hapus
    2. Hihiiiiiii,, :D dua rius malah bro,

      Hapus

Posting Komentar