197 Kilometer, Sebuah Perjalanan yang Memang Aku Butuhkan


Saat kami keluar dari jalan utama, berbelok ke kanan menuju kawasan Kebun Raya Cibodas, aku tidak bisa berkata-kata lagi. “It`s my dream,” ucapku dalam hati.

Motor kami pacu melambat, seakan sudah tidak ada lagi yang kami kejar. Titik tujuan lambat laun terlihat. Sekitar pukul 01.30 kami tiba. Malam sudah lalu, namun pagi belum menjelang. Kubuka sedikit kancing jaket dan kaca helm, terpaan udara dingin sungguh menyenangkan.

Di kanan kiri jalan masih banyak pria berjaket tebal dan topi kupluk, memainkan sinar lampu senter lalu berteriak “Pila”. Teriakan dimaksud merujuk pada Vila atau penginapan yang mereka tawarkan. Tetapi kami tidak berhenti, kami terus melaju mendekati ujung dari jalanan ini.

Kedatangan kami jelas menarik perhatian. Saat itu situasi di kawasan Kebun Raya Cibodas sangat sepi. Kehadiran 20 sepeda motor secara bersamaan nampak seperti secercah harapan bagi para pemilik warung di sana. Sayang, hanya satu yang beruntung. Warung yang menyajikan mie rebus dengan saos sachet yang dimasukkan ke dalam kuah.

 

Juli 2018, adalah kisah perjalanan menyenangkan lainnya. Bersama teman-teman Trip Mania, untuk pertama kalinya aku mengunjungi kebun raya yang bukan Kebun Raya Bogor. Kami menginap satu malam di sebuah penginapan yang baru saja aku lalui. Di akhir perjalanan aku berucap ingin kembali ke Cibodas dengan menggunakan sepeda motor. Maka terjadilah. Alhamdulillah.

Perjalanan kali ini bukan saja tentang mimpi yang jadi nyata. Lebih dari itu, perjalanan ini adalah perjalanan yang memang aku butuhkan. Terutama untuk keseimbangan dalam jiwa. Healing kalau istilah kerennya.

Aku butuh udara baru, butuh suasansa baru, butuh pengalih perhatian. Kami memulai pekerjaan di tahun 2022 dengan luar biasa. Hampir tanpa jeda. Ada saja pekerjaan yang harus dilakukan bahkan di hari libur dan akhir pekan. Siklus tidur mulai terganggu, entah kenapa penyakit lama datang kembali. Sulit rasanya bisa mencapai 8 jam tidur dalam satu hari. Kualitas tidur? Jangan ditanya. Setiap satu jam aku terbangun dalam kondisi kaget. Seolah diingatkan ada pekerjaan yang belum diselesaikan.


 

Itu sebabnya aku sangat bersyukur dan senang berada dalam perjalanan ini. Aku memang menyukainya. Berkendara sepeda motor melintasi malam. Tidak ada kemacetan, minim polusi. Apalagi di kawasan puncak yang udaranya segar.

Terima kasih teman-teman, sudah diajak dalam perjalanan ini.

Bisa dibilang, kami sesungguhnya tidak menginap di Cibodas. Bagaimana hitungan menginap jika pukul 01.30 kami tiba dan pukul 06.00 sudah bersiap untuk trekking ke Air Terjun Cibeureum. Lalu pukul 14.00 kami sudah bersiap untuk kembali ke Jakarta. Mungkin judul tulisan ini bisa diganti menjadi `12 Jam ke Cibodas`. Tapi tidak lah, judulnya sudah keren.

Hujan deras tak tampak akan berhenti saat kami bersiap untuk kembali. Namun diputuskan untuk tetap berangkat dengan menggunakan jas hujan. Keputusan yang menurutku cukup tepat. Keputusan tersebut justru menambah pengalaman baru untukku.


 

Hujan di kawasan puncak sama dengan turunnya kabut. Kami berkendara menembus kabut yang sangat tebal. Baru kali ini aku berkendara motor dengan jarak pandang yang sangat pendek. Rasanya tidak lebih dari 5 meter. Memang tidak ada pemandangan yang dapat dinikmati saat berkendara motor dengan situasi seperti itu. Tapi aku justru sangat menikmatinya. Serasa berada di film-film yang penuh aksi.

Jalanan berkelok, udara basah, kabut tebal, dan kondisi motor yang sehat menjadi kisah yang sangat indah untuk aku ceritakan di kemudian hari. Luar biasa. Semoga dapat terulang kembali.

Pukul 18.00 aku tiba di Salemba. Lalu mulai berpikir, “Kayaknya seru kalau touring sampai Bandung.”

Hahahahahha.

Jakarta, 16 Februari 2022

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar