Menggenggam Pasir Merica di Pantai Kuta


Hallo semua, maaf sekali nih kelamaan tidak meneruskan cerita tentang lombok, sibuk, buk, buk, buk.....hehehehe. Oke, sekarang ijinkan aku untuk melanjutkan cerita perjalananku di hari ke-3 di Lombok, selamat membaca, semoga bermanfaat.

Alarm handphone-ku berdering menandakan hari-hariku di Gili Trawangan akan segera berakhir, bergegas aku mandi dan re-packing, lalu pamit kepada mas penjaga penginapan. Dalam perjalanan menuju dermaga aku melihat Ragil (baca : Lombok Yang Hampir Terlupakan) sedang makan di sebuah rumah makan sederhana di dekat pasar sayur, mungkin rumah makan itu yang Ragil maksud dengan rumah makan lokal dengan harga terjangkau. Ya, kemarin saat aku mengeluhkan harga makanan yang cukup mahal di Gili Trawangan (untuk ukuranku), Ragil memberitahukan aku tentang sebuah rumah makan di dekat pasar sayur yang harga makanan-makanannya cukup murah, lalu singgahlah aku disana untuk sarapan.



Selesai sarapan kami bergegas menuju dermaga, ragil agak santai karena memang dia mau naik kapal yang jam 8, sedangkan saya terburu-buru karena sudah janjian sama mas Imam (baca : Satu Hari Lagi di Gili Trawangan) untuk naik kapal yang jam 7. Tiba di dermaga aku kaget setengah mati,kapal yang jam 7 ternyata sudah siap berangkat, padahal saat itu belum jam 7 dan aku pun belum beli tiket. Kulihat mas Imam dan istri sudah di kapal, melambaikan tangan kepadaku dan menyuruhku untuk bergegas. Akhirnya tanpa beli tiket lagi aku langsung naik ke kapal, terserah, apalah yang akan terjadi nanti, yang penting aku ikut kapal itu.

Ditengah perjalanan kami yang tidak memiliki tiket diabsen, dan kami di minta untuk membayar ke awak kapal sesuai harga tiket ketika tiba di pelabuhan bangsal nanti. Dan, nikmat Tuhan pun datang pagi itu, saat mas Imam tahu aku tidak memiliki rencana apapun hari itu, bingung tidak tahu mau kemana, sendiri dan merana (lebay ahh), dengan penuh rasa persaudaraan yang tinggi (padahal mah kasian ke aku kali ya), mas Imam pun menawari aku untuk ikut dengannya. Jadi rencananya mas Imam dan istri akan pergi ke Monkey Forest di daerah Pusuk, lalu ke Desa Sade, pantai Kuta dan terakhir ke Senggigi karena malam ini mereka akan menginap di Senggigi, maka tanpa pikir panjang aku mengiyakan ajakan mereka.....uhuyyyy.

Tiba di palabuhan bangsal, kami memutuskan untuk berjalan kaki menuju tempat parkir dimana taksi pesanan mas Imam sudah menunggu, tanpa ba-bi-bu kami langsung menuju daerah pusuk, Lombok Utara. banyak yang bilang pusuk itu artinya puncak, dan memang tempat ini berada diketinggian dengan pemandangan hutan yang indah dan sejuk, dan daerah pusuk ini merupakan habitat dari puluhan (bahkan mungkin ratusan) monyet, jadi jangan lupa untuk bawa 'oleh-oleh' makanan kecil untuk monyet-monyet disana, namun usahakan memberikan makanan tanpa bungkusnya, karena monyet tidak mengerti cara membuang sampah pada tempatnya. Dan oleh karena monyet tidak mengerti cara membuang sampah pada tempatnya,kita jangan sampai menjadi manusia yang tidak mengerti buang sampah pada tempatnya.



Salah satu penghuni Pusuk :)

Panorama di daerah Pusuk

Dari Pusuk kami menuju Pantai Kuta, Pantai Kuta di Bali?? Bukan, bukan pantai Kuta yang di Bali, Lombok pun memiliki pantai yang bernama pantai Kuta, letaknya di Lombok Selatan, dan sebelum sampai di Pantai Kuta, kami singgah sesaat di Desa Sade, Lombok Tengah. Desa Sade ini adalah sebuah desa/dusun yang masih mempertahankan adat suku sasak (terutama dari tata letak perkampungan dan bentuk rumah). Kalau datang ke Desa ini, aku sangat menyarankan untuk menyewa guide, biar lebih informatif saja, mereka tidak pasang tarif kok, alias seikhlasnya :)



Gapura Desa Sade



Desa ini adalah salah satu pusat pengrajin kain tenun sasak

Aneka kain tenun sasak yang di jual di depan rumah

Menenun

Selesai di Desa Sade, kami langsung menuju Pantai Kuta. Masya Allah gan, panorama pantai kuta Lombok ajibbbbbb banget gan!! Suwer melewer deh, bayangkan, begitu tiba di siang yang terik itu, mata kami langsung disuguhi biru laut dengan garis pantai yang unik, belum lagi pasir putih yang bentuknya bulat-bulat halus menyerupai biji merica, lalu jika kita mengalihkan pandangan ke sekitar, kita akan melihat bukit2 yang seolah berusaha menyembunyikan keindahan pantai kuta ini. Subhannallah.....


Pantai Kuta Lombok

Pasir Pantai Kuta yang berbentuk mirip biji merica

Panorama Pantai Kuta Lombok


Oiya, berdasarkan cerita yang saya dengar, dan membaca beberapa referensinya di google, ternyata satu kali dalam satu tahun diadakan upacara Bau Nyale, berikut artikel tentang Bau Nyale yang aku ambil dari id.wikipedia.org :

"Nyale (atau disebut Bau Nyale di Lombok) adalah upacara perburuan cacing laut untuk menyambut Pasola. Biasanya acara ini diselenggrakan sekitar bulan Februari dan Maret. Untuk menyambutnya biasanya masyarakat telah melakukan berbagai macam ritual dari jauh-jauh hari. Salah satunya dilakukan di rumah masing-masing, malam hari sebelum upacara dilakukan.

Beberapa ritual yang dilakukan biasanya adalah potong ayam dan membuat ketupat. Ini disebabkan karena ritual ini erat kaitannya dengan kegiatan Pasola untuk melihat baik dan buruknya nasib seseorang yang akan ikut dalam Pasola.

Sang pemimpin adat atau rato melihat hasil olahan ayam dan ketupat. Apabila ayam panggang masih mengeluarkan darah dari ususnya, dan ketupat yang telah masak, ada yang berwarna merah, atau kecoklatan, maka diyakini ini merupakan pertanda buruk. Yakni anggota keluarga yang ikut Pasola, akan mendapat bahaya, seperti menderita luka-luka, atau bahkan meninggal dunia.

Ketika malam semakin larut, para rato yang bertugas mengamati munculnya bulan purnama, segera bersiap-siap memakai pakaian kebesaran rato (Atau biasa disebut rowa rato). Biasanya ritual ini dilakukan dengan cara berdoa di atas batu kubur (nisan) dan menghadap ke arah bulan purnama.

Dengan menghadap ke arah bulan purnama, para rato bisa memastikan ketepatan dan posisi bulan, serta keadaan gelombang laut di pantai. Dari situlah akan diputuskan saatnya nyale. Begitu nyale atau cacing laut sudah terlihat, seluruh warga yang telah berkumpul sejak subuh, memulai perburuannya.

Tradisi ini biasanya dilakukan pula oleh masyarakat Bali dan Lombok tapi biasanya tidak disertai dengan Pasola"

Selesai sudah 'muter-muter' hari ini, kami pun diantar ke Senggigi oleh sang sopir taksi, dalam perjalanan kami mampir ke daerah Cakranegara untuk mencari oleh-oleh, Cakranegara adalah sebuah kota yang cukup besar di Lombok. Menurut bapak sopir taksi yang mengantar kami, Cakranegara adalah kota terbesar kedua di Lombok setelah Mataram, kotanya cukup menyenangkan, dan terdapat sebuah objek wisata bernama Taman Mayura

Senja menyambut kala kami tiba di Senggigi, taksi mengantarkan mas Imam dan istri terlebih dahulu ke penginapan mereka, saat membayar taksi aku berbisik sambil harap-harap cemas ke mas Imam, "Patungannya berapa nih mas??" dan dia menjawab "Udah gak usah" Yuhuuuu.....*dancing*

Aku turun di depan happy pub yang sangat hit di Senggigi ini, dari situ aku menyeberang dan  berjalan masuk ke arah perkampungan untuk mencari penginapan dan akhirnya aku dapet penginapan di Raja`s Guesthouse dengan harga yang cukup bersahabat. Sore itu aku akan bertemu dengan seorang kawan pejalan dari jakarta yang kebetulan sedang berada di Lombok, rencananya besok kami akan pergi ke daerah Sekotong dengan beberapa teman dari Lombok Backpacker.

Setelah mandi, aku pergi keluar penginapan untuk mengejar senja, cuaca sangat bersahabat sore itu, dengan diantar oleh ojek aku pergi ke daerah Malimbu, beberapa orang yang aku temui merekomendasikan Malimbu sebagai salah satu spot terbaik untuk melihat sunset, dan aku setuju.




Panorama di daerah Malimbu

Panorama di daerah Malimbu

Sunset dari Malimbu

Sunset dengan Gunung Agung dalam frame

Yuhuuuuu....

Suasana sekitar di Malimbu

Dalam perjalanan pulang nemu panorama seperti ini


Temanku Nico tiba ketika malam sudah menggelap, kami berbincang sesaat lalu masing-masing dari kami terlelap dan membiarkan setiap letih menguap.


Indonesia itu surga, kawan. Takkan pernah cukup usia untuk kita menjelajahinya !!!


-Senggigi, Lombok, Nusa Tenggara Barat 10 Mei 2013-  

Komentar

  1. pernah ke tempat ini dan menurut saya keren abis dibanding kuta di bali heheheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya malah belum pernah ke Kuta yang di Bali hiks hiks hiks.....tapi sepertinya saya setuju, ditambah Kuta Lombok belum terlalu ramai :)

      Hapus

Posting Komentar