Saat Linto dan Dara Baro Berjumpa

Saat Linto dan Dara Baro berjumpa

Kesibukan sudah terlihat selepas subuh tadi, beberapa ibu hilir mudik di dapur menjalankan perannya masing-masing. Memasak dan membuat kudapan tentu saja menjadi kegiatan utama, berusaha untuk menyajikan hidangan terbaik bagi tamu-tamu yang akan hadir nanti. Ada pula ibu yang membersihkan lantai rumah lalu mengelar karpet dan tikar, membuka beberapa jendela serta pintu yang membuat hawa segar seketika memenuhi ruangan.

Sementara aku, lebih memilih berada diluar rumah. Membantu para pria merapihkan letak kursi tamu dan membersihkan sudut-sudut halaman yang kotor. Tampak seorang pria muda sibuk mengangkut air dari sumur ke dapur, ada yang membereskan peralatan katering dan menatanya di tempat-tempat yang telah disiapkan. Tampak pula seorang bapak yang sibuk menyetel peralatan pelantang suara, suara bapak tersebut dominan kami dengar pagi itu. "Tes..tes..satu..dua..tiga..percobaan", begitu ucapnya berulang-ulang.

Hari itu akan menjadi hari yang melelahkan. Semua sibuk, namun terlihat bahagia. karena hari itu adalah hari yang istimewa.

Rabu, 12 Agustus 2015. Dalam sebuah perjalanan dari Medan menuju Banda Aceh aku sempatkan untuk mampir dan bermalam di rumah seorang teman yang berada di kota Lhokseumawe. Aku senang saat mengetahui bahwa temanku yang juga bekerja dan tinggal di Jakarta tersebut, sedang berada di Lhokseumawe untuk menghadiri pernikahan adiknya. Perjalananku menjadi lebih berwarna, tidak hanya Banda Aceh dan Sabang yang dapat kusambangi, tetapi Lhokseumawe pun dapat kusinggahi.

Saat singgah di kota Lhokseumawe

Pagi yang cerah, warna-warni pelaminan yang didominasi oleh warna hijau, kuning, merah dan emas semakin bercahaya kala sinar matahari pagi menyapa. Kain warna-warni tersebut tidak hanya pada pelaminan saja, hampir seluruh dinding dalam rumah ditutupi oleh kain dengan warna-warna serupa. Meriah dan mewah.

Pelaminan khas Aceh yang kaya warna

Salah satu jenis hidangan yang disuguhkan

Siang pun menjelang, ijab kabul pernikahan telah dilaksanakan beberapa jam yang lalu. Menjelang resepsi, sanak keluarga pengantin wanita bersiap menyambut kedatangan rombongan pengantin pria. Permadani berwarna merah telah digelar, diatasnya telah bersiap pula lima orang penari Aceh yang akan menjadi bagian dari prosesi penyambutan. Rombongan yang dinanti pun tiba, dipimpin oleh sesepuh dan diikuti oleh sang pengantin pria juga iring-iringan yang membawa seserahan bertutupkan kain kuning cerah menyala.

Iring-iringan pengantin pria yang dipimpin sesepuh

Pengantin pria (baju hitam) dalam balutan pakaian adat Aceh

Seserahan yang merupakan bagian dari iring-iringan pengantin pria

Linto (sebutan pengantin pria Aceh) tampak gagah dalam balutan busana hitam dengan sulaman berwarna emas. Rencong yang merupakan senjata khas Aceh terselip kokoh di kain sarung yang terlipat pada pinggang. Linto tampak semakin gagah dengan Kupiah Meukeutop yang merupakan penutup kepala khas yang sudah menjadi warisan tradisi turun temurun masyarakat Aceh. Kegagahan Linto tentu seimbang dengan keelokan Dara Baro (sebutan pengantin wanita Aceh), mulai dari Culok Ok (tusuk sanggul) tiga tingkat yang dipadukan dengan rangkaian bunga mawar berwana merah jambu, baju adat berwarna merah dan aneka perhiasan serta goresan tinta daun inai (pacar) yang terlukis indah pada lengan Dara Baro. 

Tidak lama kemudian, alunan musik khas mengalun syahdu. Para penari mulai melakukan gerakan tarian tradisional Aceh, tari Ranup Lam Puan namanya. Sebuah tarian yang menggambarkan keramah tamahan tuan rumah dalam menyambut tamu. Tarian yang memadukan gerakan memetik, membungkus dan menghidangkan sirih kepada tamu sebagai rasa hormat seperti kebiasaan yang ada pada masyarakat Aceh sejak dahulu kala. Dalam bahasa Aceh sendiri, Ranup dapat diartikan sirih, Lam artinya dalam, dan Puan berarti tempat sirih khas Aceh. Salah satu artikel kebudayaan mengatakan bahwa dalam masyarakat Aceh, sirih dan puan adalah perlambang kehangatan persaudaran. Selain sebagai hidangan penyambut tamu, ranup atau sirih mempunyai peran yang penting dalam kegiatan adat masyarakat Aceh, sehingga selalu ada dalam berbagai prosesi mulai dari pernikahan, khitanan, hingga prosesi pemakaman.

Para penari menarikan tari Lanup Lam Puan

Tari Lanup Lam Puan menyambung rombongan pengantin pria

Saat Linto dan Dara Baro berjumpa, semesta tersenyum kepada mereka. Terucap janji sehidup semati, arungi samudera rumah tangga dengan iringan ribuan kebahagiaan. 


Linto dan Dara Baro

Selamat menempuh hidup baru, Linto dan Dara Baro.

-Lhokseumawe, Agustus 2015-


Komentar

  1. Baju dan dekorasi full color, meriah melibatkan banyak orang kaya drama kolosal dari penari,pemain music, bawa seserahan..wih..Indonesia kaya budaya n alam nya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup...semoga kekayaan tersebut lestari yaa :)

      Hapus
  2. Senang deh masih ada yang mempertahankan tradisi pernikahan seperti ini. Walau terkadang berat di biaya T_T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mbak, pesta pernikahan adalah salah satu kegiatan dimana kita masih bisa melihat tarian atau upacara adat tradisional

      Hapus
  3. http://www.lileu.web.id/2016/10/foto-pelaminan-aceh-terbaru-oktober-2016.html

    BalasHapus

Posting Komentar